Home > Journally > Bom Bunuh Diri Beserta Dalil-dalil shohihnya

Bom Bunuh Diri Beserta Dalil-dalil shohihnya

Banyak orang yang mencibir perbuatan para Mujahid yang melakukan bom syahid, Apakah para pemuda yang mengorbankan dirinya itu termasuk para syahid atau disebut orang yang bunuh diri, karena mereka membunuh dirinya sendiri dengan ulah sendiri pula? Mereka yang anti pati itu menyatakan bahwa perbuatan mereka itu termasuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kehancuran yang telah dilarang oleh Al Qur’an dalam sebuah ayatnya yang artinya:”Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).

Sesungguhnya mereka yang menggunakan dalil ayat tersebut diatas hanya berdalil berdasarkan kebodohan mereka sendiri, bila mereka melihat asbabun nuzul daripada ayat tersebut maka dapat dipastikan bahwa ayat tersebut bermaksud menyindir atau bahkan melarang Kaum Muslimin agar tidak meninggalkan Jihad dalam bentuk perang. Dengan kembali menata perekonomian dengan cara berdagang, (lihat asbabun nuzul nya Imam JalaludDin as Suyuthi, juga tafsir Ibnu Katsir tentang ayat itu)  Buktinya pada saat ini banyak orang meninggalkan Jihad Perang menuju jihad bid’ah yang namanya jihad ekonomi,jihad cari ilmu dan lain lain.sebagaimana dijelaskan dalam kisah berikut ini :

Apa yang diceritakan oleh Muhammad bin Abi Bakr, ia berkata: diceritakan dari Abu Dawud, ia berkata: diceritakan dari Ahmad bin ‘Amr bin Al Sarh, ia berkata: diceritakan dari Ibn Wahb dari Haiwah bin Syuraih dan Ibn Luhai’ah bin Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam Abi Umar, bahwa ia berkata: Kami pernah menyerang kota Kostantinopel, dalam rombongan perang itu ada AbdurRAHMAN bin Al Walid. Sedangkan orang-orang Romawi saling menyandarkan punggung-punggungnya ke tembok kota. Lalu ada seseorang yang di bawah menghampiri pihak musuh, “tunggu, tunggu….! Laa ILAAHa IllaLLAAH! Ia mau menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehancuran!” kata beberapa orang. Kemudian Abu Ayyub berkomentar:”Ayat ini tak lain diturunkan kepada kami, kaum Anshar, ketika ALLAAH SWT memberikan pertolongan kepada Nabi-NYA dan memenangkanIslam, lalu kami berkata:”Ayo kita tegakkan harta kekayaan kita dan memperbanyaknya. Lalu turunlah ayat yang artinya:”Dan belanjakanlah pada jalan ALLAAH dan jangan menjerumuskan diri kamu ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195). Maka arti menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu artinya adalah memperbanyak harta dan meninggalkan jihad.”

Masyru’iyat operasi-operasi tersebut dibuktikan dengan adanya dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan Ijma’ juga dengan adanya beberapa fakta yang terjadi di dalamnya serta fatwa Salafush Sholeh mengenai hal ini, sebagaimana akan disebutkan kemudian, Insya ALLAAH
Pertama : Dalil-dalil Qur’an
Kalam ALLAAH:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan ALLAAH; dan ALLAAH MAHA PENYANTUN kepada hamba-hamba-NYA.” (Al-Baqarah : 207)
Sesungguhnya sahabat r.a menerapkan ayat ini ketika seorang Muslim seorang diri berjibaku menerjang musuh dengan bilangan yang banyak yang dengan itu nyawanya dalam kondisi berbahaya, sebagaimana Umar bin Khaththab dan Abu Ayub Al-Anshari juga Abu Hurairah  sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidizy dan Ibnu Hibban serta Al-Hakim menshahihkannya ( Tafsir Al-Qurthubi 2/361)
Kalam ALLAAH juga :

“Sesungguhnya ALLAAH telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan ALLAAH; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari ALLAAH di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada ALLAAH? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”  ( At-Taubah 111 )
Ibnu Katsir   berkata: Kebanyakan (Ulama/Mufassir) berpendapat bahwa ayat tersebut berkenaan dengan setiap Mujahid Fie SabililLLAAH
Kalam ALLAAH

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh ALLAAH, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang ALLAAH mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan ALLAAH niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”   (Al-Anfal : 60)
Allah berfirman terhadap mereka yang merusak perjanjian :

“Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran” (Al-Anfal:57).

