Home > Journally > TUKANG SAYUR, SANG INSPIRATOR REVOLUSI TUNISIA

TUKANG SAYUR, SANG INSPIRATOR REVOLUSI TUNISIA

Tunisia adalah sebuah negara Arab Muslim di Afrika Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah. TUnisia berbatasan dengan Aljazair (Algeria) di sebelah barat dan Libya di sebelah timur. Di antara negara-negara yang terletak di rangkaian Pegunungan Atlas, wilayah Tunisia termasuk yang paling timur dan terkecil. 40% wilayah Tunisia berupa padang pasir Sahara, sisanya tanah subur.

Sebuah negara Republik sekuler yang merdeka dari Perancis pada 20 MAret 1956 yang dipimpin oleh Zine El Abidine Ben Ali atau lebih dikenal Ben Ali. Ben Ali naik ke tampuk kekuasaan melalui sebuah kudeta tak berdarah pada tahun 1987 untuk kemudian menjadi penguasa diktaktor selama kurun waktu 23 tahun.

Selama berkuasa, Ben Ali tiada hentinya melakukan kejahatan kepada umat Islam Tunisia yang hal ini menunjukkan bahwa dirinya memang seorang diktaktor sejati. Bahkan Ben Ali adalah seorang pendukung setia zionis Israel, dimana dirinya melarang rakyat Tunisia demo anti Israel bahkan melarang upaya pengumpulan bantuan untuk Muslim Gaza. 

Ben Ali juga seorang kaki tangan Amerika yang setia serta anti syariat Islam. Dia melarang jilbab, menutup masjid dan menugaskan polisi untuk selalu memata-matai masjid. Di tahun 1990-an Ben Ali mulai menangkapi kaum Muslimin yang memanjangkan jenggot di Tunisia- yang sebenarnya mereka ingin kembali kepada syariat Islam- melarang mereka ke masjid dan di tempat kerja dan lembaga-lembaga sekolah.

Ben Ali dan keluarganya teryata juga gemar mencuri kekayaan rakyat Tunisia sementara di waktu yang bersamaan rakyat Tunisia dibiarkan miskin, tak punya pekerjaan dan didzolimi setiap harinya. Banyak diantara rakyatnya yang bergelar sarjana namun sehari-harinya mereka hanya berkeliaran di kafe-kafe dan berjuang mencari nafkah di jalanan. Korupsi dan kolusi menjadi santapan sehari-hari pejabat Tunisia. Inilah bukti bobroknya pemerintahan Diktator Tunisia.

Kekejaman dan kesewenang-wenangan pemerintah ini dialami oleh seorang tukang sayur. Suatu pagi tanggal 17 Desember 2010 seorang penjual sayur di kota Sidi, salah satu kota di Tunisia yang juga merupakan Ibu Kota provinsi Sidi Bouzid mendapati gerobak sayurnya disita oleh petugas kepolisian setempat dengan alasan dia tidak punya izin untuk berjualan. Padahal Kantor Pemerintah setempat menyatakan bahwa tidak ada larangan untuk berjualan menggunakan gerobak di tempat tersebut dan sang penjual sayur pun sudah membayar 10 dinar Tunisia dan membayar lagi sekitar 7 dolar. Tetapi para aparat tetap menyita dan menghancurkan gerobak sayur tersebut sembari menampar, meludahi dan menghina almarhum Ayah tukang sayur tersebut di depan umum.

Tak terima dengan perlakuan para polisi tersebut, Sang tukang sayur pergi ke Kantor Gubenur untuk mengadukan apa yang dialaminya dengan harapan mendapat pembelaan. Namun sayang, gubernur menolak untuk menemui dan mendengar keluhannya. Sang tukang sayur pun kesal dan marah. Ia mengancam gubernur itu, “Jika Anda tidak mau melihat saya, Saya akan membakar diri saya!”.

