Home > News > Interview As-Sahab dengan Abu Dujanah Al-Khurosany rahimahullah

Interview As-Sahab dengan Abu Dujanah Al-Khurosany rahimahullah

As-Sahab: Insyaallah kita akan melangsungkan interview dengan al-akh dokter Abu Dujanah Al-Khurosany, yang akan segera melaksanakan amaliyah istisyhadiyah dengan target sangat strategis, yaitu tempat berkumpulnya para petinggi CIA di Khost Afghanistan, beserta para ahli yang bertanggung jawab atas pesawat tanpa awak yang digunakan untuk membunuh dan menakuti kaum musllimin di Afghanistan dan kabilah-kabilah.

Sebagai pembuka, kami meminta kepada dokter Abu Dujanah untuk memperkenalkan diri kepada kita dan menceritakan secara singkat tentang perjalanan jihadnya.

Abu Dujanah: Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Segala puji bagi Allah Robb semesta alam, sholawat dan salam kepada penghulu para nabi, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du:

Saudaramu ini adalah seorang hamba yang faqir, Abu Dujanah Al-Khurosany, datang dari Jordan. Umurku 32 tahun dan aku bekerja sebagai seorang dokter di Jordan. Sebenarnya awal mula perjalanan jihadku sudah berjalan semenjak lama, yaitu semenjak agresi Amerika ke Irak. Kami banyak berusaha untuk bisa sampai ke bumi jihad di Irak, tapi Allah mentakdirkan hal lain bagi kami. Kami menulis di berbagai forum dengan nama Abu Dujanah Al-Khurosany, dan aku dulu juga pernah menjadi seorang musyrif di forum Al-Hesbah -kita memohon kepada Allah agar segera mengembalikannya- menggunakan nama Malik Al-Asyja’y, ini adalah sekilas profil dari seorang hamba yang faqir. Aku pergi ke medan jihad pada tahun ini, di bulan ketiga tahun 2009 M.

As-Sahab: Akhi, ceritakanlah kepada kami secara singkat tentang kepergianmu dari Jordan menuju medan jihad dan tentang hal-hal yang mendukung hijrahmu.

Abu Dujanah: Pertama kali, saat kami melihat berbagai peristiwa yang menimpa Gaza, peristiwa yang sangat menyakitkan sekali, dan aku hampir tak bisa melupakan pemandangan yang kita lihat di saluran Al-Jazeera; saat itu para perempuan zionis melihat Gaza dibombardir pesawat-pesawat mematikan jenis F-16. Mereka menggunakan teropong menyaksikan kaum muslimin dibunuh, seakan-akan mereka sedang menyaksikan sebuah fenomena alam, atau seakan-akan mereka sedang menyaksikan pertunjukan layar lebar atau yang lain. Maka aku pun menulis sebuah makalah, yang merupakan makalah terakhirku, berjudul “Kapankah Kata-Kataku Akan Meminum Darahku?”. Alhamdulillah pikiran untuk berangkat berjihad semakin menguat, hingga suatu ketika Allah mentakdirkanku bermimpi; Aku bermimpi tentang syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqowy, seakan dia sedang berada di rumahku. Aku pun bertanya padanya: “Bukankah engkau sudah mati?”, dia menjawab: “Aku terbunuh, tapi sebagaimana yang kau lihat, aku hidup”. Saat itu wajahnya bagaikan rembulan di malam purnama. Dia terlihat sibuk mempersiapkan sebuah amaliyah. Aku pun berharap untuk memindahkannya ke tempat yang aman dan membawanya dengan mobilku ke luar. Aku juga berharap kiranya kami dibombardir hingga kami terbunuh bersama. Subhaanallaah.. dan seakan tempat yang aman itu adalah kesyahidan di jalan Allah. Selepas itu, aku meminta kepada salah seorang ikhwan untuk mencari orang yang memiliki ilmu menta’bir mimpi. Hasilnya adalah sebagian ikhwan mengatakan kepadaku: “Dengan izin Allah engkau akan berangkat berjihad di jalan Allah”. Sebagian lagi mengatakan kepadaku bahwa aparat keamanan akan memasuki rumahku. Aku rasa mimpi itu kini telah menjadi kenyataan, dan tafsirnya -dengan izin Allah- adalah aku akan pergi berjihad di jalan Allah dan aparat keamanan akan masuk ke rumahku untuk dipersiapkan sebagai amaliyah istisyhadiyah sebagai balasan terbunuhnya Abu Mush’ab Az-Zarqowy dan sebagai balasan atas terbunuhnya banyak ikhwan oleh pesawat-pesawat pengintai di Waziristan. Insyaallah ini adalah ta’bir dari mimpiku.

As-Sahab: Sekarang kita mulai membahas secara mendetail tentang perjalanan Antum dari Jordan ke bumi jihad. Bagaimanakah Allah memberikan nikmat ini kepada antum untuk melaksanakan amaliyah semacam ini?