Kedua:  Dalil-dalil dari As-Sunnah:
Hadits Ghulam (Pemuda) yang kisahnya terkenal, terdapat dalam Shahih Bukhari, ketika ia menunjukkan musuh cara mati syahid, lalu musuh itupun membunuhnya, sehingga ia mati dalam keadaan syahid di jalan Allah. Maka operasi seperti ini merupakan salah satu jenis Jihad, dan menghasilkan manfaat yang besar, dan kemaslahatan bagi kaum Muslimin, ketika penduduk negeri itu masuk kepada dien(agama) Islam, yaitu ketika mereka berkata : “Kami beriman kepada RABBnya Pemuda ini”.

Petunjuk (dalil) yang dapat di ambil dari hadits ini adalah bahwa Pemuda (Ghulam) tadi merupakan seorang Mujahid yang mengorbankan dirinya dan rela kehilangan nyawa dirinya demi tujuan kemaslahatan kaum Muslimin. Pemuda tadi telah mengajarkan mereka bagaimana cara mati syahid bahkan mereka sama sekali tidak akan mampu membunuh dirinya kecuali dengan cara yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut, padahal cara yang ditunjukkan itu merupakan sebab kematian dirinya, akan tetapi dalam konteks Jihad hal ini diperbolehkan.

Operasi sedemikian ini diterapkan oleh Mujahidin dalam Istisyhad (operasi memburu kesyahidan), kedua-duanya memiliki inti masalah yang sama, yaitu menghilangkan nyawa diri demi kemaslahatan jihad. Amalan-amalan seperti ini memiliki dasar dalam syari’at Islam. Tak ubahnya pula dengan seseorang yang hendak melaksakanan Amar Ma’ruf Nahyi Munkar di suatu tempat dan menunjukkan manusia kepada Hidayah sehingga dia terbunuh di tempat tersebut, maka dia dianggap sebagai seorang Mujahid yang Syahid, ini seperti sabda Nabi SAW:”Jihad yang paling utama adalah mengatakan Al-haq di depan penguasa yang Jaa-ir (jahat)”

Amaliyah yang dilakukan oleh Bara bin Malik dalam pertempuran di Yamamah. Ketika itu ia diusung di atas tameng yang berada di ujung-ujung tombak, lalu dilemparkan ke arah musuh, diapun berperang (di dalam benteng) sehingga berhasil membuka pintu Benteng. Dalam kejadian itu tidak seorangpun sahabat r.a menyalahkannya. Kisah ini tersebut dalam Sunan Al-Baihaqi, dalam kitab As-Sayru Bab At-Tabarru’ Bit-Ta’rudhi Lilqatli (9/44), tafsir Al-Qurthubi (2/364), Asaddul Ghaabah (1/206), Tarikh Thabari.

Operasi yang dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa dan Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu Qatadah terhadap Uyainah bin Hishn dan pasukannya. Dalam ketika itu RasuluLLAAH   memuji mereka, dengan sabdanya: “Pasukan infantry terbaik hari ini adalah Salamah” (Hadits Muttafaqun ‘Alaihi /Bukhari-Muslim).

Ibnu Nuhas berkata : Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh.Tidak mengapa dilakukan jikan dia ikhlas melakukannya demi memperoleh kesyahidan sebagaimana dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa, dan Al-Akhram Al-Asaddi. Nabi   tidak mencela, sahabat r.a tidak pula menyalahkan operasi tersebut. Bahkan di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa operasi seperti itu adalah disukai, juga merupakan keutamaan. RasuluLLAAHmemuji Abu Qatadah dan Salamah sebagaimana disebutkan terdahulu.Dimana masing-masing dari mereka telah menjalankan operasi Jibaku terhadap musuh seorang diri (Masyari’ul Asywaq 1/540)

Apa yang dilakukan oleh Hisyam bin Amar Al-Anshari, ketika dia meneroboskan dirinya di antara Dua pasukan, menerjang musuh seorang diri dengan bilangan musuh yang besar, waktu itu sebagian kaum Muslimin berkata: Ia menjerumuskan dirinya dalam kebinasaan, Umar bin Khaththab r.a membantah klaim sebagian kaum Muslimin tersebut, begitu juga Abu Hurairah r.a, lalu keduanya membaca ayat:
“Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan ALLAAH…” (Al-Baqarah 207 )
Al-Mushannif Ibnu Abi Syaibah (5/303,222), Sunan Al-Baihaqi (9/46)
Abu hadrad Al-Aslami dan Dua orang sahabatnya menerjangkan diri ke arah pasukan besar, tidak ada orang ke-empat selain mereka bertiga, akhirnya ALLAAH memenangkan kaum Muslimin atas kaum musyrikin. Ibnu Hisyam menyebut riwayat ini dalam kitab sirahnya. Ibnu Nuhas menyebutnya dalam Al-Masyaari’ (1/545).

