Home > Journally > AKANKAH INDONESIA MENYUSUL POMPEII DAN KAUM NABI LUTH??

AKANKAH INDONESIA MENYUSUL POMPEII DAN KAUM NABI LUTH??

Organisasi-organisasi LGBT di Indonesia

Ternyata sudah sejak lama perkumpulan homoseks sudah ada di Indonesia. Diawali oleh HIWAD (Himpunan Wadam Djakarta) pada tahun 1969 yang di fasilitasi oleh Gubernur Jakarta pada saat itu, ALI SADIKIN. (Wadam adalah nama positif untuk banci atau bencong). Diikuti oleh Lambda Indonesia yang berdiri di Solo pada tahun 1982 dan mempunyai cabang di Ygyakarta, Surabaya, Jakarta dll. Lambda adalah organisasi gay terbuka pertama di Indonesia. Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY) tahun 1985, Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN, kemudian dipendekan menjadi GAYa NUSANTARA (GN)) di Pasuruan sebagai penerus Lambda, Indonesian Gay Society (IGS) pada tahun 1988 sebagai penerus Persaudaraan Gay Yogyakarta, tahun 1992 dan 1993 berdiri organisasi-organisasi gay di Jakarta, Pekanbaru, Bandung, Denpasar, Malang dan Ujung Pandang. Ikatan Persaudaraan Orang-orang Sehati (IPOS) di Jakarta; Gaya Dewata di Bali; Komunitas Pelangi di Yogya; Gaya Priangan di Bandung; atau Gaya Nusantara di Surabaya. Kaum lesbiannya banyak yang gabung di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Swara Srikandi, Jaringan Kerja Warna-Warni, atau Persatuan Lesbian Indonesia.

Organisasi-organisasi ini pun mampu mengadakan kongres-kongres dan acara-acara dengan bebas. Kongres Lesbian dan Gay Indonesia (KLGI) tahun 1993 diadakan di Kaliurang Yogyakarta, KLGI II di Lembang Bandung pada tahun 1995, KLGI III di Denpasar pada tahun 1997, Gay Pride di Surabaya dan Rakernas JLGI di Solo tahun 1999.

Itulah bukti bahwa di Indonesia LGBT hidup dengan bebas, meskipun menyalahi aturan dan hukum yang berlaku di negeri ini. Demokrasi dan Pancasila yang katanya mempunyai nilai-nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan serta norma diam-diam ternyata melegalkan keberadaan kaum Nabi Luth itu. Lalu dimana nilai-nilai tersebut? Seolah tak ada hukum yang mampu mengatasi persoalan tersebut. Apakah terganjal oleh HAM? Lalu agama ditiadakan? Bukankah idealism kaum LGBT ini adalah tidak menerima agama dan menolak bentuk-bentuk fundamentalisme dan radikalisme agama yang selalu mendiskreditkan dan mengkriminalisasikan kaum LGBT. Fundamentalisme agama tidak bisa dirubah oleh apapun, didalamnya terdapat pelarangan terhadap LGBT. Jadi secara tidak langsung mereka telak menolak agama karena agama.  Tapi sempat saya dengar bahwa organisas-organisasi di atas mengadakan advokasi, seminar, pendidikan tentang hak-hak politik dan sosial, kampanye anti narkoba dan bahaya HIV, pemberian beasiswa, hingga kegiatan pengajian. ( KoranTempo , 15/08/04). Pengajian?????? Padahal jelas-jelas agama menolak identitas dan keberadaan mereka.

Mereka Tidak Beragama?

Untuk menjelaskan hal ini kita perlu mengkaji visi, misi dan prinsip-prinsip dasar mereka. Berikut saya beritahukan visi misi dan prinsip-prinsip dasar mereka:

Terus mendorong terwujudnya tatanan masyarakat yang bersendikan pada nilai-nilai kesetaraan, berperilaku dan memberikan penghormatan terhadap hak-hak Kaum Lesbian, Gay, Bisexual, Transsexual dan Transgender (LGBT) sebagai hak asasi manusia.

Pembela hak-hak LGBT yang mempunyai misi sebagai berikut:

- Menyadarkan, memberdayakan dan memperkuat kaum LGBT yang tertindas.

- Berperan aktif dalam proses perubahan kebijakan yang melindungi hak-hak LGBT.

- Berperan aktif dalam proses penyadaran terhadap masyarakat serta proses penerimaan kaum LGBT di tengah-tengah masyarakat.