Abu Dujanah: Ya. Sebenarnya, permasalahan ini bermula saat aparat keamanan Jordan masuk ke rumahku pada jam setengah dua belas, mereka datang dan mengetuk pintu rumahku. Lalu datanglah istriku dengan rasa takut, dia berkata padaku, “Ada aparat keamanan di luar”. Subhaanallaah.. aku pun sadar bahwa penangkapanku mulai dilaksanakan. Mereka datang dan mengambil perkakas komputer, menggeledah rumah dan menangkapku. Saat itu di surat penangkapan tertulis “memiliki material terlarang”, dan ini semua adalah bohong. Mereka selalunya berbohong, mereka membuat tuduhan palsu untuk menangkap seorang muslim. Mereka pun menangkapku dan mengirimku ke Wadi Sir, badan intelijen di Jordan. Demi Allah, tidak ada yang memenuhi pikiranku kecuali keterkaitanku di forum-forum dengan para ikhwan, aku pun merasa takut kalau saudaraku kaum muslimin -mujahidin yang aku cintai- diserang karena aku. Inilah yang terpikir olehku, tapi Alhamdulillah ini tidak terjadi. Allah telah membutakan penglihatan mereka. mereka berpotensi untuk mendapatkan informasi yang sangat-sangat penting tentang amal jihad, tapi Allah takdirkan lain. Setelah mereka menangkapku dan menginterogasiku, khususnya pada malam kedua, aku berdoa kepada Allah, dan tak ada satupun kekuatan manusia yang mampu menghalangi seorang hamba untuk berhubungan dengan Robbnya. Aku duduk berdoa kepada Allah agar menyelamatkanku dan memberikan keselamatan kepada mujahidin dari berbagai mara bahaya yang disebabkan olehku, dan agar aku tidak mendatangkan suatu bahaya kepada seorang  muslim pun. Saat itu aku berdoa kepada Allah: “Ya Robb! lebih baik aku mati di selku ini daripada aku menjadi sebab terjadinya mara bahaya terhadap seorang muslim”. Alhamdulillah, komandan intelijen ini -dia bernama Abu Zaid, dia bekerja dengan Abu Faishol di badan anti teror- adalah seorang yang sangat-sangat bodoh! Allah ‘azza wa jalla membuat makar melalui si bodoh ini, yang memintaku untuk bekerja sama dengan aparat keamanan untuk mengintai mujahidin di Waziristan dan Afghanistan. Maka mulailah langkah yang diusulkan ini; mereka mengusulkan aku pergi ke Waziristan dan Afghanistan untuk mengintai kaum muslimin. Yang mengherankan, yang  aku tidak mempercayainya adalah aku berusaha untuk pergi berjihad di jalan Allah tapi aku tidak berhasil, lalu datanglah laki-laki yang bodoh sekali ini mengusulkan aku pergi ke medan jihad. Itu adalah mimpi! Alhamdulillah itu semua menjadi kenyataan.

As-Sahab: Bisakah antum ceritakan tentang berbagai cara yang digunakan intelijen untuk merekrut  antum?

Abu Dujanah: Saat mereka menangkap seorang ikhwan dan berusaha untuk merayunya agar mau bekerjasama dengan mereka, mereka akan menawarkan iming-iming dunia dan mereka akan menawarkan kepadanya segala sesuatu. Terkadang mereka menggunakan argumen-argumen lemah, argumen-argumen palsu, misalnya mereka akan berkata kepada antum: “Malik Abdullah adalah bagian dari ahlul bait. Hubungan ahlul bait yang seperti apa? Abu Lahab adalah bagian dari ahlul bait!”. Ini adalah perkara yang dungu! Si penjahat ini berusaha mencuci otakku, dan sebaliknya -alhamdulillah- si dungu ini dipersiapkan untuk menjemput kematiannya.

