Benar bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah kaprah. Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah.
Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman AllahTa’ala: “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan rahmatan lil ‘alamin (sebagai rahmat bagi seluruh manusia)” (QS. Al Anbiya: 107)
Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam diutus dengan membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.
Secara bahasa arab, rahmat artinya ar-rifqu wa ath-tha’athuf; kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (LihatLisaanul Arab, Ibnul Mandzur). Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Read more…
Like this:
Be the first to like this post.
Dalam surat yang dikirim kepada suku Najran yang beragama Nasrani, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menyampaikan seruan sebagai berikut:
فإني أدعوكم إلى عبادة الله من عبادة العباد
“Sesungguhnya aku menyeru kalian kepada penghambaan Allah ta’aala semata dan meninggalkan penghambaan sesama hamba.” (HR Al-Baihaqi 2126)

Demikianlah, Islam datang membawa seruan abadi agar manusia hanya menghambakan diri kepada Allah ta’aala semata. Ajaran Allah ta’aala tidak membenarkan adanya penghambaan antara sesama hamba. Manusia tidak dibenarkan untuk menghamba kepada sesama manusia. Pengertian menghamba kepada sesama hamba bukan hanya dalam bentuk manusia bersujud di hadapan manusia lainnya. Tetapi pengertiannya mencakup ketaatan mutlak kepada sesama manusia.
Pihak yang menerima penghambaan manusia disebut ”Ilah” yang biasa diterjemahkan sebagai ”tuhan” dalam bahasa Indonesia. Sesungguhnya ”Ilah” mengandung setidaknya tiga pengertian, yaitu: ”yang dicintai, yang dipatuhi dan yang ditakuti.” Read more…
Like this:
Be the first to like this post.

Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon ampun dan meminta petunjuk kepada-Nya. Kami pun berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal-amal kami.
Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Kami bersaksi bahwa tidak ada ilah yang Haq selain Allah, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan
janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ’Imran [3]: 102)
قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (QS. An-Nisâ’ [4]:1) Read more…
Like this:
Be the first to like this post.
”Pertempuran Hati dan Pikiran”
Sheikh Awlaki
Dalam nama Allah, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang!
Segala puji adalah untuk Allah dan damai dan berkat pada kami Nabi Muhammad dan para sahabatnya benar dan pengikutnya
Saudara dan saudari
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, kita meminta kepada Allah SWT untuk menerima semua upaya kami. Kami meminta kepada Allah SWT bahwa ia memberikan kita dengan pengetahuan yang bermanfaat.
Seperti yang telah mengumumkan bahwa topik kuliah ini adalah “Pertempuran Hati dan Pikiran”, dan aku mulai dengan, membaca untuk Anda sebuah kutipan dari sebuah laporan dari Rand Institute di 2007 yang menyatakan bahwa:
- “Perjuangan berlangsung di banyak dunia Muslim pada dasarnya adalah sebuah perang gagasan, hasilnya akan menentukan arah masa depan dunia Muslim”. Read more…
Like this:
Be the first to like this post.
Ini adalah sebuah kebiasan baru yang terjadi di saat telah dekat hari penghakiman, bahwa orang-orang datang dan mambuat alasan untuk pemimpin-pemimpin, mereka mengutip dari Ibnu Abbas yang berkata kafirr duna kafir pada ayat dimana Allah berfirman,
…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS Al Maidah 5 : 44)
Ini adalah ayat yang digunakan banyak orang untuk membuktikan bahwa penguasa adalah bukan kafir. Namun ayat ini sangat jelas, bahwa siapa saja yang melakukannya demikian adalah kafir, mereka berharap untuk dapat memutar balikan ayat ini, dan menyandarkan pada Ibnu Abbass bahwa dia pernah berkata bahwa kafir yang dimaksudkan ayat ini adalah, kafir duna kafir, dan oleh karena itu mereka menyimpulkan bahwa pemimpin saat ini adalah bukan kafir.
Kafir berarti kebalikan dari iman, begitu juga ketika Allah (swt) berfirman bahwa “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” Kita tidak bisa sekarang mngatakan bahwa mereka adalah muslim, atau mereka itu adalah kurang kafir dari kafir
Lebuh lanjut, alasan mengapa orang-orang-menyebut mereka kufur adalah bukan karena ayat ini, bagaimanapun itu adalah sesuatu yang mudah terbukti bahwa mereka kafir bahkan tanpa ayat ini sekalipun. Penguasa-penguasa yang ada adalah kafir karena beberapa alasan: Read more…
Like this:
Be the first to like this post.
Kajian Rutin Malam Ahad
Ahad Pertama
Mubaligh : Ustadz Heri
Tema : Al Wala’ Wal Baro’
Judul : AL-WALA’ WAL BARA’ BAGIAN DARI KONSEKUENSI ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’
بسم الله الرحمن الرحيم
Dasar wala’ adalah kecintaan dan bara’ adalah kebencian. Dari keduanya lahirlah sebagian perbuatan hati dan anggota badan yang termasuk hakikat Al-wala wal Bara’ (loyalitas dan antiloyalitas), seperti membela, mengasihi, memebantu, berjihad, hijrah dan sejenisnya, maka Al-wala’ wal bara’ merupakan bagian dari konsekuensi Laa ilaaha illallah. Dalil-dalilnya cukup banya, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Diantara dalil-dalil Al-Qur’an itu adalah;
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali-Imran: 28) Read more…
Like this:
Be the first to like this post.