Prinsip-prinsip Dasar

Anti-Diskriminasi, menolak segala bentuk diskriminasi terhadap kaum LGBT, baik yang didasarkan pada orientasi seksual, suku, agama, warna kulit, status sosial, maupun keyakinan politik.

Kesetaraan Gender, menghargai dan menjunjung tinggi persamaan jenis kelamin, gender maupun keberagaman orientasi seksual, terutama orientasi seksual minoritas (LGBT).

Anti-Kekerasan, menolak penggunaan segala bentuk kekerasan terhadap kaum LGBT, baik secara fisik maupun secara psikis, baik yang dilakukan oleh Negara maupun yang dilakukan oleh individu.

Pluralisme, menolak bentuk-bentuk fundamentalisme dan radikalisme agama yang selalu mendiskreditkan dan mengkriminalisasikan kaum LGBT atas nama agama.

Egaliter, membela kesetaraan kaum LGBT, baik secara hukum, politik, sosial, ekonomi, dan budaya

Imparsial, tidak memihak ataupun menjadi bagian dari partai politik, birokrasi dan kekuatan ekonomi tertentu, namun selalu berpihak kepada kaum LGBT dalam memperjuangkan pemenuhan dan perlindungan hak-hak dasar kaum LGBT.

Mengenal homoseksual

Secara naluriah manusia punya ketertarikan seksual terhadap lawan jenisnya yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah heteroseks. Tapi ternyata, ada orang yang justru (lebih) tertarik pada orang-orang sejenis. Laki-laki tertarik pada sesama kaum Adam yang disebut gay. Dan perempuan tertarik pada sesama kaum Hawa yang disebut lesbian. Gay dan lesbian inilah yang kemudian dikelompokkan dalam kaum homoseks. Dan ada juga tipe orang yang ketertarikan seksualnya AC-DC alias biseksual. Sama lawan jenis oke, dengan sesama jenis juga nggak masalah.

Sejarah dan Murka Alloh kepada Kaum homoseksual

Dalam sejarahnya, aktivitas homoseksual sudah ada sejak zaman prasejarah. Tepatnya di kota Sodom dan Gomorah pada 3000 SM. Allah begitu sayang kepada para penduduk kota ini hingga mengutus Nabi Luth as untuk mengajak mereka yang berperilaku homoseks agar kembali ke jalan yang benar. Tapi apa daya, mereka begitu keukeuh sureukeuh istiqomah dalam kebejatan moralnya. Sehingga Allah menurunkan azab dengan membalikkan negerinya dan menghujaninya dengan batu dari tanah yang terbakar seperti diceritakan dalam QS. Huud [11]: 82.

Contoh lainnya adalah kota Pompeii, sebuah kota di timur Gunung Vesuvius Kota Napless Italia yang mengalami nasib hamper sama persis dengan apa yang terjadi terhadap kaum Nabi Luth sekitar 200 tahun lalu. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka. Dalam sekejap gunung Vesuvius itu meletus dan menghanguskan kota Pompeii. Lava dan debu dari letusannya membekukan seluruh penghuni kota tersebut dan tak ada yang selamat dari bencana itu. Sejarah kota pompeii masih bisa kita lihat saksikan saat ini, tubuh-tubuh mereka yang di banjiri lava Gunung Vesusius terawetkan dan sampai sekarang masih ada di Italia. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

Dari kedua contoh diatas menunjukan bahwa betapa Alloh murka terhadap kaum homoseksual hingga dua kota yang pernah menjadi surga kaum homoseksual selalu di musnahkan. Sudah seharusnya itu semua menjadi pelajaran untuk kita semua.

Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang seharusnya menjadi tempat yang di takuti oleh kaum homoseksual ini, tapi pada kenyataannya justru mereka hidup bebas di sini, mereka seperti di beri ruang gerak untuk melakukan manuver di masyarakat untuk mempengaruhi masyarakat agar keberadaan mereka bisa di terima. Ini terbukti dengan semakin menjamurnya organisasi-organisasi mereka. Mereka dengan bebas mempublikasikan eksistensi dan perjuangan mereka ke publik tanpa ada rasa malu sedikitpun. Banci-banci lahir dimana-mana berdandan layaknya wanita, buku-buku tentang kehidupan dan perjuangan kaum homoseksual dijual bebas. Apa yang dilakukan pemerintah menghadapi situasi ini? Pemerintah hanya berwacana akan membina dan menyembuhkan mereka tanpa ada tindakan yang berarti yang menggentarkan mereka.