Aku ingin mengatakan bahwa  aparat keamanan dan intelijen Jordan memiliki kepercayaan yang sangat kuat dengan dewa-dewa yang dungu, yaitu Amerika. Mereka percaya dengan dewa-dewa mereka dan percaya dengan harta yang datang kepada mereka. Subhaanallaah.. Saat keyakinan antum rusak, antum akan berpikir bahwa banyak orang lain akan berangkat dari keyakinan rusak yang sama. Mereka berusaha untuk merayuku dengan harta dan menawarkan kepadaku gaji hingga mencapai milyaran dolar, sesuai dengan target orangnya, khususnya petinggi Al-Qaeda di negeri Khurosan, kita memohon kepada Allah agar senantiasa melindungi mereka. Mereka menawarkan kepadaku uang milyaran dan itu bukan hanya sekedar omong kosong. Tapi semuanya atas persetujuan raja Abdullah yang kedua. Kami memiliki bukti bahwa ada seorang yang tahu dengan pasti tentang proyek ini dan mereka mustahil mengirimkan seseorang ke tempat tersebut kecuali dengan persetujuan si Abdullah kecil, yaitu raja Abdullah kedua. Mereka mengira bahwa lelaki ini (Abu Dujanah –ed) jika disodori harta kepadanya, maka dia bisa menyerah dari keyakinannya. Mereka mengira bahwa kita menyembah harta dan menyembah syahwat sebagaimana yang mereka lakukan. Mengherankan! Sangat mengherankan, engkau menawarkan kepada seorang yang memiliki sebuah makalah terakhir yang baru saja keluar, yang berjudul “Kapankah Kata-Kataku Akan Meminum Darahku?”. Seorang lelaki yang memiliki keinginan membara untuk meraih kesyahidan dan mentahridh umat untuk berjihad, bagaimana mungkin engkau mendatanginya dan dengan segala upaya engkau berkata kepadanya: “Pergilah dan intailah mujahidin?!”, si idiot ini tidak akan pernah antum temui kecuali di agen intelijen Jordan. Sebenarnya aku tahu bahwa mereka berusaha membujukku dengan harta. Dulu Abu Zaid mengajakku ke Safeway di Oman dan Carefour dan mentraktirku 200 dan 300 dinar. Si rusak ini mengirimkan nota ke tuannya, dan yang mengherankan adalah dia membelikan makanan untuk anjingnya dan mengirimkan nota lain seakan dia membelikan barang untuk si agen ‘Abu Dujanah’. Dengan kata lain, dia mencuri dari petingginya dan dari lembaganya. Semuanya terlihat sangat wajar: dia yakin bahwa antum benar-benar percaya agamanya! Dia mengira bahwa agamanya benar. Agamanya adalah syahwat, agamanya adalah harta. Tapi, sebenarnya setiap manusia yang memiliki keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla, kepada surga dan neraka, dia juga memiliki keimanan dengan keabadian dan keimanan bahwa terdapat “hari di mana manusia berdiri di hadapan Robb semesta alam”, bagaimana mungkin segepok harta dapat membuatnya menjual dien dan ikhwan-ikhwannya? Alhamdulillah, antum tidak akan pernah menjumpai seorang muslim yang di hatinya terdapat sebutir “laa ilaaha illallaah muhammadurrosuluulullaah” mau untuk menjual dien meskipun dihargai dengan seluruh harta di dunia ini.

As-Sahab: Pada saat agen Abu Zaid bergaul dengan antum dan berusaha untuk merekrut antum, apakah antum menemukan beberapa kejahatan yang melibatkan intelijen Jordan?

Abu Dujanah: Pertama, orang ini berusaha mengaturku untuk bekerjasama dengannya dengan menggunakan cara terang-terangan. Sebaliknya, aku bisa, dengan karunia Allah ta’ala di awal dan akhirnya, mempelajari kepribadiannya dan aku mulai memberinya pesan  tersirat berdasar pengamatantu atas kepribadiannya. Aku memperlihatkan kepadanya seakan aku ragu untuk pergi karena rasa takutku akan kematian hingga dia paham bahwa aku percaya dengan agamanya, yaitu harta. Aku memperlihatkan seakan aku meminta uang, pemberian dan hadiyah yang dia janjikan kepadaku hingga dia mengira bahwa aku percaya dengan diennya, yaitu harta. Aku duduk bersamanya dan aku menghabiskan waktu yang lama bersamanya di restoran. Kami makan satu hidangan seharga 50 dinar Jordan yang senilai dengan 70 dolar. Seiring waktu dia bercerita kepadaku tentang kondisi yang terjadi pada intelijen Jordan. Dia, Abu Zaid, bercerita kepadaku tentang bagaimana dia mengirim seorang komandan intelijen Jordan yang berbicara dengan logat Irak untuk ditanam di tempat-tempat kaum muslimin supaya dia menampakkan diri layaknya seorang mujahid yang mengajak orang-orang untuk pergi berjihad ke Irak. Kemudian di malam kepergian berjihad di jalan Allah mereka datang dan menangkap orang yang mereka ajak. Orang ini mengakui itu semua! Si dungu ini mengaku kepadaku dan berkata: “Jika kamu pergi dan kamu bunuh seorang komandan mujahidin, maka kamu akan menjadi orang terkemuka di Jordan, seperti Ali Borjak”. Menurut cerita Abu Zaid, Ali Borjak (direktur anti teror di Jordan) adalah orang yang bertanggung jawab atas terbunuhnya syaikh asy-syahid -nahsabuhu kadzalik- Abdullah Azzam di Peshawar dua puluh tahunan yang lalu. Setelah itu dia mulai mendapatkan pangkat yang tinggi hingga akhirnya dia menjadi direktur anti teror. Inilah yang dilakukan intelijen Jordan.

Jadi, intelijen Jordan adalah yang bertanggung jawab atas terbunuhnya syaikh asy-syahid biidznillah, kita mengharapkannya begitu dan Allah lah yang menghisabnya dan kita tidak mensucikan seorang pun di hadapan Allah, Abdullah Azzam. Merekalah yang berpura-pura menangis untuknya, dan merekalah yang membunuhnya dan merekalah yang menanam intel di dekatnya, menurut apa yang kami dapatkan dari komandan intelijen ini. Dan sebenarnya kami juga mendapatkan informasi lain, misalnya peran intelijen Jordan dalam pembunuhan Imad Mughniyeh, penanggung jawab militer Hizbullah. Intelijen Jordan adalah yang membunuh orang ini dengan cara yang sama; menanam intel. Dan inilah yang menjadi alasan mereka untuk mengirimku ke Waziristan dan ke Afghanistan. Mereka memiliki banyak catatan keberhasilan, misalnya; penjahat satu ini mengaku kepadaku bahwa mereka adalah yang membunuh Abu Mush’ab Az-Zarqowy. Badan intelijen Jordan adalah yang memberikan informasi strategis kepada Amerika tentang keberadaan Abu Mush’ab Az-Zarqowy, seperti yang dikatakan penjahat satu ini. Jadi, badan intelijen Jordan memiliki catatan-catatan yang mendorong mereka untuk memakai cara ini. Tapi dengan izin Allah, setelah amaliyah ini mereka tidak akan mampu berdiri, mereka takkan mampu berdiri selamanya! Balasan atas perbuatan mereka akan sangat dahsyat dengan izin Allah Robb semesta alam, mereka takkan melupakannya untuk selamanya. Aku memohon kepada Allah agar menepatkan bidikan kita.