Operasi yang dilakukan oleh AbduLLAAH bin Hanzhalah Al-Ghusail, ketika Ia berjibaku menerjang musuh dalam salah satu pertempuran, sedangkan baju besi pelindung tubuhnya sengaja ia buang, kemudian kaum kafir berhasil membunuhnya. Disebutkan oleh Ibnu Nuhas dalam Al-Masyari’ (1/555).

Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan (9/44) menukil tentang seorang lelaki yang mendengar sebuah hadits dari Abu Musa :”Jannah (syurga) itu berada di bawah naungan pedang” Lalu lelaki itu memecahkan sarung pedangnya, lantas menerjang musuh seorang diri, berperang sampai ia terbunuh.

Kisah Anas bin Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, katanya: “Aku sudah terlalu rindu dengan wangi jannah (syurga)” kemudian ia berjibaku menerjang kaum musyrikin sampai terbunuh. (Muttafaqun ‘Alaihi).
Ketiga :  Ijma’

Dalam Masyari’ul Asywaq (1/588), Ibnu Nuhas menukil dari Al-Mihlab, katanya: (Kaum Muslimin) telah Ijma’ bahwa diperbolehkan menerjangkan diri dalam posisi berbahaya yang menyebabkan kebinasaan dirinya dalam Jihad Fie SabiliLLAAH. Ia menukil dari Al-Ghazali dalam Al-Ihya, katanya: Tidak ada perbedaan pendapat tentang diperbolehkannya seorang Muslim berjibaku menerjang sepasukan kafir dan berperang seorang diri sekalipun ia mengerti bahwa dirinya bakal terbunuh.
Imam Nawawi dalam syarah Muslim menukil kesepakatan (kaum Muslimin) tentang diperbolehkannya mengorbankan diri -dengan menempatkan diri dalam posisi mematikan-dalam Jihad Fie SabiliLLAAH, Ia menyebutnya (contoh) dalam perang Dzie Qarad (12/187)

Tujuh hadits terdahulu dan ijma’ tersebut di atas, para ulama ahli fiqih (Fuqaha) menempatkannya dalam bab :”Berjibaku seorang diri menerjang pasukan musuh dengan bilangan yang banyak”, kadang-kadang dinamakan juga dengan Al-In-Ghimas (Terobos maut) ke arah sepasukan” atau dinamakan juga, “Menempatkan diri dalam posisi mematikan dalam Jihad Fie SabiliLLAAH”

Imam Nawawi dalam syarah Muslim Bab kepastian Jannah bagi orang yang syahid (13/46) mengatakan: ‘Di dalamnya diperbolehkan seorang diri melakukan operasi terobos maut ke dalam pasukan musuh dan bersungguh-sungguh memperoleh kesyahidan. Hal seperti ini diperbolehkan menurut Jumhur Ulama, tidak ada kemakruhan di dalamnya, selesai-

Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menukil dari sebagian ulama Malikiyah (Yaitu berjibaku ke arah musuh), sehingga sebagian mereka berkata : “Jika seseorang menyerbu kepada seratus orang atau sejumlah pasukan tertentu, misalnya tentara atau semisalnya,dan dia mengerti, serta mempunyai keyakinan kuat bahwa dia akan terbunuh dalam operasi tersebut, tetapi dia pula memiliki keyakinan kuat bahwa operasinya akan merugikan musuh atau berbekas (di hati musuh), yang mana ini akan membawa manfaat bagi kaum Muslimin, maka operasi seperti ini diperbolehkan” Ia menukil pula dari Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani, katanya : “Jika seorang lelaki berjibaku ke arah Seribu Musyrikin,dan dia -benar-benar- seorang diri, maka hal seperti ini tidak mengapa, jika ia sangat berharap akan keberhasilan operasinya, atau menimbulkan kerugian pada pihak musuh “. Tafsir Al-Qurtubi (2/364)

Masalah-masalah yang berkenaan dengan penerjangan diri oleh seorang Muslim ke arah musuh dengan bilangan yang besar, demikian juga jibaku seorang diri ke tengah-tengah pasukan musuh, sangat erat dan persis kaitannya dengan masalah yang dialami oleh seorang Mujahid, yang berusaha menempatkan dirinya dalam posisi yang membahayakan jiwanya, dan melabrakkan diri ke dalam sekumpulan kaum kafir,dengan tujuan berusaha menimbulkan kematian, kerugian dan kerusakkan pada musuh. Maka operasi seperti ini disebut sebagai operasi Istisyhad.

