Negara Islam Indonesia Kembali Muncul di Garut
Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on June 18, 2009
Negara Islam Indonesia Kembali Muncul di Garut Kamis, 18 Juni 09 – A. Hendy GARUT, Priol – Setelah cukup lama menghilang, kini kelompok yang menamakan diri Negara Islam Indonesia (NII), kembali muncul di Kabupaten Garut. Kali ini, NII muncul di Desa Purbayani, Kec Caringin. Secara terang-terangan, mereka menolak keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menyatakan siap berperang. Bahkan mereka juga sempat menyatakan menolak pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) 2009. Kemunculan NII di Desa Purbayani, Kec Caringin ini, dibenarkan Camat Caringin, Dra Hj Uum Suhartini. Dia mengakui jika pada 26 Mei 2009 lalu, telah menerima surat dari pihak NII. Dalam surat yang ditulis tangan tersebut, disebutkan pernyataan sikap NII yang berisikan tiga poin. Ketiga poin tersebut menyatakan sikap NII dengan bunyi sebagai berikut, mau atau tidak, suka atau tidak suka, mengerti atau tidak, negara ini dalah Negara Islam Indonesia. Poin kedua, kami/saya tidak mau dilibatkan, dicantumkan dalam urusan pilpres, serta poin ketiga berbunyi kami/saya telah diberitahukan oleh Imam Negara Islam Indonesia untuk siap berperang. Dikatakan Uum, menyikapi hal tersebut pihak Muspika setempat telah melakukan berbagai upaya, diantaranya menemui kelompok tersebut dan mengajak mereka untuk kembali mengakui keberadaan NKRI serta mengikuti pilpres. Namun mereka saat ini baru mau mengikuti pilpres, namun tetap menolak keberadaan NKRI serta tetap berpegang pda NII. “Jumlah anggota yang mengatasnamakan NII ini ada 27 orang, mereka semua berdomisili di Kampung Saga, Desa Purbayani,” ujar Uum yang dihubungi melalui pesawat selulernya. Diungkapkannya, selama ini mereka menggunakan sebuah mushola yang ada di kampung tersebut sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah. Kelompok ini sendiri dipimpin oleh Wowo Wahyudin yang usianya berkisar antara 33 tahunan, sedangkan tokohnya, diantranya H Iri. “Surat pernyataan sikap NII itu sendiri diantarkan langsung oleh Wowo ke kantor desa,” tambahnya. Secara terpisah, Kepala Desa Purbayani, Kec Caringin, Heryanto yang juga dihubungi melalui pesawat selulernya membenarkan adanya surat penolakan terhdap pelaksanaan pilpres dari kelompok yang menamakan diri NII pada 26 Mei 2009 lalu sekitar pukul 09.25 WIB. “Selain penolakan terhadap pelaksanaan pilpres, mereka juga menyatakan bahwa tidak ada NKRI, yang ada hanyalah NII. Disamping itu, mereka juga mengaku sudah mendapatkan perintah dari Imam NII untuk berperang,” ujar Heryanto. Diungkapkannya, kelompok tersebut mengganggap bahwa keberadaan negaranya (NII-Red), lebih awal dari Indonesia. Negara Indonesia berdiri pada 17 Agustus 1945, sedangkan NII berdiri pada 7 Agustus 1945. Sehingga Indonesia oleh mereka dinilai menumpang di negara NII. Di Desa Purbayani, imbuhnya, sedikitnya terdapat 27 orang pengikut NII dan kejadian tersebut bukanlah yang pertama kalinya. Setiap kali pelaksanaan pemilihan, baik pemilihan kepala desa, bupati dan gubernur, kelompok ini selalu selalu melakukan penolakan. Begitu pula kegiatan yang berkaitan dengan urusan kenegaraan lainnya. Kegiatan mereka di wilayah Garut Selatan diperkirakan telah berlangsung sekitar 20 tahunan lebih. “Namun meski demikian, kegiatan mereka selama ini tidak pernah meresahkan masyarakat lainnya. Karena kegiatan kenegaraan yang mereka lakukan hampir tidak muncul. Bahkan kehidupan mereka pun berbaur dengan masyarakat lainya, seperti melakukan kerja bakti atau kegiatan gotong royong. Namun demikian, kami tetap melaporkannya ke pihak yang berwajib untuk selalu diawasi dan dibina,” tandas Heryanto. Berikut isi surat pernyataan sikap yang dikirimkan NII ke kantor Desa Purbayani: “Surat ini adalah merupakan pemberitahuan, a. Mau atau tidak, suka atrau tidak suka, mengerti atau tidak. Negara ini adalah Negara Islam Indonesia. b. Kami/Saya tidak mau dilibatkan, dicantumkan dalam urusan pilpres c. Kami/Saya telah diberitahukan oleh Imam Negara Islam Indonesia untuk siap berperang.




