As-Sahab: Bagaimanakah antum pergi dari Jordan ke Pakistan, dan siapakah yang membayar biaya safar?

Abu Dujanah: Sebenarnya intelijen Jordan -semoga Allah melaknatnya- yang memberiku banyak dana, mereka membelikan tiket untukku, mereka yang membantuku dalam memalsu sebagian dokumen penting untuk bisa mendapatkan visa ke Pakistan, oleh sebab itu aku datang ke Waziristan melalui bandara Peshawar. Setelah itu intelijen Jordan, dan seiring operasiku, mengirimkan ribuan dolar yang saat ini digunakan untuk membantu mujahidin dan untuk membeli material ini, yang dengan izin Allah akan kembali kepada mereka dalam bentuk kehancuran dan keruntuhan. Setelah kami tiba di Peshawar dan melakukan kontak dengan Mujahidin, kami sampai ke negeri Khurosan dengan aman. Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin, intelijen Jordanlah yang membiayai semua ini.

As-Sahab: Setelah antum sampai dengan selamat dan memberikan ghonimah untuk mujahidin, apakah antum berpikir untuk memutus hubungan dengan intelijen Jordan yang telah mengirim antum untuk memata-matai mujahidin?

Abu Dujanah: Sebenarnya, aku tidak memutus hubungan ini karena hubungan ini kenyataannya merupakan sebuah makanan yang diumpankan kepada intelijen Jordan, hubungan ini kenyataannya menjadi sebuah mangsa yang mahal. Dan ini adalah apa yang dipahami mujahidin di sini, di negeri Khurosan. Oleh karenanya pertama kali yang dilakukan adalah membentuk majlis syuro kecil untuk keperluan amaliyah ini. Langkah apapun yang dilakukan adalah hanya untuk menarik intelijen Jordan ke medan ini untuk menangkap mereka atau membunuh mereka dan memberikan pesan yang berlumur darah bahwa mujahidin, dengan izin Allah, mampu untuk menggunakan taktik yang sama sebagaimana taktik yang mereka pakai. Ini merupakan sebab pokok: bahwa terdapat mangsa yang mahal yang kami harapkan melalui hubugan ini, disamping harta, harta yang datang kepada kami sebagai ghonimah tanpa usaha berarti yang datang dari orang-orang lalai tersebut. Harta yang sama seperti harta yang didapat oleh ikhwan-ikhwan di Jazirah Arab saat mereka berusaha melakukan pembunuhan terhadap Muhammad bin Nayyif, harta yang sama. Ini adalah periode baru bagi mujahidin insyaallah, yaitu suatu periode yang menggunakan teknik-teknik intelijensi yang meniru bahkan melebihi aparat keamanan negara-negara kuat semisal Jordan dan Amerika dengan izin Allah Robb semesta alam. Ini adalah sebab pokoknya.

As-Sahab: Setelah antum memutuskan untuk terus melangsungkan hubungan ini dan berusaha menggunakannya untuk melawan mereka, lalu apa taktik yang antum gunakan untuk meyakinkan mereka bahwa antum memang sedang melakukan pengintaian terhadap mujahidin? Dan bagaimana antum bisa menutupi niat antum dari mereka, yang sebenarnya antum ingin menghancurkan mereka?