Cahaya Islam memasuki tanah air Bangsa Moro pada tahun 1310 M (sekitar 710 H) melalui para pedagang Arab, perantau, pengembara Sufi, dan para dai. Institusi-institusi politik dan pengaruh islami berasal dari Sumatera melalui kedatangan Raja Baginda Ali dengan menteri dan prajuritnya. Islam berkembang pesat sehingga berdirilah negara muslim Sulu dan Maguindanao pada tahun 1830. Sultan pertama dari Kesultanan Sulu ialah Sayyid Abu Bakar. Kesultanan ini merupakan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, yang memiliki hubungan diplomatik dan perdagangan dengan negara-negara lain di wilayah tersebut. Sedangkan Syarif Muhammad Kabungsuan, seorang Arab Melayu dari Malaysia, mendirikan Kesultanan Maguindanao yang berada di pulau kedua yang terbesar dan terkaya di Filipina. Read more…
Like this:
Be the first to like this post.
Anshor Thogut
oleh :
Ust. Abu Sulaiman Aman Abdurrahman, Fakallohu Ashroh
Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘aalamiin, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya.
Amma ba’du:
Ikhwani fillah, materi kita hari ini adalah tentang Anshar thaghut (pembela atau pendukung thaghut).
Pada uraian-uraian yang lalu kita sudah mengetahui tentang status thaghut, baik si thaghut itu adalah hukum buatan ataupun si pembuat hukumnya itu sendiri atau berupa orang yang menerapkan hukumnya.
Jadi, siapa yang dimaksud dengan anshar thaghut itu dan bagaimana status mereka serta apa saja dalil-dalilnya yang menunjukkan terhadap hukumnya tersebut? Kita akan mengetahuinya setelah menyimak penjelasan berikut ini… insya Allah.
Yang dimaksud dengan Anshar Thaghut adalah orang-orang yang membela-bela atau berjuang atau berperang untuk membela dan mempertahankan thaghut, baik dengan lisan, tulisan ataupun dengan kekuatan (senjata). Read more…
Like this:
Be the first to like this post.

Yang Tegar di Jalan Jihad
Syaikh Yusuf Al Uyairi
Muqodimah
Segala puji bagi Alloh, Dzat Yang telah mensyariatkan ajaran yang lurus bagi kita semua serta menunjukkan kepada kita jalan yang lurus. Semoga sholawat dan salam tercurah selalu kepada pengajar seluruh makhluk, kepada ciptaan Alloh yang terbaik, pemuka Bani Adam, Muhammad bin Abdulloh, semoga sholawat terbaik dan salam paling sempurna tercurahkan selalu kepada beliau, kepada keluarga serta para shahabat beliau seluruhnya.
Wa ba‘du…
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap jalan perjuangan itu ada perkara-perkara baku yang tak bisa dilanggar serta ada hal-hal yang bersifat elastis, bisa berubah-ubah sesuai kondisi. Perkara yang baku tidak boleh berubah ataupun terganggu dengan berubahnya zaman, tempat atau tokoh. Rasa mantab dan yakin terhadap perkara baku ini karena kebakuannya disandarkan kepada nash-nash yang kokoh dan pengetahuan yang absolut sehingga tidak mungkin ia akan terganti atau berubah. Perkara-perkara prinsip ini tak ubahnya gunung yang menjulang, memiliki mercusuarmercusuar yang sangat terang sehingga setiap orang yang menempuh jalan bisa menja-dikannya sebagai lentera petunjuk. Sebaliknya dengan perkara-perkara yang elastis, ia adalah perkara bersifat kasuistik yang muncul di antara perkara-perkara baku, hal-hal elastis ini hanya bersifat cabang, bukan prinsip, ia bisa berubah-ubah sesuai perubahan zaman, tempat dan generasi. Hal-hal yang elastic ini memiliki kaidah-kaidah syar`i bersifat umum di mana perinciannya disesu-aikan mengikuti ilmu-ilmu pengantar yang ditetapkan para mujtahid dengan tetap berlandaskan dalil-dalil syar‘i, perkara ini bisa didiskusikan dan didialogkan. Read more…
Like this:
Be the first to like this post.
comments