Home > Journally > Kufur Terhadap Demokrasi haram menurut demokrasi

Kufur Terhadap Demokrasi haram menurut demokrasi

Dalam sebuah kolom pakar surat kabar Media Indonesia edisi 27 Juli 2009, Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan bahwa ada dua jenis pesantren di Indonesia. Pertama, pesantren yang menganut Pancasila dan Demokrasi sebagai ideology final untuk mewadahi kemajemukan Indonesia. Dan yang kedua adalah pesantren yang menolak (kufur) kepada kedua ideology tersebut. Dalam tulisannya Abdul Moqsith Ghazali menekankan pemerintah untuk lebih memperhatikan perkembangan pesantren jenis kedua ini, karena dinilai dari sanalah individu-individu muslim militant dan mempunyai semangat jihad tinggi terlahir. Menurutnya Individu muslim seperti itu sangat berbahaya karena akan menggulingkan Demokrasi dan Pancasila sebagai ideology Indonesia.

Mari kita cermati surat Al Baqarah : 256. Dalam ayat tersebut Alloh memerintahkan kita untuk menolak (Kufur) terhadap semua aturan, system, ideology dan undang-undang selain Islam (Thogut).

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S Al Baqarah : 256)

Thogut adalah segala aturan, system, undang-undang dan ideology selain Islam. Dari ayat di atas mala timbul pernyataan. Apakah demokrasi dan ideology-ideologi lain selain Islam termasuk thogut? Dan apakah kewajiban kita sebagai orang-orang yang mengaku Muslim? Taat atau menolak (Kufur)??

Maka pembagian jenis pesantren oleh Abdul Moqsith Ghazali tadi adalah sebuah pengingkaran terhadap ayat diatas.

Tulisan itu beliau tulis sebagai komentar atas terjadinya ledakan bom di J.W Marriot dan Ritzh Carlton 17 Juli lalu. Bukan hanya dia saja yang mengecam tindakan terorisme yang telah menghilanglan nyawa umat Islam itu, tapi seluruh lapisan masyarakat beserta para tokoh Ulama pun mengecamnya. Tapi apakah harus semua pesantren yang mengajarkan Jihad (dalam arti yang sebenarnya) dan penolakan terhadap ideology selain Islam itu di hilangkan seperti keinginan beliau dan pengikut-pengikutnya di jaringan Islam Liberal??

Bukankah lebih berbahaya Islam Liberal (JIL) daripada Islam yang mengajarkan ajarannya secara keseluruhan termasuk Jihad?

Pertanyaan itu mungkin bukan untuk di pemerintah, karena sampai saat ini gerakan Islam Liberal yang sama bahayanya dengan Ahmadiyah justru bergerak lebih leluasa dibanding kelompok-kelompok Islam yang ingin menegakan Syariat?

Jangan memanfaatkan situasi yang tengah menyudutkan Islam ini dengan menanam benih-fitnah yang lebih keji, apalagi dari orang yang mengaku sebagai umat Islam sendiri.

Advertisements
Categories: Journally
  1. July 30, 2009 at 4:09 am

    Pengaku-ngaku Islam (MENURUT KITA) menuduh kitalah yang sebenarnya pengaku-ngaku Islam (MENURUT MEREKA) … Jadi seperti kita MERASA SAH, merekapun MERASA BENAR, bila menuntut meniadakan ISLAM AKU-AKUAN. Untuk KEMULIAAN ISLAM WAL MUSLIMIN aku mereka, begitu pula klaim kita. Begitulah kenyataan pahit di tubuh Islam. Sampai kapan ?!?

    (Jangan menjadi orang yang tidak tahu Islam. Belajar dan kerjakanlah Islam yang kamu telah ketahui!)