Abu Dujanah: Di atas segalanya adalah kebersamaan Allah ‘azza wa jalla dan perlindungan-Nya. Kebersamaan dan perlindungan Allah adalah yang memelihara manusia, dan alhamdulillah kami membuat makar kepada mereka dengan makar yang Allah berikan kepada kami. Allah ta’ala berfirman: “Dan mereka membuat makar, dan Allah pun bermakar. Dan Allah adalah pembuat makar terbaik”. Orang-orang kafir, makar mereka telah Allah halangi dari kami: Allah telah melindungi kami dari makarnya orang-orang kafir. Alhamdulillah, ini adalah sebab pokok: bahwa antum melihat kebersamaan Allah ‘azza wa jalla, dan aku yakin bahwa kami, mujahidin, melakukan beberapa kesalahan yang mungkin akan menyebabkan gagalnya amaliyah ini, akan tetapi Allah adalah sebaik-baik pemelihara. Sebenarnya kami duduk dan bermusyawarah bersama mujahidin. Pekerjaan yang pertama kali kami lakukan adalah memutus hubungan ini selama empat bulan hingga pada saatnya intelijen Jordan merasa bahwa orang ini (Abu Dujanah -ed) telah meninggalkan mereka, dan di saat dia kembali kepada mereka dan memberitakan kepada mereka bahwa kondisinya susah, maka mereka akan percaya begitu saja. Dan, alhamdulillah, inilah yang terjadi: kami memutus hubungan selama empat bulan kemudian kami kembali kepada mereka dengan membawa video yang memperlihatkan sejumlah petinggi mujahidin, hingga mereka mengira bahwa aku membocorkan video dan mengkhianati mujahidin. Alhamdulillah, makanan telah berada di tempatnya dan mereka sangat bergembira sekali. Video yang aku kirimkan, sebenarnya aku rekam menggunakan kamera milik mujahidin dan memang untuk tujuan ini, alhamdulillahi robbil ‘aalamiin. Kemudian setelah itu, kami memberikan informasi-informasi yang salah hingga dapat lebih mempermainkan mereka: informasi yang tidak mengandung esensi atau informasi yang salah. Misalnya, mujahidin akan melakukan amaliyah di suatu tempat, lalu kami memberi mereka informasi tempat lain hingga kami dapat melindungi mujahidin. Kami juga memberikan informasi yang valid, yang kami prediksikan bahwa musuh sudah memiliki informasi tersebut. Selang beberapa saat, badan intelijen Jordan dan si dungu Abu Zaid, yang Allah tundukkan untuk membantuku dalam amaliyah ini, yakin bahwa Abu Dujanah Al-Khurosany bekerja untuk mereka, dan sebaliknya kami dengan pertolongan Allah ‘azza wa jalla bekerja untuk menghancurkan mereka.

As-Sahab: Bisakah antum ceritakan kepada kami tentang rancangan amaliyah ini dan siapakah targetnya, dan pelajaran apa saja yang antum dapatkan dari persiapan amaliyah yang besar ini?

Abu Dujanah: Sebenarnya, target pertama adalah menangkap atau membunuh Abu Zaid di Peshawar. Ini adalah keputusan pertama yang dibuat, dan sebuah amaliyah sudah disiapkan untuk menangkap atau membunuh orang ini, dengan perkiraan jika dia melawan maka dia dibunuh. Namun, karena kondisi keamanan maka kami putuskan bahwa amaliyah ini mungkin sangat berbahaya untuk saat ini. Hingga Allah mentakdirkan suatu hal -sekarang ini intelijen Jordan terengah-engah, bukankah begitu? Mereka mengira bahwa ada seorang yang memberikan informasi tentang pimpinan jihad-, Allah mentakdirkan mereka datang dari tepi Afghanistan untuk melakukan pertemuan di Ghulam Khan, dan yang mengherankan adalah Abu Zaid dapat meyakinkan sekumpulan CIA yang bertanggung jawab atas urusan intelijen agar mereka datang ke Ghulam Khan! Sebenarnya, subhaanallaah, kami telah membuat suatu rencana, lalu datanglah hadiyah yang lebih besar, hadiyah dari Allah ‘azza wa jalla. Allah memberi kami mangsa  yang mahal dari orang-orang Amerika, dari CIA beserta bawaannya! Saat itu juga aku yakin bahwa cara yang paling jitu untuk memberikan pelajaran kepada intelijen Jordan dan CIA adalah sabuk istisyhad; kami gunakan material yang kami beli ini, ini adalah material C4 asli, untuk membunuh orang-orang kafir itu, para agen intelijen Amerika -mereka adalah para ahli intelijen-, dan juga Abu Zaid beserta orang yang hadir bersamanya.

Sebenarnya rencana ini tidak pernah dibuat, target awalnya adalah Abu Zaid, tapi kebodohan intelijen Jordan dan kebodohan intelijen Amerika yang menjadi sebab adanya mangsa yang mahal tersebut. Itu adalah nikmat dari Allah ‘azza wa jalla, dan ini adalah makar Allah “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya”, dan ini adalah tipu muslihatnya Allah ‘azza wa jalla. Demi Allah yang telah meninggikan langit tanpa tiang: sesungguhnya kegembiraan kami untuk dapat menghantam target semisal ini tidak dapat tergambarkan. Kami akan membalas, dengan izin Allah, untuk puluhan bahkan ratusan kaum muslimin yang terbunuh di tempat ini oleh segelintir kelompok thogut yang telah datang untuk menemui hamba yang faqir ini. Kita memohon kepada Allah agar menerima kita di ‘Iliyyiin.

As-Sahab: Kita kembali membahas soal intelijen Jordan yang murtad, dan kami meminta kepada antum untuk menceritakan kepada kami tentang cara kerja mereka dan tentang figur-figur sentral yang ada di dalamnya.

