Home > News > Fatwa Ngawur Qaradhawi Mengenai Bolehnya Berperang Bersama Pasukan Salibis

Fatwa Ngawur Qaradhawi Mengenai Bolehnya Berperang Bersama Pasukan Salibis

Sekitar Fatwa Qaradhawi Mengenai Bolehnya Berperang Bersama Pasukan Salibis

Mufti: Abu Bashir Al Thurthusi

Pertanyaan:

Wahai Syaikh kami barangkali Anda telah mendengar fatwa Qaradhawi mengenai bolehnya kaum muslimin Amerika ikut berperang bersama tentara Amerika melawan kaum muslimin di Afghanistan …Apa pendapat Anda mengenai hal itu …? Apa yang Anda nasihatkan bagi kaum muslimin terhadap saudara-saudara mereka di Afghanistan …? Semoga Allah membalas Anda kebaikan.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Sebenarnya tidak aneh ada beberapa fatwa ganjil seperti ini dari orang yang sesat menyesatkan ini –yang sudah maklum kebatilannya menurut agama secara pasti- …Akan tetapi yang lebih aneh lagi, sampai saat ini masih ada sejumlah kaum muslimin yang mendengarkannya …menganggap fatwanya (sebagai kebenaran) …dan saling berdebat untuk membelanya!

 

Adapun mengenai fatwa orang ini yang barusan disebutkan jelas sekali kebatilannya …Ini tidak ada kesamaran lagi di dalamnya, hal itu dari beberapa sisi berikut ini:

  1. Dalam fatwa tersebut di atas, ia lebih memilih loyalitas atas dasar nasionalisme …loyalitas terhadap kewarga negaraan daripada loyalitas terhadap aqidah dan agama …Lebih mendahulukan yang pertama daripada yang kedua …Dan ini adalah sebuah kekafiran, karena menabrak puluhan nash dalil yang mewajibkan mengikat loyalitas (wala`) dan bara` (berlepas diri) di antara kaum muslimin di atas dasar afiliasi terhadap aqudah dan agama …dan kaum muslimin bagaikan satu tangan menghadapi selain mereka meskipin saling berjauhan dan dipisahkan oleh berbagai negara …atau bermacam-macam kewarga negaraan, bahasa dan ras …! Itu adalah sebuah kekafiran karena mendasarkan wala` dan bara`kepada tanah air atau negara …dan karena tanah air itu sendiri selain Allah k …!
  2. dalam fatwanya, ia telah menghalalkan dan membolehkan apa yang diharamkan Allah Ta’ala –yang termasuk perkara maklum dari agama secara pasti …dimana ia telah membolehkan membantu kaum musyrikin yang jahat lagi melampaui batas dan ikut serta berperang bersama mereka melawan kaum muslimin karena alasan-alasan lemah jahiliyah yang tidak dianggap dalam agama kita yang lurus …Yaitu alasan karena afiliasi kepada tanah air dan kewarga negaraan! Ia tidak hanya sekedar membantu …bahkan menghalalkan membantu kaum musyrikin dalam melawan kaum muslimin… dan ini sebuah kekafiran yang lebih berbahaya dan jahat …karena terdapat kekafiran dari dua sisi: sisi membantu kaum musyrikin… dan sisi menghalalkan membantu kaum musyrikin dalam melawan kaum muslimin…!
  3. Kebimbangan dan keterombang-ambingan dirinya dalam menyikapi masalah ini secara khusus …Dari satu sisi ia menganjurkan kaum muslimin membantu kaum muslimin yang ada di Afghanistan …dan meminta mereka supaya jangan membantu Amerika dalam permusuhannya kepada Afghanistan … Namun dari sisi yang lain membolehakan kaum muslimin Amerika –jumlahnya ribuan, berdasarkan afiliasi mereka kepada tanah air- ikut serta berperang bersama dan di samping tentara Amerika yang telah memerangi dan melanggar kehormatan kaum muslimin dan anak-anak mereka di Afghanistan…! Dengan sikapnya tersebut ia di satu sisi membenci orang yang melawan dan mengharamkan penyerangan dan pelanggaran Amerika …Namun di sisi lain membenci orang yang menguatkan pelanggaran Amerika …Ia tidak bersama golongan yang pertama juga tidak bersama golongan yang kedua…Minimal ia bisa dikatakan sebagai seorang Zindiq dan Munafiq …dan bimbang, sebagaimana firman Allah l: “Mereka dalam Keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS. An Nisa [4]: 143).

Adapun kewajiban kaum muslimin terhadap saudara-saudara mereka di Afghanistan …Menurut saya:

Agar tetap bisa merealisasikan seluruh nash-nash syar’i yang berkaitan dengan masalah ini, maka wajib bagi seluruh kaum muslimin di muka bumi ini –semuanya tergantung kondisi, kemampuan dan kebisaannya- untuk memberikan pertolongan, bantuan dan pembelaan kepada saudara-saudara mereka kaum muslimin di Afghanistan …sebagaimana juga wajib bagi mereka membalaskan untuk saudara-saudara mereka kezhaliman permusuhan Amerika dan para sekutunya dengan seluruh sarana yang disyariatkan …-semuanya tergantung kemampuan, kekuasaan, dan tempatnya- …Ini adalah suatu kewajiban yang tidak seorangpun yang dibedakan di dalamnya … itu suatu yang sudah sangat jelas tidak ada kesamaran sedikit pun di dalamnya …Dan tidak diperselisihkan lagi bagi dua orang yang termasuk ulama mu’tabar (kapabel/diakui).

