Home > Journally > Jangan Menduakan Al Qur’an. Pilih Islam atau Pancasila?

Jangan Menduakan Al Qur’an. Pilih Islam atau Pancasila?

BismillahirrahmAl Qur'an dan Pancasilaanirrahim…

Islam adalah Al Qur’an dan Pancasila adalah UUD 45. Kedua ideologi ini adalah dasar hidup yang berbeda asal-usul dan tujuannya. Apa tujuan Alloh menciptakan manusia tentunya sudah sangat diketahui oleh kita semua. Dalam surat Al Mujadilah ayat 11 Alloh berfirman bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah (mengabdi, menganut faham dan ideologi) hanya kepadaNya dengan segala aturan yang telah dicatat dalam Al Qur’an. Lalu apa tujuan Soekarno membuat Pancasila tentunya juga sudah menjadi pengetahuan publik Indonesia khusunya, yaitu untuk mempersatukan kemajemukan bangsa Indonesia. Macam-macam budaya, ras dan agama dari Sabang sampai Merauke haruslah disatukan dalam sebuah ikatan agar Indonesia tidak terpecah belah.

Manusia berlomba-lomba membuat filosofi hidup untuk digunakan sebagai pedomannya. Fasisme, komunisme, nasionalisme, sosialisme dll yang lahir dari para filsuf barat yang kemudian dianut oleh banyak manusia di dunia. Adalah Pancasila, sebuah faham dan ajaran hidup yang diciptakan oleh seorang manusia bernama Soekarno untuk menyatukan bangsa Indonesia. Padahal sudah jelas, hanya ada satu aturan hidup untuk mengatur kehidupan manusia di dunia, dari mulai pribadi, keluarga, masyarakat dan bernegara. Aturan yang sengaja diciptakan oleh Sang Pencipta untuk ciptaanNya, itulah Islam. Tapi banyak manusia yang membantah dan menolaknya. Seolah mereka mampu mengatur manusia lain dengan aturan yang diciptakannya, padahal dia sendiri hanyalah seorang makhluk yang maha lemah, yang tak akan pernah bisa berbuat apa-apa tanpa penciptanya. Maka lahirlah ideologi-ideologi dan faham-faham hidup yang diciptakan manusia sebagai tandingan ideologi Alloh. Disinilah letak kesombongan manusia. Mereka bertindak sebagai Tuhan yang menciptakan ajaran hidup lalu membuat aturan, hukum-hukum dalam Kitab Undang-undangnya. Padahal hanya Alloh yang Maha Mengatur, hanya Dialah satu-satunya yang berhak membuat aturan hidup untuk mengatur seluruh aspek kehidupan makhluk ciptaanNya, termasuk manusia.

Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945. Sebuah ajaran hidup baru lahir ribuan tahun setelah ajaran hidup yang paling sempurna di turunkan kepada utusanNya. Bagi kita sebagai umat Islam sudah sewajibnya memegang erat tauhid kita, tetaplah Alloh yang Maha Esa. Tiada Tuhan selain DiriNya, tiada hukum selain hukumNya, tiada aturan selain aturanNya, tiada undang-undang selain Undang-undangNya. Maka akhirnya kita yakini bahwa segalanya adalah berasal dariNya, olehNya dan untukNya. Bukan dari, oleh dan untuk rakyat.

Sebuah kebingungan kini melanda umat Islam Indonesia. Islam dan Pancasila, manakah yang harus dijadikan landasan hidup untuk manusia Indonesia? Sudah saya jelaskan diatas bahwa Islam dan Pancasila tidak akan pernah bisa disatukan, apalagi ada Islam dibawah Pancasila. Sebuah penghinaan yang akan sangat menyakitkan umat Islam di dunia jika Islam berada dalam naungan Pancasila atau demokrasi atau yang lainnya. Hukum Tuhan ada dibawah hukum buatan tangan manusia. Alasan apapun yang membenarkan hal itu tidak akan pernah bisa membawahi ketinggian Islam. Al Islamu ya’lu wala yu’la alaih, Islam itu tinggi dan tidak akan pernah ada yang lebih tinggi darinya. Jika ada yang meyakini bahwa ada aturan lain yang berhak mengatur kehidupan manusia selain Islam maka hukumnya adalah Musyrik dan itu adalah salah satu dosa terbesar.

Tiga tahun lalu, tepatnya tanggal 30 Juli 2006 NU menggelar Munas dan Konbes NU di Surabaya yang mengeluarkan maklumatnya tentang peneguhan Pancasila sebagai idelogi finalnya yang di tandatangani langsung oleh KH.M.A. Sahal Mahfudz dan H.A.Hasyim Muzadi sebagai Ketua PBNU.