Abu Dujanah: Sebenarnya, kesatuan yang sedang digarap Abu Zaid, Abu Faishol, Abu Haitsam dan Ali Borjak ini dinamakan “Kesatuan Para Ksatria Kebenaran” -mereka adalah para ksatria kebatilan-, dan kesatuan ini mengurusi operasi-operasi luar untuk intelijen Jordan. Kantor mereka berderetan di lantai empat dari bangunan komandan-komandan intelijen Jordan. Jika antum pergi ke lantai empat, pada arah kanan akan antum temukan kantor Ali Borjak, aku bertemu dengannya di sana, dan pada arah kiri akan antum temukan sebuah kantor di pojok, itu adalah kantornya Abu Zaid, agak sebelahnya lagi akan antum temukan kantornya Abu Haitsam. Mereka adalah divisi yang bertanggung jawab atas proyek [anti-]jihad ini.

Sebenarnya, aku tidak ragu bahwa raja Abdullah kedua dan yang terakhir tahu tentang operasi ini. Bahkan, jika sekarang dia melihat video ini, dia akan berkata dalam dirinya: “Ya, Abu Dujanah benar”. Berbagai informasi disampaikan kepada raja Abdullah kedua secepat mungkin. Dan aku mendapatkan berbagai jaminan darinya, dari si zindiq ini, jaminan untuk menaikkan statusku dan menaburiku dengan kekayaan. Orang ini -Abdullah kedua- adalah yang bertanggung jawab atas operasi ini, atau dia memiliki keterkaitan langsung, karena Ali Borjak selalu memberi kabar kepada Muhammad Roqod, direktur intelijen Jordan. Dan Muhammad Roqod adalah tokoh kedua di Jordan, dia memiliki jalur telpon langsung dengan raja. Dia selalu memberikan berbagai informasi kepada raja Abdullah kedua. Oleh sebab itu, pukulan ini, dengan izin Allah, tidak hanya mengenai intelijen Jordania saja akan tetapi juga mengenai Abdullah kecil, Abdullah yang hina, sang thogut Jordan -semoga Allah melaknatnya-. Orang ini, dengan izin Allah, akan menjadi hina dan rendah di depan Amerika. Mereka pernah mengirim pesan untukku, mereka mengatakan: “Kami bangga denganmu, kami bangga denganmu”. Kenapa kalian merasa bangga? Apakah kalian menantiku untuk memata-matai mujahidin?! Insyaallah sekarang kalian akan menuai kerendahan dan aib di dunia sebelum kalian berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat, hari disingkapnya berbagai rahasia!

As-Sahab: Mungkin kami paham mengapa orang-orang kafir di intelijen Amerika dan Pakistan menyerang mujahidin di Afghanistan, akan tetapi apa yang mendorong para agen di pemerintahan Jordan untuk menyerang mujahidin yang tempatnya sangat-sangat jauh dari negara mereka?

Abu Dujanah: Pertama, ini adalah pekerjaan anjing-anjing sewaan. Saat seseorang membeli anjing, ia akan menggunakannya di tempat  manapun. Dan intelijen Jordan adalah ibarat anjing milik CIA dan politik luar Amerika. Apa kepentingan Ali Borjak si penjahat, saat ia masih menjadi petugas rendahan, untuk melakukan operasi pembunuhan Abdullah Azzam? Apa kepentingan intelijen Jordan dalam pembunuhan Imad Mughniyeh, penanggung jawab militer Hizbullah yang menganut Rofidhoh? Apa hubungan antara ini dan itu? Semuanya adalah kepentingan Amerika: mereka semua adalah anjiing-anjing Amerika. Di saat kami memberi mereka informasi yang salah, mereka merasa senang, lalu mereka membawa informasi itu kepada orang Amerika. Abu Zaid berkata kepadaku di dalam surat-suratnya, dan suratnya semuanya ada padaku: “Kamu telah mengangkat kepala kami! Kamu mengangkat kepala kami di hadapan Amerika!”, Allah Maha Agung. Siapa saja yang bekerja di intelijen Jordan, hingga para tukang masak dan sopirnya.. siapa saja yang bekerja di intelijen Jordan walau hanya sekedar bekerja di taman atau cuci mobil maka sungguh telah murtad dari dienullah. Darahnya lebih halal dibanding darah Amerika itu sendiri. Mereka semua adalah anjing-anjing sewaan.

As-Sahab: Apakah intelijen Jordan memiliki keterlibatan dalam operasi ini yang terjadi di sekitar mereka?

Abu Dujanah: Sebenarnya, intelijen Jordan dipercaya oleh orang-orang Amerika, sedangkan intelijen Pakistan tidak dipercaya. Yang kami ketahui, operasi ini berjalan tanpa sepengetahuan langsung intelijen Pakistan, karena intelijen Pakistan sangat rendah dalam pandangan Amerika untuk turut berperan dalam berbagai operasi di negaranya sendiri. Begitulah Amerika, tidak menghormati agen-agennya sendiri meskipun intelijen Pakistan sudah mempersembahkan pengkhianatan dan kekejian. Hanya saja Amerika melewati mereka dalam perkara ini karena Amerika bekerjasama dengan intelijen Jordan, yang dipandang Amerika lebih dipercaya daripada intelijen Pakistan. Bahkan dalam pandangan Amerika, intelijen Jordan lebih dipercaya daripada Mossad. Intelijen Jordan adalah badan yang paling dipercaya oleh CIA. Dan dengan izin Allah, intelijen Jordan akan mengirim material bom ini ke target. Intelijen Jordanlah yang membawaku dari rumahku, dengan karunia Allah di awal dan akhirnya, dan memudahkan bagiku jalan untuk pergi berjihad. Kemudian mereka mengirim uang kepadaku dan tersisa satu langkah terakhir: selang beberapa hari lagi insyaallah, kami akan pergi untuk bertemu di Ghulam Khan, mereka akan membawaku dengan helikopter. Sekelompok yang sama juga menantiku, dan dengan izin Allah kami akan membalikkan ketinggian mereka menjadi kerendahan. Dengan izin Allah ‘azza wa jalla pertemuan ini, yang tujuan sebenarnya adalah memberiku perangkat untuk menentukan beberapa titik,  akan menjadi tumpahan darah, kerobohan dan kerendahan atas intelijen Amerika dan Jordan.