Sebagai tambahan dari Mimbar Tauhid wal Jihad (www.tawhed.ws): Fatwa Qaradhawi yang memuat tanda tangannya dan tanda tangan Thariq al Basyari, Haitsam al Khayyath, Muhammad Salim al ’Awa dan Fahmi Huwaidi. Dipublikasikan oleh Fahmi Huwaidi pada pendapat mingguannya (tajuk rencana) dalam surat kabar “Asy Syarqul Awsath” tertanggal 8 Oktober 2001, teks fatwanya adalah sebagai berikut:

Pertanyaan penanya memaparkan persoalan yang sangat rumit dan kondisi yang sangat sensitif, yang sedang dihadapi saudara-saudara kami tentara muslim dalam pasukan Amerika dan dalam pasukan-pasukan lainnya yang bisa jadi mempunyai kondisi yang serupa.

Menjadi kewajiban bagi seluruh kaum muslimin, menjadi satu tangan dalam menghadapi orang-orang yang melakukan aksi teror (menakut-nakuti) dan menghalalkan darah orang-orang yang tidak ikut berperang tanpa sebab syar’i. Karena Islam mengharamkan darah dan harta benda seorang muslim dengan pengharaman yang pasti dan jelas sampai hari kiamat. Karena Allah SWT berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الأرْضِ لَمُسْرِفُونَ (٣٢)

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (QS. Al Maidah [5]: 32). Siapa saja yang menyelisihi dalil-dalil syar’i yang menunjukkan akan hal itu maka ia adalah orang yang telah bermaksiat, berhak mendapat hukuman sesuai dengan jenis maksiatnya dan kadar kerusakan serta perusakan sebagai akibat dari perbuatan maksiatnya.

Wajib bagi saudara-saudara kita para tentara muslim dalam pasukan Amerika, menjadikan sikap mereka ini –dan dasar agamanya- sikap yang sudah dikenal teman-teman dan para pemimpin mereka dan agar mengutarakannya dengan terang-terangan dan jangan menyembunyikannya, ketika dengan sikap demikian ia telah ikut menyampaikan salah satu bagian penting dari hakikat ajaran Islam, yang telah lama dikaburkan gambarannya oleh banyak media massa atau diperlihatkan tidak sesuai dengan hakikat aslinya.

Seandainya peristiwa-peristiwa terorisme yang terjadi di Amerika/United States of America (USA) disikapi sesuai dengan dalil-dalil syar’i dan kaidah-kaidah fiqih, maka hukum yang pas terhadap peristiwa-peristiwa tersebut adalah hukum kejahatan perampokan yang tercantum dalam surat Al Maidah ayat 33 – 34.

Karena itu, kami memandang sangat perlu mencari pelaku sebenarnya kejahatan-kejahatan tersebut dan orang-orang yang ikut serta di dalamnya dari sisi pemberian semangat, pendanaan dan pemberian bantuan, dan mengajukannya kebenaran pengadilan yang obyektif, yang bisa menjatuhkan hukuman yang pantas dan membuat jera mereka dan orang-orang semacam mereka  dari kalangan orang-orang yang menganggap remeh kehidupan orang-orang tidak berdosa dan harta benda mereka serta orang-orang yang melakukan teror bagi keamanan orang-orang tidak berdosa tersebut.

Ikut serta dalam program itu dengan segala cara yang memungkinkan, sebagai perwujudan firman Allah SWT:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ (٢)

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah.” (QS. Al Maidah [5]: 2). Semua itu merupakan kewajiban kaum muslimin.

Akan tetapi kesulitan yang menimpa para tentara muslim dalam memerangi kaum muslimin yang lain. Sumber kesulitan itu adalah dalam perang tersebut sangat sulit –atau mungkin mustahil- membedakan antara pelaku kejahatan sebenarnya yang menjadi target serangan, dan antara orang-orang yang tidak berdosa berkaitan dengan apa yang sedang terjadi. Sumber yang lain adalah ada hadits Nabi yang shahih mengatakan: Apabila dua muslim saling berhadapan dengan membawa pedang masing-masing, lalu yang satu membunuh yang temannya tersebut, maka si pembunh dan terbunuh sama-sama masuk neraka. Rasulullah SAW ditanya: Ini untuk si pembunuh kami setuju, lalu bagimana dengan si terbunuh kenapa juga masuk neraka? Beliau menjawab: Karena ia telah berniat ingin membunuh temannya tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kenyataannya, hadits mulia tersebut mencakup keadaan yang seorang muslim masih mampu menguasai dirinya sehingga ia bisa bangkit ikut berperang atau bisa tidak ikut berperang. Sebaliknya hadits tersebut tidak mencakup keadaan yang seorang muslim menjadi seorang warga negara sekaligus seorang tentara reguler bagi sebuah negara, yang otomatis ia berkomitmen terhadap seluruh perintah yang ditujukan kepadanya, kalau tidak berkomitmen maka loyalitasnya kepada negaranya perlu diragukan dan bisa merakibatkan banyak bahaya bagi dirinya atas perbuatannya tersebut.