Jayadi Gusti said
MENGAPA HANYA DI GARUT??? Kalau Islam adalah agama yang tidak sektoral, maka Negara Islam (Indonesia? haruskah kata ini terus dipakai bila membatasi keuniversalan?!) adalah IDEOLOGI (baca: cita-cita politik) kaum Muslimin, di manapun! Allah berfirman : “Aku sudah menamai kalian sejak dahulu MUSLIM.” (Qs. Al-Hajj?). Namun terkadang, nama-nama seperti NII, HT, IM, dan lain-lain lebih dikedepankan sebagai pengikat “persaudaraan istimewa” daripada nama Muslim itu sendiri. Oh, saudaraku … (hiks, hiks, … sedih nih).
Ally Muhammad Abduh Al Afghani said
seperti itulah masyarakat ‘muslim’ memandang Islam. Padahal jelas sekali bangsa ini adalah milik kita. Pemutarbalikan fakta telah membalikan paradigma Muslim Indonesia kepada Islam sebuah negara Islam yang seharusnya diperjuangkan. NII adalah cita-cita mulia para mujahid nusantara.
masbadar said
saya melihatnya di ‘metro realitas’ semalam. Sambil menyanding sebungkus rokok, seseorang yg mengaku ‘pentolan’ NII diwawancari oleh wartawan metro. Halah, itulah akibat dari kemiskinan dan ketidak merataannya kemakmuran, rakyat miskin, maka alasan ideologilah yg tepat guna menampik eksistensi negara yang tidak mampu mengurus warganya.
‘ASlmkm , mang-mang pembela NII, dah lah mang, sekarang mah mendingan kita balik ke masjid, baca kitab lagi, ngapali n hadits2 lagi daripada berdebat agama dan negara tapi ngisapin nikotin yang haram setiap hari.’
Rata-rata di Garut begitu, berdebat sengit masalah agama tetapi asbak bertebaran di setiap sudut masjid!
Jayadi Gusti said
Kamana wae kang Ali teh … nuju uzlah? tong gedak kaanginan lamun tos milih pamadegan. Teraskeun seratan-seratan ngabuka pamikiran teh.
muslim said
Di jaman sekarang ini sudah tidak ada gunanya mempertahankan egoisme dan pemikiran kuno. lebih baik terus belajar untuk kemajuanbangsa ini. Islam tidak akan pernah maju jika masih ada golongan2 seperti itu, Islam harus pintar, harus positif thinking, harus rasional, dan selalu berbuat kebaikan bukan saling menghancurkan. dan ingat!!! Agama apapun tidak akan menjamin seseorang menjadi baik…
Andra Aulia Azril said
mereka adalah merupakan alah satu dari sekian banyak kelompok yang mengatasnamakan islam….. tapi disisi lain mereka itu selalu menyalahkan kelompok yang lainnya, mereka selalu mengaggap diri mereka itu adalah paling benar….
bukankah di dalam islam di ajarkan untuk saling menghargai…??