As-Sahab: Kenapa memilih amaliyah istisyhadiyah dalam operasi ini dan tidak memilih menggunakan taktik peperangan lainnya?

Abu Dujanah: Sebenarnya, ketika kami bermusyawarah di majlis syuro bersama beberapa ikhwah, kami membahas cara yang bisa memberikan kerugian paling besar, korban maksimal dengan kerugian minimal. Dan ini selalunya yang terdapat pada amaliyah istisyhadiyah. Antum selamanya tidak akan pernah bisa mendapatkan jumlah kematian yang paling banyak dan syuhada’ yang sedikit -atau kerugian yang sedikit di barisan mujahidin- kecuali dengan amaliyah istisyhadiyah. Ini adalah nikmat dari Allah ‘azza wa jalla yang dikirimkannya kepadaku: nikmat yang turun dari atas tujuh langit yang menjadi kesempatan bagiku agar tulang belulangku berubah menjadi serpihan-serpihan, gigi-gigiku berubah menjadi serpihan-serpihan, untuk membunuh orang-orang jahat itu, para intelijen Amerika dan Jordan. Bagaimana mungkin aku menolaknya?! Sebenarnya ini adalah penawaran yang datang dari Allah dan hadiyah dari-Nya, hadiyah dari Allah ‘azza wa jalla, lalu bagaimana bisa aku melewatkannya? Bagaimana mungkin aku memperkenankan orang lain untuk melaksanakan amaliyah ini. Taruhlah misal orang lain mampu melaksanakannya.. tidak mungkin ada orang lain yang bisa melakukannya selainku, karena aku memiliki hubungan. Tapi kalau kita misalkan, demi Allah, aku tidak akan mengijinkan seorang pun untuk melakukannya setelah Allah memberiku nikmat “yang telah siap”, nikmat untuk membunuh mereka. Ada pesan lain: saat mereka mengira bahwa orang ini adalah intel, kemudian orang ini berubah menjadi granat, berubah menjadi roket, berubah menjadi bom, hal ini akan melemahkan ketetapan hati musuh dan mereka akan paham bahwa putra-putra dien ini tidak dan takkan pernah berkompromi dalam urusan dien untuk selamanya. Dien ini lebih berharga dari semua yang mereka miliki, alhamdulillahi robbil ‘aalamiin.

As-Sahab: Di akhir interview ini, apakah antum memiliki pesan yang ingin antum sampaikan secara khusus kepada mujahidin Jordan?