Adalah bom syahid itu merupakan tehnik perang yang diperbolehkan dengan tujuan membuat musuh gentar, berdasarkan ayat berikut : “Dan persiapkanlah kekuatan apa yang bisa kamu kuasai dan menunggang kuda yang akan bisa membuat takut musuh-musuh Allah dan musuhmu.” (QS. Al Anfal: 60).

Penyebutan aksi bom bunuh diri adalah sebuah ejekan terhadap Syari’at ALLAAH yang suci ini. Sangatlah berbeda bunuh diri dengan bom syahid. Orang yang bunuh diri itu membunuh dirinya untuk kepentingan pribadinya sendiri. Sementara pejuang ini mempersembahkan dirinya sebagai korban demi agama dan umatnya. Orang yang bunuh diri itu adalah orang yang pesimis atas dirinya dan atas ALLAAH SWT. Orang yang bunuh diri itu ingin menyelesaikan dari dirinya dan dari kesulitannya dengan menghabisi nyawanya sendiri, sedangkan seorang mujahid ini membunuh musuh ALLAAH dan musuhnya dengan senjata terbaru ini yang telah ditakdirkan menjadi milik orang-orang lemah dalam menghadapi tirani kuat yang sombong. Mujahid itu menjadi bom yang siap meledak kapan dan di mana saja menelan korban musuh ALLAAH dan musuh bangsanya, mereka (baca: musuh) tak mampu lagi menghadapi pahlawan syahid ini. Pejuang yang telah menjual dirinya kepada ALLAAH, kepalanya ia taruh di telapak tangan-Nya demi mencari syahadah di jalan ALLAAH..

Mereka bukan orang-orang yang bunuh diri, bukan pula teroris, namun mereka melawan, perlawanan yang sah, melawan orang yang menduduki buminya beserta antek anteknya. Mereka yang telah mengusirnya dan keluarganya, merampas hak-haknya dan menyita masa depannya. Melarangnya berhukum dengan Hukum ALLAAH. Musuh itu masih terus melakukan permusuhannya kepada mereka, sementara Din mereka memerintahkan untuk membela dirinya, dan melarangnya untuk mundur dari buminya, yang itu termasuk bumi Islam.

Ada beberapa ‘Ulama yang mendukung aksi Bom Syahid ini antara lain :
1. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaili (Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus).2. Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili (Ketua Jurusan Fiqih dan Ushul Fiqih Fakultas Syariah Universitas Damaskus).3. Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi (Ketua Jurusan Theologi dan Perbandingan Agama Fakultas Syariah Universitas Damaskus).4. Dr. Ali Ash-Shawi (Mantan Ketua Jurusan Fiqih dan Perundang-undangan Fakultas Syariah Universitas Yordania).5. Dr. Hamam Said (Dosen Fakultas Syariah Universitas Yordania dan anggota Parlemen Yordania).6. Dr. Agil An-Nisyami (Dekan Fakultas Syariah Universitas Kuwait).7. Dr. Abdur Raziq Asy-Syaiji (Guru Besar Fakultas Syariah Univesitas Kuwait).8. Syaikh Qurra Asy-Syam Asy-Syaikh Muhammad Karim Rajih (ulama Syiria).9. Syaikhul Azhar (Syaikh Muhammad Sayyed Tanthawi).10. Syaikh AbduLLAAH bin Hamid (Mantan Hakim Agung Makkah Al-Mukarramah).