Hari ini (10/06) Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Kacung Marijan pun menyatakan hal yang sama yang disampaikannya dalam acara Silaturahmi Kiai dan Peluncuran Buku Negara Pancasila yang digelar di Pondok Pesantren (PP) Al Manshur, Popongan, Tegalgondo, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah (kompas). Ideologi Pancasila sudah final untuk Nahdlatul Ulama (NU). Acara ini pun dihadiri oleh 100 Kyai dari berbagai pesantren dari Jawa dan luat Jawa yang mengamini pernyataan peneguhan ideologi Pancasila sebagai dasar negara itu. Inilah bukti kebingungan umat Islam di Indonesia yang tercermin dari sikap para ulamanya yang salah dalam menentukan pilihan untuk mencari solusi terbaik bagi kemashlahatan bangsa ini. Mereka (para ulama) itu malah memilih aturan hidup buatan manusia untuk mengatur kemajemukan bangsa ini, padahal saya yakin mereka semua tahu sebuah Firman Alloh dalam surat At Taubah ayat 33 dan surat Al Fatah ayat 28 yang menegaskan bahwa Islam itu untuk dimenangkan diatas segala agama. Secara tidak langsung ideologi, hukum, sistem, aturan dan Undang-undang Islamlah yang harus di tegakkan diatas segala aturan yang ada. Tapi kenapa mereka malah menyebutkan bahwa Pancasilalah ideologi final. Seolah tak ada ideologi lain yang lebih baik dari itu. Ini jelas sebuah penyelewengan dan penolakan umat Islam atas aturan agama yang dianutnya sendiri. Perlu diketahui bahwa semua faham hidup yang ada di muka bumi ini membutuhkan tempat untuk pembuktiannya. Ini menjelaskan bahwa setiap faham hidup membutuhkan negara untuk pengaplikasiannya. Maka sungguh sebuah keputusan yang salah jika para ulama itu menetapkan Pancasila sebagai faham hidup yang harus ditegakan di bumi Indonesia ini yang mayoritas penduduknya Muslim dan jumlah Muslim terbanyak sedunia. Malulah kita sebagai umat Islam yang masih menjadi tamu di rumahnya sendiri.

Semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua untuk lebih arif lagi dalam memilih jalan hidup yang harus ditempuh. Jika kita mengaku sebagai Muslim, maka sudah sewajibnyalah Al Qur’an menjadi pedoman untuk mengatur seluruh aspek kehidupan kita. Bukankah Islam itu universal? Bukankah kita semua mengakui itu? Apa masih adakah Kitab Undang-undang sesempurna Al Qur’an? Jangan hanya diam karena selentingan-selentingan yang mengatakan “kita hidup di negara Pancasila”. Apakah dahulu Rasululloh lahir dan berjuang menegakan Islam di sebuah negara Islam?

Wallohualam bisshowab…

About these ads
Categories: Journally Tags:
  1. muslich
    June 11, 2009 at 1:36 am

    hiya sih…kelihatannya kita perlu belajar dulu apa toh itu arti ideologi…sebelum menilai para kiai itu salah…mungkin juga kita yang salah..salam

    • June 11, 2009 at 11:00 am

      waalaikumsalam….
      terimakasih komentarnya..
      Islam dan Pancasila atau Demokrasi Pancasila, bukanlah hal yang sama. Sampai kapanpun tidak akan pernah bisa disamakan. Islam yaa Islam, Pancasila yaa Pancasila.
      Demokrasi Pancasila telah banyak mengutip bagian-bagian Islam (yg dibutuhkan saja).
      Sama halnya dengan Kitab Tadzkirah yang membajak Al Qur’an.

      mau itu Seribu Ulama sekalipun jika meyakini satu hukum saja selain hukum Alloh tetap saja hukumnya “Menyekutukan Illah (sesuatu yang di sembah/dianut)

  2. June 11, 2009 at 10:13 am

    Ketika hukum Tuhan, dalam ushul, didefinisikan sebagai APA YANG DIFAHAMI OLEH AKAL SEHAT SEORANG MUJTAHID ATAS NASH QURAN ATAU HADITS; lalu akal sehat sudah sulit dijaga, dan ijtihad dipikulkan kepada imam-imam mazhab, sementara ulama mazhab hanya membebek dan “males” membekali diri dengan sifat dan ilmu kemujtahidan, jadilah kreatifisme Islam pun MANDUL dalam menjawab berbagai persoalan umat, dan perubahan zaman.