    • July 30, 2009 at 8:46 am

      kita tak menjadi presiden di negara demokrasi, hanya sebagai pembuktian bahwa demokrasi tidak mengindahkan makna dirinya sendiri…
      tanpa berhenti untuk belajar dan mengerjakan semua yang diketahui…

  2. Mintardjo
    August 3, 2009 at 6:40 am

    Telah menjadi kenyataan bahwa di era global saat ini dimana Dunia seakan tiada sekat dan pembatas, siapa yang menguasai teknologi, khususnya teknologi informasi maka dialah yang menguasai dunia, bukan hanya dunia saja yang bisa dikuasai dengan teknologi informasi, bahkan hati manusiapun bisa dikuasai.
    Teknologi informasi sepintas memang tidak menakutkan sebagaimana teknologi militer, namun kadang justru sebaliknya, informasi yang telah diolah sedemikian rupa dapat menjadi hiburan yang menyenangkan sehingga para penikmat ( pemirsa, pendengar dan pembaca ) tidak sadar bahwa dia telah dibawa menuju kesesatan.
    Aneh memang, dengan penguasaan teknologi informasi, apapun yang kita lihat dan kita dengar seakan itulah kebenaran, karena memang dengan penguasaan teknologi informasi, fakta dan berita bisa diputar balikkan, kebenaran bisa disampaikan sebagai kebohongan sebaliknya kebohongan bisa disampaikan sebagai kebenaran. Tidakkah media Barat mempunyai prinsip bahwa tidak ada berita yang jujur atau berita yang bohong, namun yang ada adalah berita yang cerdas atau berita yang bodoh, berita yang cerdas adalah berita yang tidak terbongkar kebohongannya sedang berita yang bodoh adalah berita yang terbongkar kebohongannya. Seorang penulis/penyampai berita yang intelak memang harus mengerti bahwa salah satu tugas nya adalah menjadi unsur perantara yang baik kepada pembacanya sekaligus dapat menggiring menuju opini yang ia inginkan. Ia memindahkan ide-ide yang berat menjadi sebuah artikel yang menarik dengan metode yang mudah dan cepat dimerngerti sehingga dipercaya oleh pembaca bahwa artikelnya merupakan kebenaran meskipun sebenarnya suatu kebohongan.
    Inilah kaum intelaktual yang tidak mempunyai aqidah atau mereka sengaja menjual aqidahnya kepada Kapitalis Barat demi uang dan kedudukan.
    Begitu mengerikannya teknologi infromasi, karena ternyata dampak negatifnya jauh lebih dahsyat dari pada teknologi militer, karena kalau teknologi militer hanya bisa menghancurkan materi, maka teknologi informasi bisa menghancurkan moral dan aqidah, tergantung ditangan siapa teknologi informasi dikuasai.
    Celakanya saat ini hampir semua teknologi, baik itu teknologi militer maupun teknologi informasi dikuasai oleh bangsa Barat/Amerika, sedangkan umat Islam sendiri hanya sebagai konsumen teknologi atau bahkan sebagai obyek dari teknologi. Lebih celaka lagi apabila ada lembaga/institusi berita yang menyampaikan berita/informasi meskipun itu suatu kebenaran namun tidak menguntungkan kepentingan Barat maka akan dibungkamlah lembaga/institusi tersebut dengan teknologi militernya, seperti halnya pengeboman kantor berita Al-Jazera oleh Amerika yang menayangkan berita apa adanya di Afganistan .
    Maka tidaklah mengherankan apabila dengan penguasaan teknologi informasi, mereka bisa membuat kita ( yang tidak beriman ) menjadikan Barat sebagai Tuhannya dan Bush sebagai Nabinya dan kenyataannya banyak saudara-saudara kita yang mengaku muslim mengidolakan mereka, dan menganggap semua yang dari Barat baik dan apa yang dikatakan Bush adalah kebenaran, padahal mereka adalah setan-setan yang telah memporak porandakan Dunia Islam, mereka telah memborbardir Negara-negara Islam, mereka telah mengadu domba umat Islam, mereka telah menyebarkan berbagai fitnah terhadap umat Islam.