PENDAPAT IMAM AL JASSHASH, DARI MADZHAB HANAFIImam Al Jasshash, dari madzhab Hanafi, dalam kitabnya Ahkam Al Qur’an menyatakan bahwa tafsiran ayat 195 dalam surat Al Baqarah itu ada beberapa pandangan:
Pertama: apa yang diceritakan oleh Muhammad bin Abi Bakr, ia berkata: diceritakan dari Abu Dawud, ia berkata: diceritakan dari Ahmad bin ‘Amr bin Al Sarh, ia berkata: diceritakan dari Ibn Wahb dari Haiwah bin Syuraih dan Ibn Luhai’ah bin Yazid bin Abi Hubaib dari Aslam Abi Umar, bahwa ia berkata: Kami pernah menyerang kota Kostantinopel, dalam rombongan perang itu ada Abdurrahman bin Al Walid. Sedangkan orang-orang Romawi saling menyandarkan punggung-punggungnya ke tembok kota. Lalu ada seseorang yang di bawah menghampiri pihak musuh, “tunggu, tunggu….! Laa ILAAHA IllalLLAAH! Ia mau menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehancuran!” kata beberapa orang. Kemudian Abu Ayyub berkomentar:”Ayat ini tak lain diturunkan kepada kami, kaum Anshar, ketika ALLAAH SWT memberikan pertolongan kepada Nabi-NYA dan memenangkan agama Islam, lalu kami berkata:”Ayo kita tegakkan harta kekayaan kita dan memperbanyaknya. Lalu turunlah ayat yang artinya:”Dan belanjakanlah pada jalan ALLAAH, dan jangan menjerumuskan diri kamu ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195). Maka arti menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu artinya adalah memperbanyak harta dan meninggalkan jihad.”
Abu Imran berkata:”Abu Ayyub masih saja berjihad di jalan ALLAAH hingga dimakamkan di Kostantinopel.” [i] Abu Ayyub menceritakan bahwa menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan itu adalah meninggalkan jihad fisabilillah, dan ayat yang menunjukkan hal itu sudah diturunkan. Pendapat yang sama juga diriwayatkan dari Ibn Abbas, Hudzaifah, Hasan Al Bashri, Qatadah, Mujahid dan Al Dhahak. Diriwayatkan dari Al Barra’ ibn Azib dan Ubaidah Al Salmani: bahwa menjerumuskan ke dalam kebinasaan itu adalah pesimis dengan ampunan karena melakukan kemaksiatan.
Kedua: Berlebih-lebihan dalam berinfaq sampai tidak bisa makan dan minum sampai akhirnya binasa.

Ketiga: Menerobos perang langsung tanpa bermaksud menyerang musuh. Inilah yang diartikan oleh beberapa orang dalam riwayat di atas yang kemudian ditentang oleh Abu Ayyub sambil menyertakan sebab turunnya ayat tersebut.

Ketiga pandangan itu bisa memenuhi arti yang dimaksud oleh ayat di atas karena ada kemungkinan-kemungkinan atas lafadznya. Atau bisa dikorelasikan antara keduanya tanpa harus ada kontradiksi didalamnya.
Adapun tafsiran yang mengatakan bahwa maksudnya adalah seseorang dibawa di arena musuh, maka Muhammad bin Al Hasan pernah menyebutkan dalam Al Siyar Al Kabir: “kalaupun ada seseorang dibawa kepada seribu orang, ia sendiri tidak ada masalah, jika ia ingin selamat atau menyerang. Namun jika tidak ingin selamat dan tidak pula menyerang, maka saya tidak setuju karena ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan tanpa ada manfaat buat kaum Muslimin. Sedangkan jika ia tidak mau selamat atau tidak mau menyerang, tapi ingin membuat kaum Muslimin lebih berani dan melakukan seperti apa yang ia lakukan sampai mereka terbunuh dan bisa membunuh musuh, maka hal itu tidak apa-apa, insya ALLAAH. Karena kalaupun ia ingin menyerang musuh dan tidak ingin selamat, maka saya melihatnya tidak apa-apa untuk dilemparkan kepada musuh. Begitu pula jika ia menyerang yang lainnya dalam kelompok tersebut, maka itupun tidak apa-apa. Dan saya mengharap perbuatannya itu dapat pahala. Yang tidak boleh itu adalah sebagai berikut: jika dilihat dari beberapa sudut pandang, perbuatan itu tidak ada manfaatnya, walaupun ia tidak ingin selamat dan tidak mau menyerang. Namun jika perbuatan itu membuat takut musuh, maka hal itu tidak apa-apa karena cara ini adalah cara yang paling tepat dalam menyerang, dan juga sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin”.

Imam Al Jasshash berkata: Apa yang dikatakan oleh Muhammad tentang pendapat-pendapat itu adalah benar, dan tidak ada pendapat yang lain lagi. Maka tafsiran dalam riwayat Abu Ayyub yang mengatakan bahwa ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan, itu ditafsirkan dengan membawanya kepada pihak musuh, karena bagi mereka hal itu tidak ada manfaatnya. Jika memang begitu maka tidak boleh ia memusnahkan dirinya tanpa ada manfaat bagi agama dan bagi kaum muslimin. Namun jika dalam pemusnahan diri itu ada manfaat bagi agama, maka ini adalah kedudukan yang sangat mulia. Karena ALLAAH SWT telah memuji para shahabat Nabi SAW yang melakukan hal itu dalam banyak firman-Nya. Diantaranya adalah:
Kalam ALLAAH yang artinya: “Sesungguhnya ALLAAH telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan ALLAAH, lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (QS. At Taubah: 111).

