Home > Gudang Sastra > Ketika Kuncup Itu Bersemi

Ketika Kuncup Itu Bersemi

Tumbuhlah semakin lebat kuncup-kuncup cinta

Lurus menembus ilalang-ilalang tua

Harus ku akui sepenuhnya, pucuk cinta hanya di linangan tinta

Bergelut memeluk nama, dan jingganya hati yang mencinta

Mesra keinginan dan harapan bercumbu dalam angan

Menanti torehan tinta nyata dalam sebuah ucapan jiwa

Kusimpan harap setiap hari

Di setiap sela-sela tembusan mentari kala pagi

Di terkam-terkam surya kala berdiri

Jua di kala ia melukis mega di kemilau senja

Ku padu asa dan rindu kala hari menyendu

Di tepi-tepi sinar purnama

Di setiap kedipan centil bintang-bintang kecil

Hingga saat semua tiada dan kembali mentari menjadi raja

Alunan mesra kidung cinta makin meraja

Karena setiap malam bintang itu selalu bersenandung lagu-lagu kerinduan

Tentang jemari yang tak henti menebar bait-bait asa

Katakanlah jika cinta itu memang tak ada

Agar semakin gila ku berusaha

Katakanlah jalanku berujung buntu

Biar ku taruhkan keringat tuk menyibak semak belukar atau menapaki jalan terjal berbatu

Katakanlah semua tentang arti pengorbanan

Agar semakin kau tau bahwa

Aku hanya seseorang dengan satu keping semangat dan hanya berpunya kaki untuk berlari dan hati untuk mencintai

Serta tekad yang tak bisa dibeli

Atau ceritakan kepadaku tentang perjuangan

Agar kan ada bercak keringat terserak sia-sia atau percuma

Karena cinta bukanlah hanya angan-angan

Itulah kenyataan dalam perasaan

Atau ceritakan kepadaku arti sebuah kegagalan

Agar ku tunjukan sebuah celah dalam jiwa untuk menebusnya

Ceritakan jua kepadaku siapa diriku, agar mereka tau

Aku hanyalah sebatang gaharu yang selalu ingin terbakar terlebih dahulu

Maka kan kuceritakan kepadamu

Tentang semua cerita hati galau dan pilu membiru

Biarlah hanya tulisan ini tertumpah ruah

Berserak tak berletak mencari arah

Hingga pengakuan menjadi penyatunya….

Singaparna120408/18:45pm

Tasikmalaya120408/21:58pm

Advertisements
Categories: Gudang Sastra
  1. December 5, 2008 at 12:38 pm

    menjadi sesuatu yang menyayat
    bila kuncup bunga itu mulai jatuh dari dahanya..
    padahal, sudah ada putik yang menjadi pusatnya..
    pusat dari kebahagiaan yang ditempuh dengan umur tak terjangkau..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s