Demokrasi, itulah jawabannya. Demokrasi melindungi kebebasan manusia untuk bertindak semaunya yang penting tidak melanggar aturan (demokrasi itu sendiri). Aturan dalam demokrasi itu sendiri tidak mencantumkan pelarangan bagi kaum homoseksual dan transgender karena menurut mereka itu Hak Asasi Manusia. Jadi demokrasi sebagai pelindung liberalism tak berhak melarang mereka. Sungguh mengkhawatirkan bukan?

Belanda adalah negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis, disusul Belgia dan Kanada, Denmark, Swedia, Norwegia, Amerika dll. (sebentar lagi Indonesia…haha). Padahal Kristen sebagai agama mereka juga melarang tindakan itu, tapi apa daya demokrasi itu di atas segala-galanya, melebih agama. Melihat tidak adanya pengaruh positif akan eksistensi agama di dalam sebuah negara demokrasi karena demokrasi telah mengesahkan perkawinan sejenis yang jelas-jelas dilarang agama menunjukkan bahwa kaum homoseksual dan sistem demokrasi yang melindunginya itu mempunyai agama sendiri, yaitu agam demokrasi dan HAM, HAM yang disalahartikan. Mereka berpikir agama itu tidak melindungi hak asasi manusia karena eksistensi mereka ditentang oleh agama manapun.

Jadi sudah jelas bahwa demokrasi yang dianut oleh bangsa ini tidak berdaya menghadapi keadaan ini karena teman-temannya yang pun menganut demokrasi telah lebih dahulu mengakui dan melegalkan keberadaan kaum homoseksual. Demokrasi yang selama ini dibangga-banggakan banyak orang justru telah menjerumuskan manusia pada dekadensi moral yang parah. Dilegalkannya keberadaan homosekual dan pernikahan sejenis yang kita anggap menjijikan itu malah ditopang dan dilindungi. Sedang negara yang baldah toyibah katanya adalah cita-cita bangsa ini? Apa mungkin? Demokrasi itu satu, demokrasi itu sama dimana-mana, Amerika sebagai Pahlawannya sendiri telah melegalkan homoseksual, masa Indonesia tidak? (menjijikan!!!!)

Inilah kenyataan pahit yang kita hadapi saat ini. Sudah saatnya kita menyadari bahwa sistem ini akan membawa kita pada malapetaka yang dahysat. Keberadaan LGBT sudah sangat memalukan jati diri bangsa ini. Jika dibiarkan maka tidak mustahil Adzab yang menimpa kaum Nabi Luth dan Pompeii juga akan menimpa Indonesia. Akankah? Naudzubilahimindzalik…

Semoga kalian cepat menyadari dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada leluhur kalian. Karena apapun alasan kalian menjadi seperti itu tidak akan pernah merubah ketentuan dan hukum-hukum Alloh. Tanamkan dalam diri kalian bahwa apa yang terjadi pada diri kalian itu adalah sebuah cobaan yang harus kalian hadapi. Semoga Alloh membuka pintu hati kalian dan mengembalikan kalian ke jalan yang benar.

Tapi jika tidak mau,…..

Kami tidak mau menjadi korban dari apa yang kalian perbuat, untuk itu kami tidak akan pernah diam untuk mengembalikan kalian ke arah yang seharusnya. Pergi sana tanah yang melegalkan keberadaan kalian dan yang akan membebaskan kehidupan kalian!! Tanah ini tanah suci yang diperjuangkan oleh pahlawan kami dengan taruhan jiwa dan raganya, bukan untuk menjadi surga bagi kalian kaum Luth yang pernah dibinasakan!!

Referensi:

Harun Yahya

GAYa NUSANTARA

Arus Pelangi

http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/jangan-bangga-jadi-homoseks.html

www.hidayatulloh.com

AKANKAH INDONESIA MENYUSUL POMPEII DAN KAUM NABI LUTH??