Abu Dujanah: Sebelumnya, aku ingin menyampaikan salamku kepada syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisy, kepada syaikh Abu Muhammad Ath-Thohhawy, dan kepada seluruh mujahidin di Jordan. Aku katakan kepada mereka: bersabarlah, demi Allah kami sudah tahu tentang intelijen Jordan dan kami tahu penjara mereka. Kami telah melihat bagaimana para agen intelijen menghalangi ikhwan kita untuk membaca al-quran dengan suara yang terdengar. Sampai membaca al-quran pun dilarang! Aku katakan kepada mereka, bersabarlah! Dan aku katakan: tidak ada solusi untuk kondisi di Jordan, tidak ada solusi selamanya, kecuali dengan berangkat ke bumi jihad, sampai kalian mempelajari dan mendatadaburi seni peperangan kemudian kalian kembali ke Jordan dan melakukan berbagai amaliyah. Janganlah kalian tidur, janganlah tidur, jangan sampai jihad kalian hanya sekedar jalur terbuka ke intelijen, pulang lalu pergi, pulang lalu pergi. Bukan, bukan demikian! Kalian harus menemukan jalan, jika kalian bilang “susah”, maka kesusahan itu tidaklah lebih berat dari kesusahan yang kuhadapi! Aku pernah dipenjara, menjadi tahanan yang remuk di intelijen Jordan. Dengan karunia Allah ‘azza wa jalla, Dia mengirimku dari penjara intelijen ke taman mujahidin di negeri Khurosan. Maka janganlah kalian berputus asa, dan ketahuilah bahwa agen intelijen Abu Zaid si musuh Allah mengejek kalian dan mujahidin. Dia berkata: “Mereka -sebagaimana kita bicara dengan logat kita- adalah orang-orang mansaf, memakan mansaf dan berbicara soal jihad dan tidak melakukan apa pun”. Kini tiba saatnya bagi kalian untuk membalas, kalian harus membalas untuk Abu Mush’ab Az-Zarqowy, tiba saatnya bagi kalian membalas untuk saudari kita Sajidah Ar-Risyawy. Bagaimana bisa antum merasa tenang sementara kalian tahu dia sedang berada di tangan thoghut Jordan? Tidakkah kalian bisa menangkap seorang intelijen Jordan? Tidakkah kalian mampu mengikatnya? Bunuhlah mereka dengan senjata, ikat mereka, jebak mereka, gunakanlah intelijen dan informasi yang berlawanan. Siapapun yang antum  ketahui, siapapun meski hanya seorang supir, maka culiklah dia dan bunulah agar menjadi amalan kalian di sisi Allah, hal itu lebih baik daripada kalian terus berada dalam cengkraman thogut-thogut itu. Jangan minta pendapat siapapun dalam membunuh intelijen Jordan, janganlah meminta pendapat satu orang pun, aku bertanggung jawab atas perkataan ini di hadapan Allah ‘azza wa jalla. Jangan sampai kalian meminta pendapat! Ini adalah pendapat ahlul ‘ilmi yang kami tanya, yang berada di sini dan sana: “Janganlah kamu meminta pendapat seorang pun dalam membunuh setiap orang yang bekerja di intelijen Jordan, meskipun mereka hanya sekedar tukang masaknya”. Sebagaimana juga salah seorang ulama mengatakan kepadaku, saat kami bertanya tentang intelijen Jordan: “Apakah darah mereka halal atau haram?”, dia berkata kepadaku: “Wahai putraku, siapa saja yang kamu lihat di jalanmu mulai saat terjadinya penangkapan hingga keluar, maka darahnya adalah halal. Siapapun yang kamu lihat dari para anjing-anjing aparat keamanan saat terjadi penangkapanmu hingga saat kamu dilepaskan, maka darah mereka halal”. Bunuhlah mereka! demi Allah Yang Maha Agung, darah mereka halal! Bunuhlah mereka dan dekatkan dirimu kepada Allah dengan darah mereka! Jangan sampai kalian meninggalkan mujahidin, janganlah kalian biarkan saudarimu Sajidah Ar-Risyawy.

Pada akhirnya kami hanya bisa berdoa dan mengatakan: Ya Allah yang menurunkan kitab, menjalankan awan, mengalahkan pasukan ahzab, kalahkahlah intelijen Amerika dan Jordan ya Allah.. Kalahkan dan goncangkanlah mereka ya Allah.. Ya Allah berilah kami tengkuk-tengkuk mereka ya Robbal ‘aalamiin… Ya Allah jadikanlah kami sebagai sebab kematian yang besar bagi mereka ya Robbal ‘aalamiin.. Ya Allah terimalah darah-darah kami.. Ya Allah terimalah kesyahidan kami ya Robbal ‘aalamiin.. Ya Allah terimalah darah-darah kami ya Robbal ‘aalamiin.. Ya Allah, ambillah darahku di hari ini hingga Engkau ridho, ambil darahku sampai Engkau mengampuniku ya Robbal ‘aalamiin… Dan akhir dari seruan kami, segala puji bagi Allah, Robb semesta alam.

Pesan Abu Dujanah Al-Khurosany

Aku memiliki sebuah pesan untuk saudaraku yang mulia, penulis ternama Luwais ‘Athiyyatullah -kita memohon kepada Allah agar menjaganya. Saudaraku tercinta, aku tahu pesanku ini akan sampai kepadamu, dengan izin Allah. Insyaallah engkau akan kembali menulis. Demi Allah, saudaramu para mujahidin merindukan tulisan-tulisanmu. Ya akhi, Allah telah mengaruniakan kepadamu kepiawaian menulis, maka janganlah engkau halangi mujahidin untuk merasakannya, janganlah engkau halangi ikhwan-ikhwanmu untuk menikmatinya. Aku memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikan pesanku ini sebagai sebab berubahnya pikiranmu, dan engkau tidak mengatakan: “Sekarang sudah ada orang yang menulis untuk jihad dan mujahidin”. Tidak demi Allah, tidak ada orang yang dapat menggantikanmu, dan setiap penulis masih saja bergantung pada Luwais ‘Athiyyatullah. Aku memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar engkau mau merespon panggilanku ini dan kembali menulis untuk menolong dien ini. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

Aku juga memiliki pesan untuk ibu kita yang mulia, Ummu ‘Imaarah, ibu dari Abi ‘Aina’ Al-Muhajir, yang telah melakukan amaliyah istisyhadiyah di Irak. Kami menulis sebuah makalah tentangnya berjudul “Ketika Abu ‘Auna’ Menikah dengan Bidadari”. Aku katakan kepadamu wahai ibu kami yang tercinta: “Insyaallah, anakmu, Abu Dujanah, sebentar lagi akan pergi bertemu dengan anakmu, Abu ‘Aina’. Dan insyaallah aku akan menyampaikan salammu, dan juga rasa cintamu. Aku akan memberitakan kepadanya tentang apa yang terjadi diantara kita, hingga ia akan merasa gembira denganmu, insyaallah”.

Advertisements
Categories: News
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s