Home > Journally > Dibalik Sosok Kebanggaan Wanita Indonesia (Theosofis, pluralisnya seroang R.A Kartini)

Dibalik Sosok Kebanggaan Wanita Indonesia (Theosofis, pluralisnya seroang R.A Kartini)

Assalamualaikum. Wr. Wb

Mungkin dalam benak pembaca semua judul diatas terdengar ganjil dan controversial. Tetapi Insya Alloh saya akan menjelaskan bukti-buktinya berdasarkan jalan pikiran R.A Kartini dari sumber-sumber yang saya baca yang Insya Alloh dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sosok Kartini bagi kebanyakan masyrakat Indonesia khususnya perempuan adalah sosok seorang pahlawan perubahan, sosok pelopor emansipasi wanita Indonesia yang selalu dibangga-banggakan. Yang akhirnya pemerintah Indonesia pun menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Kartini dikenal karena sebagai seorang perempuan yang merasa haknya untuk mendapat pendidikan dibatasi. Setelah lulus dari sekolah elit orang-orang Eropa, Europese Lagere School (ELS) dari tahun 1885-1892. Di sekolah ini, Kartini banyak bergaul dengan anak-anak Eropa. Kartini tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya dikarenakan ia berasal dari keluarga priyayi Jawa, kultur mistis dan kebatinan yang sangat dipegang teguh. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan.

Kartini banyak bergaul dan melakukan korespondensi dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi, seperti J. H Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan oleh Snouck Hurgronye untuk mendekati Kartini. Ny Abendanon Mandri adalah seorang wanita kelahiran Puerto Rico dan berdarah Yahudi.

Tokoh lain yang berhubungan dengan Kartini adalah, H. H Van Kol (Orang yang berwenang dalam urusan jajahan untuk Partai Sosial Demokrat di Belanda), Conrad Theodore van Daventer (Anggota Partai Radikal Demokrat Belanda), K. F Holle (Seorang Humanis), dan Christian Snouck Hurgronye (Orientalis yang juga menjabat sebagai Penasihat Pemerintahan Hindia Belanda), dan Estella H Zeehandelar, perempuan yang sering dipanggil Kartini dalam suratnya dengan nama Stella. Stella adalah wanita Yahudi pejuang feminisme radikal yang bermukim di Amsterdam. Selain sebagai pejuang feminisme, Estella juga aktif sebagai anggota Social Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Dari korespondensi melalui surat menyurat dengan orang-orang Belanda itulah keyakinan Kartini menjadi terpengaruh. Ia dikenal sebagai penganut ajaran kejawen yang taat, namun hubungan yang ia jalin melalui surat menyurat itu juga merubah pandangan keyakinan Kartini. Islam memang agamanya, namun pemikirannya adalah Yahudi, Theosofi dan pluralism. Ini bisa dilihat dari kumpulan surat-suratnya diterbitkan oleh Ny Abendanon dalam buku Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Berikut surat-surat Kartini yang sangat kental dengan doktrin-doktrin Theosofi:

”Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. ” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).

”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna…” (Surat Kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain” (Surat 31 Januari 1903).

”Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain.” (Surat kepada E. C Abendanon, 31 Januari 1903).

”Ia tidak seagama dengan kita, tetapi tidak mengapa, Tuhannya, Tuhan kita. Tuhan kita semua.” (Surat Kepada H. H Van Kol 10 Agustus 1902).

”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902).

Dari surat-surat tersebut, sangat jelas bahwa corak pemikiran Kartini sangat Theosofis, yang di antara inti ajaran Theosofi adalah kebatinan dan pluralisme.

Mengenai keterkaitan dan hubungannya dengan Theosofi, Kartini mengatakan:

”Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Theosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Theosofi.” (Surat Kepada Ny Abendanon, 24 Agustus 1902).

Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Theosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.” (Surat Kepada Nyonya Abendanon, 15 September 1902).

Sebagai orang Jawa yang hidup di dalam lingkungan kebatinan, gambaran Kartini tentang hubungan manusia dengan Tuhan juga sama: manunggaling kawula gusti. Karena itu, dalam surat-suratnya, Kartini menulis Tuhan dengan sebutan ”Bapak”. Selain itu, Kartini juga menyebut Tuhan dengan istilah ”Kebenaran”, ”Kebaikan”, ”Hati Nurani”, dan ”Cahaya”, seperti tercermin dalam surat-suratnya berikut ini:

”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

”Kebaikan dan Tuhan adalah satu.” (Surat kepada Ny Nellie Van Kol, 20 Agustus 1902).

Itulah bukti bahwa pahlawan perempuan Indonesia yang satu ini ternyata tidak membawa misi mulia, tetapi justru menyesatkan masyarakat Indonesia jika dipelajari lebih dalam.

Jika seorang Muslim meniru orang Kafir, maka kafirlah ia pada saat itu juga. Tapi jika seorang kafir meniru Islam, ia tidak akan pernah menjadi seorang Muslim.

Wallohualambishowab…

Sumber : Artawijaya/voa-islam.com, buku Gerakan Theosofi di Indonesia

Advertisements
Categories: Journally
  1. Muslimah
    November 27, 2010 at 12:13 pm

    hmmmm i do not agree.

  2. April 21, 2011 at 2:50 am

    Teruslah mencri bukti tentan pahlawan emansiasi ini, agar semua masyrakat tahu bahwa tidak pantas beliau disebut Pahlawan

  3. Lily
    April 20, 2015 at 3:51 am

    Bukankah Kartini juga manusia yang tidak pernah luput dari alpa? Khusnudzon lebih mulia dan mengambil pelajaran yang baik pun tidak ada salahnya. Masih banyak ajarannya yang sejalan dengan Alquran, yakni tentang wanita yang harus memiliki pendidikan tinggi agar anak2nya mendapat pendidikan yang layak untuk bekal kehidupan mendatang. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

    • Lily
      April 20, 2015 at 3:53 am

      Maaf, maksud saya yang bisa luput dari alpa.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s