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan ALLAAH itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi RABB Nyadengan mendapat rezki.” (QS. Ali Imran: 169).

“Dan di antara insan ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan ALLAAH.” (QS. Al Baqarah: 207).
Dan beberapa ayat lagi yang menceritakan tentang pujian ALLAAH terhadap orang mengorbankan jiwanya untuk ALLAAH SWT.

Imam Al Jasshash melanjutkan:”Oleh karena itu hukum amar ma’ruf nahi munkar harus berbentuk ketika ia menginginkan kemanfaatan bagi agama, lalu mengorbankan jiwanya sampai terbunuh, maka ia mendapatkan kedudukan syuhada yang paling tinggi. Karena Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan suruhlah (insan) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh ALLAAH).” (QS. Luqman: 17).

Telah meriwayatkan Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:”Semulia-mulia syahid adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang berbicara dengan kalimat yang benar di hadapan penguasa tiran lalu ia terbunuh.”   Abu Sa’id Al Khudri meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda yang artinya: “Jihad yang paling mulia adalah berkata yang benar dihadapan penguasa tiran.”  Imam Al Jasshash di sini menyebutkan hadits Abu Hurairah yang artinya: “Sejelek-jelek orang adalah yang sangat kikir dan sangat penakut.”   Imam Al Jasshash menambahkan lagi:”Cara menanggulangi sifat penakut adalah dengan memunculkan dalam dirinya sifat berani yang akan membawa manfaat bagi agama walaupun ia tahu itu akan membawa malapetaka.” Wallahu A’lam Bish Shawab.

PENDAPAT IMAM AL QURTHUBI, DARI MADZHAB MALIKIImam al Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: Ulama telah berbeda pendapat tentang masuknya seseorang dalam perang dan melawan musuh dengan sendirian. Maka Al Qasim bin Mukhirah dan Al Qasim bin Muhammad, termasuk ulama kami, berpendapat: Tidak apa-apa satu orang berhadapan dengan pasukan besar jika memang ada kekuatan dan niat ikhlas hanya kepada ALLAAH saja. Jika tidak mempunyai kekuatan maka itu namanya kebinasaan.”

Pendapat lain: jika ada yang ingin mati syahid dan niatnya ikhlas, maka boleh dibawa. Karena tujuannya adalah salah insan ada yang menjual dirinya demi mencari keridhaan ALLAAH.” (QS. Al Baqarah: 207).

Ibnu Khuwaiz Mindad berkomentar: Adapun satu orang dibawa melawan seratus orang atau sejumlah kekuatan pasukan perang, atau kelompok pencuri dan penjegal, maka ada dua kondisi: pertama, ia tahu dan kemungkinan besar terbunuh. Tapi ia selamat, maka itu yang terbaik. Kedua, begitu juga kalau ia tahu dan kemungkinan besar akan terbunuh, tetapi ia akan menyerang atau terluka, atau bisa memberikan pengaruh yang cukup berarti bagi kaum muslimin, maka itupun diperbolehkan juga. Sebab telah sampai kepadaku berita bahwa pasukan umat Islam tatkala bertemu dengan pasukan Persia, kuda-kuda kaum muslimin lari dari pasukan gajah. Lalu ada seseorang dari mereka sengaja membikin gajah dari tanah, agar kudanya bisa jinak tidak liar lagi saat melihat gajah. Esok harinya, kudanya sudah tidak liar lagi melihat gajah, lalu dihadapkan kepada gajah yang kemarin menghadangnya. Ada orang yang berkata:”Ia akan membunuhmu!”, “Tidak apa-apa saya terbunuh asalkan kaum Muslimin menaklukkan Persia!”jawabnya kemudian. Begitu juga pada peristiwa perang Yamamah, tatkala Bani Hudzaifah bertahan diri di kebun-kebun milik mereka, ada seseorang yang berkata kepada pasukan:”Taruh aku di dalam sebuah perisai dan lemparkan ke arah musuh!” Segerelah anggota pasukan muslimin melemparkannya ke dalam kebun, lalu bertarunglah Ia sendirian sampai akhirnya bisa membuka pintu kebun.

