Ketika kebenaran dihalang-halangi, bencana itu kan datang, pasti!!
Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on October 1, 2009
Masih belum kering lidah media tentang berita gempa tasik, kini disusul lagi oleh gempa Padang. Seolah bencana gempa menjawab tindakan pemerintah yang semakin menggencarkan aksinya tentang perang melawan teroris, yang semakin kesini perang melawan teroris itu malah dijadikan alasan untuk sweeping gerakan-gerakan Islam dan menangkap aktivis-aktivisnya. Lalu mereka mencari-cari bukti keterkaitannya para aktivis itu dengan kegiatan terorisme. Tangkap dulu, baru cari cukti. Yang ujung-ujungnya cuma kena pasal pemalsuan tanda pengenal dan Paspor.
Mungkinkah semua bencana yang datang ini ada kaitannya dengan tindakan pemerintah itu? Jawabannya cukup sederhana, ketika para aktivis dakwah kita maknakan mereka adalah para penyuara kebenaran karena memang apa yang mereka sampaikan adalah apa yang ada dalam Al Qur’an lalu pemerintah menangkapnya dan membatasi kegiatan-kegiatan mereka hingga setiap tema dakwah di mesjid-mesjid harus sesuai dengan tema yang dikehendaki pemerintah, apa ini tidak bisa dikatakan ‘pemerintah telah menyulitkan atau menghalang-halangi kebenaran dan mempermudah kebathilan?’.
Kenapa ketika ada sekelompok orang yang bekerja keras untuk memberantas kemaksiatan justru malah di cap “ANARKIS” dan di tangkapi, tapi ketika club-club malam baru muncul dimana-mana malah dibiarkan dan diberi ijin usaha. Bukankah jelas minuman keras itu di haramkan dan selalu di razia oleh aparat, tapi kenapa ko minuman2 sangat keras yag dijual bebas di club malam itu dilegalkan serta membiarkan orang-orang dan anak-anak muda bermabok-mabok ria, berjoged-joged, bercampur lawan jenis dengan bebas memilih pasangan seperti binatang di dalamnya. Disisi lain pemerintah menyuarakan Say No to drugs and Free Sex, aneh pemerintah kita neh… Sebenarnya ma pemerintah ini apa? Apa mau jadikan bangsa ini sebagai bangsa yang bebas seperti Amerika? Jika iya, maka yakinlah bahwa bencana itu takan pernah berhenti mengguyuri kita.



