Organisasi-organisasi LGBT di Indonesia

Ternyata sudah sejak lama perkumpulan homoseks sudah ada di Indonesia. Diawali oleh HIWAD (Himpunan Wadam Djakarta) pada tahun 1969 yang di fasilitasi oleh Gubernur Jakarta pada saat itu, ALI SADIKIN. (Wadam adalah nama positif untuk banci atau bencong). Diikuti oleh Lambda Indonesia yang berdiri di Solo pada tahun 1982 dan mempunyai cabang di Ygyakarta, Surabaya, Jakarta dll. Lambda adalah organisasi gay terbuka pertama di Indonesia. Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY) tahun 1985, Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN, kemudian dipendekan menjadi GAYa NUSANTARA (GN)) di Pasuruan sebagai penerus Lambda, Indonesian Gay Society (IGS) pada tahun 1988 sebagai penerus Persaudaraan Gay Yogyakarta, tahun 1992 dan 1993 berdiri organisasi-organisasi gay di Jakarta, Pekanbaru, Bandung, Denpasar, Malang dan Ujung Pandang. Ikatan Persaudaraan Orang-orang Sehati (IPOS) di Jakarta; Gaya Dewata di Bali; Komunitas Pelangi di Yogya; Gaya Priangan di Bandung; atau Gaya Nusantara di Surabaya. Kaum lesbiannya banyak yang gabung di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Swara Srikandi, Jaringan Kerja Warna-Warni, atau Persatuan Lesbian Indonesia.

Organisasi-organisasi ini pun mampu mengadakan kongres-kongres dan acara-acara dengan bebas. Kongres Lesbian dan Gay Indonesia (KLGI) tahun 1993 diadakan di Kaliurang Yogyakarta, KLGI II di Lembang Bandung pada tahun 1995, KLGI III di Denpasar pada tahun 1997, Gay Pride di Surabaya dan Rakernas JLGI di Solo tahun 1999.

Itulah bukti bahwa di Indonesia LGBT hidup dengan bebas, meskipun menyalahi aturan dan hukum yang berlaku di negeri ini. Demokrasi dan Pancasila yang katanya mempunyai nilai-nilai luhur kemanusiaan dan ketuhanan serta norma diam-diam ternyata melegalkan keberadaan kaum Nabi Luth itu. Lalu dimana nilai-nilai tersebut? Seolah tak ada hukum yang mampu mengatasi persoalan tersebut. Apakah terganjal oleh HAM? Lalu agama ditiadakan? Bukankah idealism kaum LGBT ini adalah tidak menerima agama dan menolak bentuk-bentuk fundamentalisme dan radikalisme agama yang selalu mendiskreditkan dan mengkriminalisasikan kaum LGBT. Fundamentalisme agama tidak bisa dirubah oleh apapun, didalamnya terdapat pelarangan terhadap LGBT. Jadi secara tidak langsung mereka telak menolak agama karena agama.  Tapi sempat saya dengar bahwa organisas-organisasi di atas mengadakan advokasi, seminar, pendidikan tentang hak-hak politik dan sosial, kampanye anti narkoba dan bahaya HIV, pemberian beasiswa, hingga kegiatan pengajian. ( KoranTempo , 15/08/04). Pengajian?????? Padahal jelas-jelas agama menolak identitas dan keberadaan mereka.

Mereka Tidak Beragama?

Untuk menjelaskan hal ini kita perlu mengkaji visi, misi dan prinsip-prinsip dasar mereka. Berikut saya beritahukan visi misi dan prinsip-prinsip dasar mereka:

Terus mendorong terwujudnya tatanan masyarakat yang bersendikan pada nilai-nilai kesetaraan, berperilaku dan memberikan penghormatan terhadap hak-hak Kaum Lesbian, Gay, Bisexual, Transsexual dan Transgender (LGBT) sebagai hak asasi manusia.

Pembela hak-hak LGBT yang mempunyai misi sebagai berikut:

- Menyadarkan, memberdayakan dan memperkuat kaum LGBT yang tertindas.

- Berperan aktif dalam proses perubahan kebijakan yang melindungi hak-hak LGBT.

- Berperan aktif dalam proses penyadaran terhadap masyarakat serta proses penerimaan kaum LGBT di tengah-tengah masyarakat.

Prinsip-prinsip Dasar

Anti-Diskriminasi, menolak segala bentuk diskriminasi terhadap kaum LGBT, baik yang didasarkan pada orientasi seksual, suku, agama, warna kulit, status sosial, maupun keyakinan politik.

Kesetaraan Gender, menghargai dan menjunjung tinggi persamaan jenis kelamin, gender maupun keberagaman orientasi seksual, terutama orientasi seksual minoritas (LGBT).

Anti-Kekerasan, menolak penggunaan segala bentuk kekerasan terhadap kaum LGBT, baik secara fisik maupun secara psikis, baik yang dilakukan oleh Negara maupun yang dilakukan oleh individu.

Pluralisme, menolak bentuk-bentuk fundamentalisme dan radikalisme agama yang selalu mendiskreditkan dan mengkriminalisasikan kaum LGBT atas nama agama.