Imam Qurthubi melanjutkan ucapannya: Dari sisi ini, ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Nabi SAW: “Ya RasuluLLAAH, menurut baginda apakah yang aku dapatkan jika aku berjihad di jalan ALLAAH dengan sabar dan mengharap ridha ALLAAH?”, “Kamu akan mendapatkan surga.” jawab Nabi SAW. Lalu orang itu terjun menerobos pasukan musuh hingga terbunuh.   Dalam shahih Muslim, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW menarik mundur tujuh orang Muhajirin dan dua orang dari Anshar. Ketika orang-orang Quraisy mendesaknya, beliau berkata:”Siapa yang berani menghadang mereka, ia akan mendapatkan surga?”. Lalu seorang dari Anshar maju ke depan melawan mereka hingga ia terbunuh. Satu persatu mereka lakukan hal yang sama, sampai ketujuh-tujuhnya mati syahid semuanya. Kemudian Nabi SAW berkata:”ShahabatKu belum melakukan peperangan yang sebenarnya!”. Ucapan beliau itu ditujukan kepada para shahabat yang lari tidak menjaga beliau saat diserang oleh pasukan Quraisy.  .

Kemudian Imam Qurthubi menyebutkan ucapan Muhammad bin Al Hasan: Kalaupun satu orang dibawa berhadapan dengan seribu orang kaum musyrik sendirian, itu tidak mengapa jika memang ia ingin selamat atau menyerang musuh. Namun jika sebaliknya, hal itu dibenci (makruh), karena ia mempersilahkan dirinya untuk binasa tanpa memberikan manfaat buat kaum muslimin. Dan seterusnya.

PENDAPAT IMAM AR RAZI, DARI MADZHAB SYAFIIImam Ar Razi berkata dalam tafsirnya: yang dimaksud dengan Kalam ALLAAH:”Janganlah kamu menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan” adalah janganlah kamu melakukan serangan kepada musuh dalam sebuah peperangan yang tidak menghasilkan manfaat apa-apa. Dan kamu tidak memiliki tebusan selain membunuh dirimu sendiri, kalau seperti itu maka tidak boleh. Yang diperbolehkan itu adalah jika sangat berhasrat sekali untuk menyerang, walaupun ia takut terbunuh.

Sedangkan jika ia pesimis dengan penyerangan dan kemungkinan besar ia nanti terbunuh, maka ia tidak boleh melakukan hal itu. Pendapat ini disampaikan oleh Al Bara’ bin Azib. Dinukil dari Abu Hurairah bahwa ia mengomentari ayat ini dengan ucapannya:”Ia adalah orang yang independen di antara dua kubu”. Imam Ar Razi melanjutkan: di antara orang ada yang mengartikan salah, yaitu dengan mengatakan: pembunuhan semacam ini tidak haram dengan menggunakan beberapa dalil, diantaranya:

Pertama: diriwayatkan bahwa ada seorang dari kaum Muhajirin dibawa berhadapan dengan musuh sendirian, kemudian orang-orang meneriakinya: “Ia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan!”. Lalu Abu Ayyub Al Anshari menjelaskan duduk perkaranya seperti yang disampaikan oleh Imam Al Jashash di atas.

Kedua: Imam Syafii meriwayatkan bahwa RasuluLLAAH SAW pernah menyebutkan surga, kemudian ada seorang dari Anshar berkata:”Ya RasuluLLAAH, bagaimana jika aku terbunuh karena kesabaran dan mengharap ridha ALLAAH semata?”, “Untukmu surga!”jawab Rasul. Kemudian lari menyerbu ke pasukan musuh hingga syahid dihadapan Rasulullah SAW. Juga ada seorang Anshar melemparkan baju besinya saat mendengar Rasulullah SAW menyebutkan surga tadi, lalu menyerang musuh sampai ia terbunuh.

Ketiga: Diriwayatkan bahwa ada seorang dari Anshar yang tidak ikut perang Bani Muawiyah. Kemudian ia melihat burung bergerombol dekat dengan temannya yang meninggal. Lalu ada seseorang yang bersamanya segera berkata:”Saya akan maju melawan musuh agar membunuhku, dan aku akan ikut perang yang didalamnya teman-temanku terbunuh!”. Orang itupun melakukannya, kemudian cerita itu diceritakan kepada Nabi SAW yang kemudian ditanggapinya dengan positif.

Keempat: Diriwayatkan ada suatu kaum sedang mengepung benteng, lalu ada seseorang berperang hingga meninggal. Dikatakan bahwa orang yang meninggal itu menjerumuskan dirinya sendiri kepada kebinasaan. Berita itu terdengar oleh Umar bin Khatab ra. Kemudian beliau mengomentarinya:”Mereka itu bohong. Bukankah Allah SWT sudah berfirman dalam Al Qur’an (yang Artinya):”Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah.”