    Dari sudut pandang ini, PANCASILA dan UUD 45 itu buah kreatif ijtihad “mujtahid Indonesia” atau bukti mandulnya ijtihad Islam secara umum? (secara umum karena sampai sekaran, di mana-mana (kecuali Republik Islam Iran mungkin), umat gelagapan tenggelam dalam persoalan-persoalan yang butuh jawaban Islam, tapi tak kunjung ada!).

  3. June 26, 2009 at 8:27 am

    AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0 ( Freeware )

    Download Software AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0
    Al-Qur’an lengkap 30 juz ( 114 Surat + teks & terjemahan (Arab/English/Indonesia))
    Tafsir Quran Lengkap, Penunjuk waktu sholat, 21 bahasa terjemahan Al-Quran, Al-Qur’an Audio with Voice of Shaikh Sudaish (Imam Mecca).
    Download Gratis Sekarang . Link Download http://www.mediafire.com/?nmodznzz2jz

  4. February 8, 2010 at 4:51 pm

    OP: I could be daff (lord knows I have been told lol) but that made absolutely no sense…

  5. Cinta Pancasila
    June 1, 2010 at 4:55 am

    Ini Indonesia bung, negara dengan beragam agama dan suku, sudah sepantasnya pendiri bangsa ini dan rakyat Indonesia sekarang ini berusaha melestarikan Pancasila sebagai dasar negara dan pribadi bangsa. Sebagai individu dan manusia beragama, silakan praktekkan ajaran agama, namun sebagai warga negara Indonesia, ada aturannya sendiri. Kecuali jika memang Indonesia adalah negara Islam, sah-sah saja memperjuangkannya, tetapi kenyataannya, Indonesia sejak dulu bukan negara Islam. Mengubah negara Indonesia menjadi negara Islam berarti sudah mengkhianati cita-cita pendiri negara ini.

    • June 2, 2010 at 2:14 pm

      IA saya pengkhianat pendiri negeri ini yang telah mencoret 7 kata dalam piagam jakarta yang kini disebut pancasila…
      Tapi anda bisa dibilang pengkhianat Pencipta Alam semesta ini yang mewajibkan AL QUR’AN sebagai satu-satunya pedoman seluruh aspek kehidupan, termasuk negara.

  6. saepudin
    August 10, 2010 at 1:58 am

    saya setuju dengan pemahaman anda !
    al-qur’an petunjuk paling sempurna di alam semesta dan tidak ada yang dapat menyaingi petunjuk yang telah ditetapkan oleh Allah S.W.T raja alam semesta yang Maha mengetahui apa yang akan terjadi. sedangkan apapun yang dibuat oleh manusia ini adalah hanya perkiraan saja, saya boleh tahu anda golongan apa ?

    • August 18, 2010 at 2:50 pm

      mksd antum?? golongan sprt apa?
      Saya hanya ingin termasuk golongan org2 yg beruntung sprti kata Alloh swt dlm Al Quran…
      dan bukan termasuk org2 yg mrugi yg membanggakan golongannya masing2 lalu mnjatuhkan yg lainnya…
      afwan…
      -muslim yg tguh dlm tauhid-

  7. Raden Mas Kudiarmadji
    January 2, 2013 at 10:01 pm

    Al-Quran bukan pedoman tapi petunjuk. Al-Quran bukan aturan tapi pengawal hidup.
    Sebaik-baiknya agama, seberapapun sempurnanya agama. Tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang dapat mencerminkan kesempurnaan agama tersebut.
    Ketahui siapa dirimu, maka kau akan mengenal Tuhan. Kenali Nafs mu, niscaya kau mengenal Tuhan.
    Siapa saya? Lahir dimana saya? Apa asal-usul keluarga saya? Apa yg harus saya lakukan demi tanah kelahiran saya?
    Bagaimana jika saya terlahir bukan Muslim? Apa saya juga akan membela mati-matian agama saya? Apa saya juga akan menjelek-jelekan Muslim karena saya tidak terlahir sebagai Muslim?
    Mungkin Allah swt ingin manusia untuk berperilaku tenggang rasa, dari situ tumbuh gotong royong, kemudian tumbuhlah norma untuk saling menghormati.
    Dari sini Bung Karno menciptakan PANCASILA. Beliau tetap menempatkan “Ketuhanan yang maha esa” sbg sila awal. Utama. Krn beliau pun mengerti betapa manusia akan membela mati-matian agama yang dianut.
    PANCASILA memang terbatas! Maka dari itulah jika manusia dibingungkan dgn keadaan duniawi, bcalah Al-Quran. Dan ketika manusia divonis dgn ketidak adilan, berserahlah kepadaNya sebaik manusia mengetahui siapa pelindung manusia di muka bumi.
    Allah swt tidaklah terbatas. Allah swt tidak hanya zat yg patut disembah saja. Allah swt juga pengawal pribadi umat manusia di muka bumi ini. Dgn namaNya yg berbeda-beda.