Egaliter, membela kesetaraan kaum LGBT, baik secara hukum, politik, sosial, ekonomi, dan budaya

Imparsial, tidak memihak ataupun menjadi bagian dari partai politik, birokrasi dan kekuatan ekonomi tertentu, namun selalu berpihak kepada kaum LGBT dalam memperjuangkan pemenuhan dan perlindungan hak-hak dasar kaum LGBT.

Mengenal homoseksual

Secara naluriah manusia punya ketertarikan seksual terhadap lawan jenisnya yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah heteroseks. Tapi ternyata, ada orang yang justru (lebih) tertarik pada orang-orang sejenis. Laki-laki tertarik pada sesama kaum Adam yang disebut gay. Dan perempuan tertarik pada sesama kaum Hawa yang disebut lesbian. Gay dan lesbian inilah yang kemudian dikelompokkan dalam kaum homoseks. Dan ada juga tipe orang yang ketertarikan seksualnya AC-DC alias biseksual. Sama lawan jenis oke, dengan sesama jenis juga nggak masalah.

Sejarah dan Murka Alloh kepada Kaum homoseksual

Dalam sejarahnya, aktivitas homoseksual sudah ada sejak zaman prasejarah. Tepatnya di kota Sodom dan Gomorah pada 3000 SM. Allah begitu sayang kepada para penduduk kota ini hingga mengutus Nabi Luth as untuk mengajak mereka yang berperilaku homoseks agar kembali ke jalan yang benar. Tapi apa daya, mereka begitu keukeuh sureukeuh istiqomah dalam kebejatan moralnya. Sehingga Allah menurunkan azab dengan membalikkan negerinya dan menghujaninya dengan batu dari tanah yang terbakar seperti diceritakan dalam QS. Huud [11]: 82.

Contoh lainnya adalah kota Pompeii, sebuah kota di timur Gunung Vesuvius Kota Napless Italia yang mengalami nasib hamper sama persis dengan apa yang terjadi terhadap kaum Nabi Luth sekitar 200 tahun lalu. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi; akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka. Dalam sekejap gunung Vesuvius itu meletus dan menghanguskan kota Pompeii. Lava dan debu dari letusannya membekukan seluruh penghuni kota tersebut dan tak ada yang selamat dari bencana itu. Sejarah kota pompeii masih bisa kita lihat saksikan saat ini, tubuh-tubuh mereka yang di banjiri lava Gunung Vesusius terawetkan dan sampai sekarang masih ada di Italia. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

Dari kedua contoh diatas menunjukan bahwa betapa Alloh murka terhadap kaum homoseksual hingga dua kota yang pernah menjadi surga kaum homoseksual selalu di musnahkan. Sudah seharusnya itu semua menjadi pelajaran untuk kita semua.

Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang seharusnya menjadi tempat yang di takuti oleh kaum homoseksual ini, tapi pada kenyataannya justru mereka hidup bebas di sini, mereka seperti di beri ruang gerak untuk melakukan manuver di masyarakat untuk mempengaruhi masyarakat agar keberadaan mereka bisa di terima. Ini terbukti dengan semakin menjamurnya organisasi-organisasi mereka. Mereka dengan bebas mempublikasikan eksistensi dan perjuangan mereka ke publik tanpa ada rasa malu sedikitpun. Banci-banci lahir dimana-mana berdandan layaknya wanita, buku-buku tentang kehidupan dan perjuangan kaum homoseksual dijual bebas. Apa yang dilakukan pemerintah menghadapi situasi ini? Pemerintah hanya berwacana akan membina dan menyembuhkan mereka tanpa ada tindakan yang berarti yang menggentarkan mereka.

Demokrasi, itulah jawabannya. Demokrasi melindungi kebebasan manusia untuk bertindak semaunya yang penting tidak melanggar aturan (demokrasi itu sendiri). Aturan dalam demokrasi itu sendiri tidak mencantumkan pelarangan bagi kaum homoseksual dan transgender karena menurut mereka itu Hak Asasi Manusia. Jadi demokrasi sebagai pelindung liberalism tak berhak melarang mereka. Sungguh mengkhawatirkan bukan?