    Jadi itulah yang dilakukan Barat terhadap Dunia Islam, menghancurkan Negaranya dengan teknologi militer dan menghancurkan moral/aqidahnya dengan teknologi informasi.
    celakanya pada saat ini diantara kita yang mengaku Islam/muslim masih banyak yang meragukan kemutlakan kebenaran isi Al-qur’an dan kebenaran ajaran yang disampaikan Rasulullah Muhammad saw, namun sebaliknya saudara-saudara kita tersebut justru lebih percaya dan patuh kepada mereka yang memusuhi Islam, khususnya Barat/Amerika ( dalam hal ini mewakili Yahudi dan Nasrani ), yang nota-benenya secara sistimatis dan kosisten mereka berupaya menghacurkan Islam, dan berusaha sekuat tenaga agar kita mau mengikuti keinginannya sebagaimana diingatkan oleh Allah dalam surat al-baqarah ayat 120, yang artinya : “ Yahudi dan Nasrani selamanya tidak akan rela sebelum kamu mengikuti agama mereka “
    Yang menyedihkan lagi, saudara-saudara kita tersebut bukan hanya patuh, tapi bangga menjadi anteknya, lebih menyedihkan lagi saudara-saudara kita tersebut bukan kaum awam, tapi justru sebaliknya, mereka katanya ulama yang sangat faham tentang Agama, mereka para penguasa ( yang ditangannya mempunyai kekuasaan untuk mengendalikan pemerintahan, menggerakkan ekonomi, menyebarkan informasi dan lain sebagainya ), mereka para elit intelektual yang karyanya banyak menjadi referensi umat.
    – saudara-saudara kita tersebut, yang katanya ulama berlomba membuat fatwa-fatwa yang menyesatkan umat : berapa banyak fatwa yang mereka buat justru menyesatkan umat, sebaliknya kemaksiatan, kemungkaran, kesyirikan dibiarkan seakan semua itu sebagai kewajaran yang tidak perlu dipersoalkan.
    – para Penguasa berupaya melegalkan berbagai macam kemaksiatan menumbuh suburkan kesyirikan : begitu banyaknya tempat-tempat maksiat dilegalkan dinegeri yang katanya mayoritas penduduknya beragama Islam ini, klub-klub malam, diskotik, tidakkah tempat-tempat tersebut merupakan tumbuh suburnya berbagai kemaksiatan, minuman keras, narkoba dan pelacuran ? begitu juga praktek-praktek perdukunan, aliran sesat yang menjurus kepada kesyirikan tumbuh subur tanpa ada tindakan tegas dari pemerintah.
    – para Pengusaha sebagai Pemegang Kendali Eknomi memperkokoh pratek-pratek monopoli sehingga yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, disamping itu mereka menebarkan berbagai racun pada umat, baik dengan produknya maupun sistimnya.
    Para pemilik media Televisi setiap hari, setiap jam, setiap menit, saling berlomba menyajikan tayangan-tayangan yang jorok/sadis dan tidak bermoral, bahkan sinetron-sinetron yang sebenarnya hanya berisi kekerasan, perkosaan, perselingkuhan, pelecehan bahkan kesyirikan, sengaja dibungkus dengan label agama agar terkesan religius, padahal sebenarnya semua itu adalah racun yang secara perlahan dan pasti merusak moral dan aqidah umat. Valentine day yang jelas-jelas budaya penyembah berhala sebagai hari kebebasan seks dan penghormatan atas kematian seorang kafir, dihidup-hidupkan dan diperingati sebagai hari kasih sayang, dan anehnya dengan berbagai propaganda yang dilakukan berbagai media, khususnya media TV, banyak umat Islam yang larut dalam kesesatan ikut merayakan dan memperingatinya, sebaliknya kematian ratusan ribu umat muslim yang tidak berdosa di Iraq, Afganistan Lebanon, dan Palestina akibat kebiadaban dan kebrutalan Amerika dan Israel dengan jutaan ton bom yang dijatuhkan ke Negara tersebut tidak pernah ada yang menggubrisnya. !!!!