Karena tidak ada respon apa-apa dari pemerintah, Kurang dari satu jam, tepatnya pukul 11.30 waktu setempat  dia menyiramkan bensin ke sekujur tubuhnya di depan kantor gubernur lalu membakar dirinya sendiri hingga menyebabkan luka bakar yang sangat parah. Sang tukang sayur lalu dilarikan ke Rumah Sakit di Kota Ben Arous dan dirawat di Pusat Luka Bakar dan Trauma. Setelah dirawat selama 18 hari, Alloh berkendak lain. Alloh memanggilnya pada tanggal 4 Februari 2011 pukul 17.30 waktu setempat. Sang tukang sayurpun meninggal dunia dan meninggalkan luka yang membekas di jiwa rakyat Tunisia. Dan membakar api amarah rakyat Tunisia untuk berontak dan menghancurkan kekejaman pemerintahnya.

Ben Ali, sang diktaktor sempat mengunjunginya ke Rumah Sakit pada tanggal 28 Desember 2010 untuk meredam api yang sudah membakar rakyat Tunisia. Namun, api di dada rakyat Tunisia sudah tidak bisa lagi dipadamkan, dan pada tanggal 14 Januari 2011, hanya 10 hari setelah Sang tukang sayur meninggal, kediktaktoran Ben Ali pun tergulingkan oleh sebuah intifadhah rakyat Mesir yang tertindas selama berpuluh-puluh tahun.

Bouazizi saat dikunjungi Ben Ali

Sebelum terguling, Keluarga Ben Ali melarikan diri ke luar negeri dengan membawa 1.5 ton emas yang bernilai 45 juta euro hasil penjarahannya terhadap rakyat miskin Tunisia selama 23 tahun. Setelah kediktatoran Ben Ali terguling, 33 anggota keluarganya di tangkap karena telah melakukan kejahatan terhadap rakyat Tunisia.

Siapakah Tukang Sayur itu?

Tarek el-Tayyib Mohamed Ben Bouazizi itulah nama tukang sayur itu. Ia lahir pada 29 Maret 1984 di Sidi Bouzid Sidi, 300 kilometer sebelah selatan ibukota Tunisia. Di daerahnya Bouazizi dikenal dengan panggilan Basboosa. Ayahnya seorang pekerja konstruksi di Libya dan meninggal karena serangan jantung ketika Bouazizi berusia tiga tahun. Bouazizi menempuh pendidikannya di sekolah negeri di desa Sidi Salah. Bouazizi melanjutkan ke perguruan tinggi hingga lulus dengan gelar sarjana.

Dia mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarganya, pekerjaan apapun akan lakukan. Tetapi sebagaimana jutaan warga Tunisia lainnya ia tidak bisa menemukan pekerjaan di negara yang hancur oleh korupsi, penindasan politik selama 23 tahun kediktatoran Presiden ben Elabidine Zine Ali. Muhammad Bouazizi, tidak seperti kebanyakan lulusan perguruan tinggi yang menginginkan pekerjaan dengan manajemen yang baik, ia lebih memilih berjualan sayuran dijalan-jalan di daerahnya. Lebih dari tujuh tahun Bouazizi berjualan sayur di daerahnya. Hingga peristiwa yang merubah negerinya itu terjadi.

Namun Bouazizi yang tangguh dan berani ini harus mengakhiri hidupnya dengan membakar dirinya sendiri sebagai bentuk perlawanan kepada sistem kediktatoran yang telah menyengsarakan diri dan rakyatnya selama 23 tahun.

Muhammad Bouazizi saat membakar dirinya

Lebih dari 5000 orang berpartisipasi dalam prosesi pemakamannya yang dimulai dari Sidi Bouzid, tempat dimana Bouazizi membakar dirinya sampai ke pemakaman Bennour Garaat, 10 mil dari Sidi Bouzid desa kelahirannya dimana Bouazizi dimakankan. Meskipun polisi tidak mengijinkan prosesi pelepasan Sang inispirator Revolusi Tunisia itu dimulai dari tempat Bouazizi membakar dirinya. Namun para pengantar jenazah Bouazizi meneriakkan “Selamat tinggal Mohammed, kami akan membalas. Kami menangis untukmu hari ini, Kami akan membuat mereka yang menyebabkan kematianmu menangis!”.

Sebelum Bouazizi meninggal, dia menulis pesan untuk Ibunya di status Facebooknya.

