Home > Journally > Prita Mulyasari, korban mutilasi hak asasi

Prita Mulyasari, korban mutilasi hak asasi

Ibu Prita Mulyasari, seorang ibibuprita-anaku dua orang anak ini sudah 20 hari mendekam di sel tahanan. Pasalnya beliau adalah tersangka atas tuduhan pencemaran nama baik RS Omni Tangerang dengan e-mail beliau yang dikirim ke teman-temannya dan tulisan beliau di surat pembaca www.detik.com berisi keluhan beliau saat dirawat di RS Standar Internasional itu. Alhasil, Ibu Prita bukan mendapat balasan yang baik atas complainnya itu, beliau malah dituntut dan ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang.

Selama dirawat di RS itu beliau mendapat perlakuan yang kurang mengenakan. Pihak RS mengklaim beliau positif menderita Demam Berdarah, namun Ibu Prita tidak diberi spesifikasi mengenai penyakit apa yang beliau derita karena beliau hanya diberi suntikan-suntikan obat dosis tinggi hingga menyebabkan keadaannya semakin memburuk. Infusan di kedua tangannya membuat kedua tangan beliau membengkak, dan suntikan-suntikan obat berdosis tinggi yang sangat menyakitkannya itu telah membuat beliau menderita sesak nafas selama beberapa menit. Leher dan mata kiri beliau juga mulai membengkak. Setelah dibawa ke RS lain ternyata bengkakan di leher itu adalah penyakit anak-anak, yaitu gondongan. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Betapa jauhnya analisa RS Omni dan RS baru yang didatangi beliau itu. RS Omni telah membohongi beliau dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga beliau mengalami sesak napas.

Pemerintah tidak melakukan apa-apa atas apa yang dialami oleh Ibu Prita. Buktinya, Ibu Prita sebagai pasien dan pihak yang dirugikan secara fisik dan uang malah dijebloskan ke penjara dan hingga saat ini masih mendekam di LP Wanita Tangerang sebagai seorang TAHANAN hanya dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Mereka sama sekali tidak memikirkan ulah semena-mena dokter-dokter mereka. Sudah dibuat menderita, di penjara pula.

Tragisnya pengalaman yang dialami Ibu Prita ini menunjukkan bahwa Rumah Sakit sebagai pusat layanan kesehatan yang seharusnya melayani dengan hati dan seharusnya mengutamakan keselamatan pasien daripada uang masih jauh dari yang diharapkan. Masih banyak penyimpangan-penyimpangan seperti yang dialami oleh Ibu Prita Mulyasari.

Begitulah jika jabatan hanya dijadikan sebuah kebanggaan dan alat untuk mencari uang bukan ketulusan pengabdian. Dari camat, bupati, polisi, hakim, dokter hingga Presiden sekalipun, jika semuanya hanya berorientasikan keuntungan (uang) maka semua urusan yang mereka emban takan pernah berbuah hasil yang baik dan ujung-ujungnya rakyatlah yang dikorbankan.

Mudah-mudahan Ibu Prita bersama keluarga diberi kesabaran dalam menghadapi semua ini. Kedzaliman dan semua kebobrokan itu akan dibalas dan pasti akan terkuak

Advertisements
Categories: Journally Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s