Fenomena Caleg Stress,
Karena harta dan ambisi bukan ketulusan melayani
Ada apa dengan para calon pemimpin ini? Apa sebenarnya yang mereka siapkan untuk menduduki kursi kepemimpinan? Pertanyaan itulah yang langsung terbesit dalam pikiran saya ketika mendengar fenomena caleg yang stress karena rakyat tidak memilihnya dalam pemilu kemarin. Melihat fenomena ini, bisa kita ketahui apa sebenarnya motif para caleg ini. Meskipun jawabannya memang sudah menjadi rahasia umum. Tapi tak ada salahnya jika kita mengkajinya lebih dalam.
Banyak rupiah telah dikeluarkan untuk meraih simpati masyarakat, hingga mereka harus rela menjual ini itu demi ambisinya menjadi anggota legislatif yang nantinya akan menjadi pengurus pemerintahan ini. Entah apa yang ada dalam benak mereka hingga mereka begitu berani mencalonkan diri menjadi pemikul tugas berat, yaitu menjadi wakil rakyat. Padahal untuk menjadi wakil rakyat itu tidaklah hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga keilmuan untuk menopang mental spiritual mereka, di saat masyarakat terombang-ambing, terbawa arus negatif globalisasi, westernisasi dan lain-lain. Apa mereka tahu apa yang harus mereka lakukan? Apakah mereka hanya “merasa” mampu mengatasi segala problematika yang terjadi di masyarakat. Patologi sosial, dekadensi moral, kemiskinan, pendidikan, globalisasi dll telah begitu akut menjangkit masyarakat kita sekarang ini. Ataukah hanya ambisi untuk menduduki kekuasaan yang mereka pikir dengan itu mereka bisa melakukan dan mendapatkan segalanya? Kehormatan, tahta, uang, wanita. Apakah itu tujuan mereka?? Read the rest of this entry »



