Setelah itu menjadi jelas kesulitan yang disebabkan nash hadits shahih tersebut, bisa jadi ia tidak ada, dan bisa jadi dimaafkan di samping bahaya umum yang mengancam seluruh pasukan muslim dalam pasukan Amerika, bahkan di seluruh wilayah negara Amerika secara umum, jika loyalitas mereka kepada negara yang mereka menjadi  warga negaranya menjadi diragukan. Padahal negara masih memberi kesempatan mereka menikmati hak kewarga negaraannya sehingga wajib baginya untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya sebagai warga negara.

Adapun kesulitan yang disebabkan karena perang yang di dalamnya tidak bisa membedakan target serangan, maka wajib bagi seorang muslim berniat dalam keikut sertaannya dalam perang tersebut demi menegakkan kebenaran dan memusnahkan kebatilan. Dan perbuatannya diniatkan juga untuk ditujukan menghalangi tindak kezhaliman terhadap orang-orang yang tidak berdosa atau menangkap para pelaku kezhaliman tersebut untuk diajukan ke pengadilan. Selain tujuan-tujuan tersebut, keikut sertaannya dalam perang akan menimbulkan problema pribadi, karena ia sendiri tidak bisa menghalangi dan merealisasikannya. Padahal Allah Ta’ala tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya dan sudah menjadi ketetapan menurut para pakar fiqih, setiap kewajiban yang tidak mampu dilakukannya sementara kewajiban itu tidak gugur darinya maka ia tidak dibebankan untuk menunaikannya. Tetapi seorang tentara muslim Amerika dalam kondisi seperti ini merupakan bagian dari keseluruhan kaum muslimin Amerika, yang seandainya ia keluar dari ketaatannya kepada para komandannya akan mengakibatkan bahaya bagi dirinya dan jamaah kaum muslimin di negaranya, yang bahaya tersebut lebih besar dibanding bahaya yang diakibatkan apabila ia ikut serta dengan perang.

Sedangkan kaidah-kaidah syar’i menetapkan “apabila ada dua bahaya maka harus dilanggar yang paling ringan”, apabila keengganan kaum muslimin Amerika untuk ikut serta dalam perang dalam barisan pasukan mereka akan mengakibatkan bahaya seluruh kaum muslimin di negara mereka –padahal mereka berjumlah jutaan- sementara pada saat yang sama perang tersebut juga akan menyebabkan kesulitan atau gangguan rohani dan psikologis maka “bahaya khusus harus ditanggung/dilanggar demi menghindari bahaya yang umum/merata” sebagaimana ditetapkan kaidah fiqih yang lain.

Apabila tentara muslim dalam pasukan Amerika mampu mengajukan permohonan hanya sekedar membantu –untuk sementara waktu dalam perang yang hampir terjadi- di barisan belakang untuk bekerja sekedar membantu mempersiapkan ransum jatah makanan bagi tentara di barisan depan dan pekerjaan yang serupa –sebagaimana ada dalam pertanyaan- tanpa menyebabkan kesulitan dan bahaya bagi dirinya dan kaum muslimin Amerika lainnya  maka tidak mengapa bagi mereka untuk mengajukan permohonan tersebut. Namun apabila permohonannya tersebut menyebabkan bahaya dan kesulitan yang nampak dalam loyalitas mereka yang diragukan, akan mendapat pesangkaan buruk, yuduhan batil, mengganggu masa depan pekerjaannya, atau membuat keraguan mengenai rasa nasionalismenya dan bahaya serupa lainnya maka ketika itu ia tidak boleh mengajukan permohonan itu.

Ringkasnya, tidak mengapa –insya Allah- bagi tentara muslim untuk ikut serta berperang dalam perpempuran yang potensial akan menghadapi orang-orang yang “dikira” melakukan tindak terorisme atau orang-orang yang menampung para pelaku tindak terorisme dan yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk berlatih dan bertolak dari negara mereka, dengan selalu menjaga niat yang benar sesuai penjelasan kami di atas, demi untuk menghindari syubhat apa pun yang kadang bisa mengenai mereka dalam loyalitas mereka terhadap tanah air mereka dan demi mencegah bahaya yang kemungkinan besar terjadi serta karena mengamalkan kaidah-kaidah syar’i yang menyatakan bahwa kedaruratan bisa membolehkan untuk melakukan hal yang diharamkan dan yang kaidah-kaidah syar’i yang mewajibkan melanggar bahaya yang lebih ringan untuk menghindari bahaya yang lebih besar.Wallahu Ta’ala A’lam wa Ahkam.

 

Rabu 26 Maret 2008 pukul 06.30 WIB

Alih bahasa: Shobuur

Sumber:  xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Advertisements
Categories: News
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s