    Bahkan saat Ibrahim terpejam menggorokkan pedang tajamnya pada leher jenjang anaknya yang terlentang dalam pasrah, lalu darah menyembur… ternyata itu hanya seekor domba.
    “Begitulah suasana hatiKu wahai Ibrahim. Karena JanjiKu, aku harus mengabulkan semua permintaanmu, apapun itu! Maka, hendaklah kamu tidak lagi memohon agar Aku melumatkan mereka yang tidak sepaham denganmu dari wilayah kekuasaanKu. Karena Aku juga menyayangi mereka sebagaimana kamu mengasihi Ismail dan Ishak, bahkan lebih.”

    Saling menghormati! Karena Islam tidak akan ada jika Kristiani tidak ada, Kristiani tidak akan ada jika Yahudi tidak ada. Semua tidak akan ada jika apa yg dibawa Nabi Adam as sudah sempurna.
    Sekali lagi, PANCASILA memang terbatas, tapi sejauh ini hanya PANCASILA yg mampu mempersatukan berbagai perbedaan jika saja didalam seonggok daging para pemimpin beserta pemerintah mau dan pasti bisa mengalirkan PANCASILA dlm aliran darahnya.

  8. January 2, 2013 at 10:08 pm

    Raden Mas Kudiarmadji :
    Al-Quran bukan pedoman tapi petunjuk. Al-Quran bukan aturan tapi pengawal hidup.
    Sebaik-baiknya agama, seberapapun sempurnanya agama. Tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang dapat mencerminkan kesempurnaan agama tersebut.
    Ketahui siapa dirimu, maka kau akan mengenal Tuhan. Kenali Nafs mu, niscaya kau mengenal Tuhan.
    Siapa saya? Lahir dimana saya? Apa asal-usul keluarga saya? Apa yg harus saya lakukan demi tanah kelahiran saya?
    Bagaimana jika saya terlahir bukan Muslim? Apa saya juga akan membela mati-matian agama saya? Apa saya juga akan menjelek-jelekan Muslim karena saya tidak terlahir sebagai Muslim?
    Mungkin Allah swt ingin manusia untuk berperilaku tenggang rasa, dari situ tumbuh gotong royong, kemudian tumbuhlah norma untuk saling menghormati.
    Dari sini Bung Karno menciptakan PANCASILA. Beliau tetap menempatkan “Ketuhanan yang maha esa” sbg sila awal. Utama. Krn beliau pun mengerti betapa manusia akan membela mati-matian agama yang dianut.
    PANCASILA memang terbatas! Maka dari itulah jika manusia dibingungkan dgn keadaan duniawi, bcalah Al-Quran. Dan ketika manusia divonis dgn ketidak adilan, berserahlah kepadaNya sebaik manusia mengetahui siapa pelindung manusia di muka bumi.
    Allah swt tidaklah terbatas. Allah swt tidak hanya zat yg patut disembah saja. Allah swt juga pengawal pribadi umat manusia di muka bumi ini. Dgn namaNya yg berbeda-beda.
    Bahkan saat Ibrahim terpejam menggorokkan pedang tajamnya pada leher jenjang anaknya yang terlentang dalam pasrah, lalu darah menyembur… ternyata itu hanya seekor domba.
    “Begitulah suasana hatiKu wahai Ibrahim. Karena JanjiKu, aku harus mengabulkan semua permintaanmu, apapun itu! Maka, hendaklah kamu tidak lagi memohon agar Aku melumatkan mereka yang tidak sepaham denganmu dari wilayah kekuasaanKu. Karena Aku juga menyayangi mereka sebagaimana kamu mengasihi Ismail dan Ishak, bahkan lebih.”
    Saling menghormati! Karena Islam tidak akan ada jika Kristiani tidak ada, Kristiani tidak akan ada jika Yahudi tidak ada. Semua tidak akan ada jika apa yg dibawa Nabi Adam as sudah sempurna.
    Sekali lagi, PANCASILA memang terbatas, tapi sejauh ini hanya PANCASILA yg mampu mempersatukan berbagai perbedaan jika saja didalam seonggok daging para pemimpin beserta pemerintah mau dan pasti bisa mengalirkan PANCASILA dlm aliran darahnya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,733 other followers