Adapun orang yang mendukung tafsiran ini menjawab dalil-dalil di atas dengan mengatakan: kami hanya melarang hal itu jika tidak ada bentuk serangan (perlawanan) kepada musuh, tapi kalau serangan itu ada maka kami membolehkannya.

PENDAPAT IBNU KATSIR DAN IMAM THABARIIbnu Katsir meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Al Bara’ bin Azib Al Anshari:”Jika aku dibawa dihadapkan kepada musuh lalu mereka membunuhku, apakah aku masuk dalam kategori menjerumuskan diri ke dalam kebinasan?”, “Tidak!”jawabnya, lalu melanjutkan:”ALLAAH telah berKalam kepada Rasul-NYA (yang artinya):”Maka berperanglah di jalan ALLAAHsebab tidak dibebani selain dirimu sendiri.” Ayat “menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan” itu dalam bab nafakah, maksudnya tidak memberikan nafakah (infaq) dalam jihad. [ix]

Imam Thabari meriwayatkan dengan sanadnya sendiri dalam tafsirnya, dari Abu Ishaq Al Subay’i berkata: Aku bertanya kepada Al Bara’ bin Azib (shahabat):”Wahai Abu Immarah, ada seseorang yang berhadapan dengan seribu musuh sendirian. Biasanya kondisi semacam ini, orang yang sendirian ini selalu kalah dan terbunuh. Apakah tindakan ini termasuk dalam kategori Kalam ALLAAH:”Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan”?, “Tidak, ia berperang sampai terbunuh. Karena ALLAAH berKalam kepada Nabi-NYA Maka berperanglah di jalan ALLAAH, karena tidak dibebankan kecuali dirimu sendiri.” (QS. An Nisa’: 84).  Tafsir Ibn Katsir; 1/229. cet. El Helbi.

PENDAPAT IBNU TAIMIYAHPendapat yang hampir sama juga dikemukan oleh Ibn Taimiyah dalam kitab “Fatawa” nya tentang memerangi kaum Tatar. Berdasarkan dalil dari riwayat Imam Muslim dalam kitab “Shahih” nya dari Nabi SAW tentang kisah Ashhabul Ukhdud. Cerita itu mengkisahkan seorang bocah memerintahkan (kepada sanga raja) untuk membunuh dirinya, demi kemenangan agama (yang diyakininya) ketika meminta kepada algojo-algojo raja agar membaca: BismiLLAAH RABBI Ghulam (Dengan nama ALLAAH RABB Bocah ini) saat melemparkan panah ke arahnya. Ibn Taimiyah melanjutkan: Oleh karena itu para Imam yang empat memperbolehkan seorang muslim menyerbu sendirian dalam kubu pasukan musuh, walaupun kemungkinan besar mereka akan membunuhnya. Jika memang di situ ada kemaslahatan bagi kaum muslimin. Kami telah beberkan panjang lebar masalah ini dalam beberapa tema yang lain  Lihat Majmu’ Fatawa Syeikhil Islam Ibn Taimiyah; 28/540

PENDAPAT IMAM ASY SYAUKANI Imam Asy Syaukani dalam tafsirnya “Fath Al Qadir” menjelaskan: yang benar dalam masalah ini adalah dengan memegang pada keumuman lafadz, bukan sebaliknya memegang teguh pada kasuistis (sebab turun ayat). Maka segala apa yang masuk dalam artian kebinasaan di dalam agama atau dunia, itu masuk dalam kategori ini. Termasuk dalam kategori ayat adalah masalah berikut: bila seseorang menyerbu dalam peperangan lalu dibawa berhadapan dengan pasukan besar, padahal ia yakin tidak bakal selamat dan tidak bisa mempengaruhi semangat perjuangan kaum Muslimin.

Fath el Qadir,  Asy Syaukani; 1/262. cet; Daar el Wafa’, Mesir

dikutip dari : Rahwana Dasamuka, Indahnya menjadi Pelaku Bom Bunuh Diri  (www.politikana.com)

About these ads
Categories: Journally
  1. antaliga
    June 19, 2013 at 10:24 pm

    Assalamualaikum wr wb
    Mas tolong dong di jelaskan tentang “hadits Ghulam (Pemuda) yang kisahnya terkenal, terdapat dalam shaih Bukhari, ketika ia menunjukkan musuh cara mati syahid, lalu musuh itupun membunuhnya sehingga ia mati dijalan ALLAH” tolong ya mas jelaskan pada BAB apa dan nomer berapa agar saya mudah mencarinya dan juga “Salamah bin Al-Akwa dan Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu Qatadah terhadap Uyainah bin Hishn”

    Terimakasih dan Wassalamualaikum wr wb.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,733 other followers