    Begitu juga media komunikasi, telpon cellulair/handphone dan Internet, teknologi ini memang banyak memberikan kemudahan kepada kita, namun dampak negatifnya begitu luar biasa hebatnya, karena selain untuk komunikasi, teknologi ini juga banyak dipergunakan untuk penyebaran pornografi, arena perjudian terselubung berupa kuis dengan iming-iming berbagai hadiah, bahkan saat ini hampir semua stasiun TV berkolaborasi dengan operator telpon cellulair berlomba menyebarkan kesyirikan berupa ramalan-ramalan yang menyesatkan.
    Atau memang inilah yang memang dicita-citakan oleh media kita sebagai suatu kebebasan, kebebasan berkreasi meskipun melanggar nilai-nilai yang sebenarnya di Negeri kafirpun masih berlaku aturan dan batasan.
    Ada sebuah temuan menarik yang dilakukan oleh suatu lembaga survey di Jogja, dari hasil penelitiannya, sekarang ini para mahasiswa di Jogja ternyata lebih senang membeli pulsa dari pada buku pelajaran, tidakkah ini merupakan salah satu sebab merosotnya kwalitas pelajar/mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa, karena selain minimnya buku yang ia miliki, waktu belajarpun pasti tersita untuk main handphone, ini tentunya hanya salah satu contoh dari dampak negatif.
    – para elit Intelektual menebarkan berbagai fitnah dan kebohongan melalui berbagai media dengan berbagai artikel dan tulisannya yang berupaya menggiring umat menuju kesesatkan dengan menjadikan Barat sebagi Tuhan dan Bush sebagai Nabinya sehingga semua ucapan dan perilakunya harus diikuti karena dianggap sebagai kebenaran, dan orang-orang inilah yang sesungguhnya antek-antek sejati Amerika/Barat dalam perangnya terhadap umat Islam dengan menipu dan memperdayai umat.
    – dan semua yang mereka lakukan itu tujuannya hanya satu yaitu demi uang, meskipun mereka harus mengorbankan aqidah dan keselamatan umat manusia, mereka tidak perduli mana yang haram dan mana yang halal, mereka sudah benar-benar telah menjadi antek kaum kapitalis Barat.
    – dan anehnya lagi mereka itulah yang sekarang dipuja, dihormati dan menjadi panutan umat Islam ( ulamanya moderat, penguasanya toleran, pengusahanya kreatif, kaum intelaknya modern ).
    Sebaliknya saudara-saudara kita yang konsisten berusaha menegakkan syari’at Islam dan membela agama Allah justru dicaci, dihina, dan dicap sebagai manusia kolot, radikalis, ekstrimis bahkan teroris, inilah sebenarnya musibah terbesar umat Islam saat ini, bahkan Rasulallah Muhammad saw, telah mensinyalir sebagai salah satu tanda kiamat kecil sebagaimana sabdanya :
    “ Orang-orang fasik dihormati dan orang-orang mulia dihinakan “.
    Padahal dibeberapa ayat Allah juga sudah mengingatkan kepada kita, siapa sebenarnya Yahudi tersebut, dan kita juga tidak boleh memilih mereka menjadi pemimpin kita, sebagaimana cuplikan beberapa ayat tersebut dibawah ini :
    – Al-Baqarah ( II ) 96, yang artinya :
    “ dan sungguh-sungguh engkau dapati mereka orang-orang Yahudi itu, manusia yang paling serakah terhadap kehidupan duniawi, bahkan melebihi orang-orang musrik sendiri.
    – Al-Maidah ( V ) ayat 62, yang artinya :
    “ kamu lihat kebanyakan orang-orang Yahudi beradu cepat berbuat dosa dan pelanggaran hukum dan memakan sesuatu yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan”.
    – Al-Maidah ( V ) ayat 82, yang artinya :
    “ sesungguhnya akan kamu temukan orang-orang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musrik”.
    – Al- Maidah ( V ) ayat 51, yang artinya :
    “ Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memilih orang-orang Yahudi dan
    Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu memilih mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

    maka hati-hatilah terhadap babi-babi upahan yang sengaja mengorbankan akidahnya dan aturan Allah hanya demi uang dan popilaritas

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s