Belanda adalah negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis, disusul Belgia dan Kanada, Denmark, Swedia, Norwegia, Amerika dll. (sebentar lagi Indonesia…haha). Padahal Kristen sebagai agama mereka juga melarang tindakan itu, tapi apa daya demokrasi itu di atas segala-galanya, melebih agama. Melihat tidak adanya pengaruh positif akan eksistensi agama di dalam sebuah negara demokrasi karena demokrasi telah mengesahkan perkawinan sejenis yang jelas-jelas dilarang agama menunjukkan bahwa kaum homoseksual dan sistem demokrasi yang melindunginya itu mempunyai agama sendiri, yaitu agam demokrasi dan HAM, HAM yang disalahartikan. Mereka berpikir agama itu tidak melindungi hak asasi manusia karena eksistensi mereka ditentang oleh agama manapun.

Jadi sudah jelas bahwa demokrasi yang dianut oleh bangsa ini tidak berdaya menghadapi keadaan ini karena teman-temannya yang pun menganut demokrasi telah lebih dahulu mengakui dan melegalkan keberadaan kaum homoseksual. Demokrasi yang selama ini dibangga-banggakan banyak orang justru telah menjerumuskan manusia pada dekadensi moral yang parah. Dilegalkannya keberadaan homosekual dan pernikahan sejenis yang kita anggap menjijikan itu malah ditopang dan dilindungi. Sedang negara yang baldah toyibah katanya adalah cita-cita bangsa ini? Apa mungkin? Demokrasi itu satu, demokrasi itu sama dimana-mana, Amerika sebagai Pahlawannya sendiri telah melegalkan homoseksual, masa Indonesia tidak? (menjijikan!!!!)

Inilah kenyataan pahit yang kita hadapi saat ini. Sudah saatnya kita menyadari bahwa sistem ini akan membawa kita pada malapetaka yang dahysat. Keberadaan LGBT sudah sangat memalukan jati diri bangsa ini. Jika dibiarkan maka tidak mustahil Adzab yang menimpa kaum Nabi Luth dan Pompeii juga akan menimpa Indonesia. Akankah? Naudzubilahimindzalik…

Semoga kalian cepat menyadari dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada leluhur kalian. Karena apapun alasan kalian menjadi seperti itu tidak akan pernah merubah ketentuan dan hukum-hukum Alloh. Tanamkan dalam diri kalian bahwa apa yang terjadi pada diri kalian itu adalah sebuah cobaan yang harus kalian hadapi. Semoga Alloh membuka pintu hati kalian dan mengembalikan kalian ke jalan yang benar.

Tapi jika tidak mau,…..

Kami tidak mau menjadi korban dari apa yang kalian perbuat, untuk itu kami tidak akan pernah diam untuk mengembalikan kalian ke arah yang seharusnya. Pergi sana tanah yang melegalkan keberadaan kalian dan yang akan membebaskan kehidupan kalian!! Tanah ini tanah suci yang diperjuangkan oleh pahlawan kami dengan taruhan jiwa dan raganya, bukan untuk menjadi surga bagi kalian kaum Luth yang pernah dibinasakan!!

Referensi:

Harun Yahya

GAYa NUSANTARA

Arus Pelangi

http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/jangan-bangga-jadi-homoseks.html

www.hidayatulloh.com

Gunung Vesuvius adalah gunung kebanggaan Italia sekaligus symbol Negara itu. Kota yang dihancurkan oleh Alloh karena perilaku mereka yang

Adapun penyebab orang bisa jadi homoseks, kita juga nggak bisa mastiin (belon berpengalaman sih, hihihi). Para ahli psikolog atau kedokteran juga keteteran menjelaskan penyebab orang jadi homoseks. Kalo menurut dr. Wimpie Pangkahila, ada empat kemungkinan penyebab homoseksual. Pertama , faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua , faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak (seperti kasus sodomi pada anak di bawah umur). Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar (seperti tradisi warok yang memelihara gemblak di Ponorogo). Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.

Namun sobat, dari penjelasan dr. Wimpie, nampaknya tiga faktor yang bersifat eksternal selain biologis atau genetik paling masuk akal mampu menyeret seseorang menjadi homoseks. Karena perilaku seseorang tentu mencerminkan informasi yang dia serap tentang perbuatan itu dari lingkungan sekitarnya. Bukan semata-mata karena faktor biologis. Faktor biologis hanyalah pendorong orang untuk berbuat. Tapi bukan yang menentukan jenis perbuatan yang harus dilakukan.

Prof. Dr. Dadang Hawari, guru besar FKUI berkomentar, Sampai sekarang belum ada yang menyatakan karena faktor genetis, yang sudah jelas adalah faktor lingkungan. (O. Solihin, Jangan Jadi Bebek, 2002 ).

About these ads
Categories: Journally Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,734 other followers