Status Facebook terakhir Bouazizi

“I will be traveling my mom, forgive me, Reproach is not helpful, i am lost in my way it is not in my hand, for give me if disobeyed words of my mom, blame our times and do not blame me, i am going and not coming back, look i did not cry and tears did not fall from my eyes, Reproach is not helpful in time of Treachery in the land of people, i am sick and not in my mind all what happened, i am traveling and i am asking who leads the travel to forget.”

‎‫مسافر يا أمي، سامحيني، ما يفيد ملام، ضايع في طريق ماهو بإيديا، سامحيني إن كان عصيت كلام لأمي، لومي على الزمان ما تلومي عليّ، رايح من غير رجوع, يزي ما بكيت و ما سالت من عيني دموع، ما عاد يفيد ملام على زمان غدّار في بلاد الناس، أنا عييت و مشى من بالي كل اللي راح، مسافر و نسأل زعمة السفر باش ينسّي‬ ‎‫محمد بو عزيزي‬

“Aku akan melakukan perjalanan ibuku, maafkan aku, Mencela itu tidak membantu, aku hilang dengan caraku bukan dengan tanganku, Maafkan aku jika aku tidak mematuhi kata-kata ibu, Salahkan zaman kita dan jangan salahkan aku, aku akan pergi dan tidak akan kembali, Lihat! Aku tidak menangis dan airmata tidak jatuh mataku. Mencela tidak membantu dalam waktu pengkhianatan ditanah orang, aku sakit tapi tidak dalam pikiranku semua apa yang terjadi,  aku bepergian dan aku minta yang memimpin perjalanan untuk melupakan. “

Bouazizi tidak pernah ingin menjadi pahlawan, ia tidak pernah ingin ketenaran apapun, dia hanya ingin memiliki kehidupan yang layak, dia tidak bisa hidup tanpa martabat. Kematiaanya telah menghidupkan jutaan orang Arab yang putus asa dibawah Kediktatoran para pemimpinnya. Ahmed Tharwat, seorang pembicara publik dan pembawa acara TV Amerika Arab Bel Ahdan di situsnya http://www.ahmediatv.com berkata, “Sebagai pesan dari revolusi Tunisia untuk para pemimpin Arab yang korup; “mulailah packing sebelum terlambat”. Revolusi Tunisia juga harus menjadi pelajaran untuk pemerintahan Obama; Tidak invasi, tidak ada perusakan 7000 peradaban, tidak ada pembunuhan ribuan orang dan tidak ada perang sektarian untuk membenarkan perubahan rezim! Ketika ini diserahkan kepada masyarakat sendiri itulah misi yang sebenarnya yang harus dicapai.”

Sungguh sebuah kisah yang mengiris hati, ketika seorang rakyat jelata rela mengorbankan dirinya di puncak kekecewaan dan kemuakannya sebagai rakyat yang selalu didzolimi pemerintahnya sendiri. Tapi justru dengan pengorbanannya itu, seluruh rakyat Tunisia terbakar jiwanya untuk melanjutkan perlawanan dan menggulingkan pemerintah Diktator tersebut.

Selamat jalan Bouazizi, semoga Alloh tidak mencatatmu sebagai manusia yang mati konyol. Semoga Alloh menjadikan kematianmu sebagai tamparan kepada seluruh umat Islam yang diam dibawah penguasan yang dzolim.

Dan semoga rakyat Tunisia menyadari bahwa setelah jatuhnya Diktator Ben Ali, Tunisia bukan kembali menjadi negara Sekuler yang akan melahirkan diktator-diktator baru tetapi Tunisia harus segera menegakan Syariat Islam

Wallohualam Bisshowab

sumber :

M. Fachry, International Jihad Analysis, arrahmah.com, “Revolusi Tunisia, Jihad Global & Saatnya Khilafah Islamiyah Memimpin Dunia”.

Ahmed Tharwat, Public Speaker, http://www.ahmediatv.com. “the story of Muhammad Bouazizi… it is an Arabic story”

wikipedia, “Death of Mohammed Bouazizi”

eramuslim.com

english.aljazeera.net

http://www.angryarab.blogspot.com

______________________________________________________

FOTO MOHAMMED BOUAZIZI

 

Advertisements
Categories: Journally
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s