Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on May 22, 2009
Sebuah Imperium Menunggu Rubuh
Oleh: Amran Nasution
Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Amerika teramat sulit dilupakan. Betapa tidak? Dalam merintis karir militer, ia mondar-mandir menuai ilmu di negeri itu. Ia sempat dua kali mengikuti program latihan militer di Fort Benning, Georgia, di tahun 1976 dan 1982. Lalu, sekolah staf dan komando, 1991, ia tempuh di Fort Leavenworth, Kansas, tempat penggodokan para perwira yang amat bergengsi itu. Gelar S2, ia raih di universitas di sana. Tentu tak banyak perwira Indonesia yang begitu intens menimba ilmu dari negeri yang punya pemenang nobel terbanyak di dunia. Read the rest of this entry »
Posted in pandangan | Tagged: democrazy | 1 Comment »
Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on May 22, 2009
ISLAM DAN PANCASILA
Menyikapi Penolakan BEM Se-Madura Terhadap Syariat Islam
Jumat 22 Mei kemarin seluruh BEM se-Madura menggelar aksi unjuk rasa menolak penerapan Perda Syariat di empat kabupaten di Madura. Menurut mereka pemberlakukan Perda syariat Islam ini bertentangan dengan dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Pemberlakuan Syariat Islam juga bisa menimbulkan perpecahan dan disintegrasi bangsa. Alasan itu dikemukakan oleh Presma Sekolah Tinggi AGAMA ISLAM Negeri (STAIN) Pamekasan. “Madura bukan daerah istimewa seperti Aceh., jadi tak seharusnya meniru Aceh”, jelasnya lantang. Read the rest of this entry »
Posted in pandangan | Tagged: democrazy, islam | 4 Comments »
Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on May 22, 2009
“I love the United State, with all its faults. I consider it my second country”
(Saya mencintai Amerika dengan segala kesalahannya, saya anggap Amerika adalah negeri kedua saya)
Itulah ungkapan SBY tentang negeri keduanya Amerika pada suatu kesempatan mengunjungi Amerika di tahun 2003 sebagai Menko Polkam yang dikutip dari Al Jazerra pada tanggal 6 Juli 2004 dan kemudian menjadi bagian tulisan seorang Mantan Redaktur Majalah Gatra dan Tempo yang kini bergiat di Institute for Policy Studies (IPS) Jakarta, Amran Nasution yang berjudul “Sebuah Imperium Menunggu Rubuh”(klik untuk tulisan lengkapnya). Read the rest of this entry »
Posted in pandangan | Tagged: democrazy, SBY | Leave a Comment »
Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on May 22, 2009
Gedung Sabuga Bandung menjadi saksi akan kemewahan hajat Deklarasi SBY-Boedi pada 15 Mei 2009 kemarin yang menghabiskan dana sebesar 1,5 Milyar. Hajatan yang menuai kontroversi dari berbagai pihak. Kemewahan acara ini dinilai berlebihan dan tidak mencerminkan sikap toleransi yang tinggi sebagai seorang kepala Negara. Bagaimana tidak, 1,5 M hanya untuk deklarasi capres-cawapres saja. Bayangkan saja bila SBY memenangkan Pilpres, kemewahan apalagi yang akan di pamerkan untuk perayaannya? Read the rest of this entry »
Posted in pandangan | Tagged: democrazy, SBY | Leave a Comment »
Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on May 15, 2009
Jakarta – Dari 3 pasang capres/cawapres yang akan berlaga di Pilpres 2009, tak ada satu pun tokoh yang berlatar belakang parpol atau organisasi Islam. Hal ini dinilai sebagai kegagalan parpol Islam menggalang kekuatan.
“Koalisi yang ada tidak mencerminkan kekuatan Islam. Meskipun umat Islam mayoritas, namun aktualitasnya minoritas,” kata pengamat politik dari UI Lili Romli saat dihubungi detikcom, Jumat (15/5/2009). Read the rest of this entry »
Posted in News | Tagged: democrazy | Leave a Comment »
Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on April 24, 2009
Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi
Makna Theo-Demokrasi
Konsep theo-demokrasi merupakan konsep sistem politik Islam yang digagas oleh Abul A’la Al-Maududi (lahir 1903), ulama Pakistan yang mendirikan gerakan Islam Jamaat-e-Islami pada tahun 1940-an. Konsep itu dituangkan dalam bukunya yang terkenal Al-Khilafah wa al-Mulk (Khilafah dan Kerajaan) yang terbit di Kuwait tahun 1978. Read the rest of this entry »
Posted in pandangan | Tagged: democrazy | Leave a Comment »
Posted by Ally Muhammad Abduh Al Afghani on April 16, 2009
Telah masyhur bahwa pemahaman demokrasi berasal dari masyarakat Yunani Kuno. Athena, sebagai pusat pemerintahan masyarakat Yunani Kuno, telah membumikan pemahaman demokrasi pada masyarakatnya. Masyarakat telah dilibatkan langsung dalam menentukan pemerintahnya melalui penggunaan hak dipilih dan memilih.
Meskipun hak politik ini masih tidak diberlakukan kepada kaum wanita, budak, atau yang berstatus warga asing. Athena menjadi benih masyarakat yang liberal (yang memiliki kebebasan) bagi rakyatnya untuk menentukan sendiri pemerintahannya. Inilah yang diistilahkan dewasa ini dengan masyarakat yang demokratis. Masyarakat yang warganya memiliki kebebasan untuk menentukan masa depan kehidupan bangsanya. Read the rest of this entry »
Posted in pandangan | Tagged: democrazy | Leave a Comment »