Mengkaji Kembali Demokrasi

34 peserta pemilu 2009 telah siap bertanding. Tiga puluh empat lo… ini masih tidak seberapa dibanding pemilu 04 yang mengikutsertkan 48 partai. Bagaimana masyarakat kita ini tidak bingung? Dengan bendera yang berbeda, dengan keadaan yang berbeda-beda namun untuk satu tujuan, yaitu menjunjung tinggi demokrasi dan memperbaiki keadaan bangsa ini. Apa yang sebenarnya mereka cari dari perlombaan memimpin yang diadakan setiap 5 tahun sekali ini?? Yaa..betul sekali, jawabannya adalah mencoba memimpin bangsa ini dengan cara dan gaya mereka sendiri. Sebuah jawaban yang takan lagi di perdebatkan, karena setiap calon telah mengumbar strateginya untuk membuat bangsa ini lebih baik lagi. Masing-masing kelompok membangga-banggakan kelompoknya sendiri dan menjelek-jelekan kelompok lain, mengkritisi kinerja pemerintahan yang sudah ada, berharap massa bisa simpati dan memilihnya untuk memimpin.

Tidakkah kita lihat sebuah kekonyolan dalam sistem ini? Kekuasaan di buat suatu perlombaan, di biarkan untuk diduduki siapa saja yang menjadi pemenang. Padahal kita tahu bahwa memimpin adalah sebuah tugas yang amat sangat berat. Butuh tangung jawab bukan keistimewaan, butuh pengorbanan bukan fasilitas, butuh kerja keras bukan santai, butuh kewenangan melayani bukan sewenang-wenang, butuh keteladanan dan kepeloporan bukan pengekor, butuh keberanian dan  keilmuan bukan hanya keinginan. Sudah adakah calon2 pemimpin kita yang mendekati kriteria tersebut, atau mereka masih sibuk mempromosikan diri sendiri, mengumbar janji-janji atau mendeskripsikan sisi baik diri sendiri yang di terkesan mengada-ada? Apakah sifat-sifat seperti itu termasuk sifat seorang pemimpin? Jelas tidak, sifat-sifat itu adalah sifat takabur yang dibenci Alloh SWT. Mereka telah memberi janji-janji yang besar untuk bangsa ini, padahal kata Alloh “Janganlah kau berjanji jika sekiranya tak mampu menepatinya”. Dan sampai saat ini adakah sedikit janji yang terbukti dari sekian banyak janji yang di umbar oleh para pemimpin dan calon pemimpin kita ini? Yang ada hanyalah bangsa ini semakin terpuruk dan menuju kehancuran. Mereka itulah orang-orang munafik yang salah satu cirinya adalah dimana mereka berjanji, maka janji itu tidak mereka tepati. Seperti inilah kondisi bangsa kita saat ini.

Sebenarnya bukan itu pokok masalahnya, tetapi patut dipertanyakan apakah demokrasi bisa membawa negara dan dunia ini menjadi lebih baik? Para pemimpin ini sebenarnya telah membodohi diri sendiri. Mereka seolah memaksakan diri untuk terus mencari jalan dalam memperbaiki mobil-mobilan rusak ini. Kita dipaksa untuk mendorong nya hingga mendapat turunan tajam dan ia bisa melaju dengan sendirinya hingga terhenti kembali.

Demokrasi adalah rangka beroda tanpa mesin. Dia selalu membutuhkan dorongan massa agar ia terlihat seperti berjalan layaknya kendaraan bermotor. Padahal ia hanyalah sebuah rangka body yang telah dikemas begitu hebatnya hingga terlihat seolah memang kendaraan selayaknya. Maka akan tetap seperti itulah jadinya apabila manusia terus mencoba membuat aturan, sistem, hukum dan Undang-undang selain aturan Alloh SWT. Jangan pernah salahkan masyarakat dengan berkata “demokrasi masih di salah artikan” atau “masih banyak orang yang belum memahami arti demokrasi yang sesungguhnya”. Karena demokrasi itu sendiri adalah paham yang patut dipertanyakan kebenarannya dan tidak ada ketentuan yang solid mengenainya.

Negara kita telah beberapa kali membuat perubahan hukum dan undang-undangnya. Itu menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan dibalik hukum dan undang-undang itu sendiri. Jika begitu apa jadinya dengan orang yang telah melakukan kesalahan karena melanggar hukum di masa lalu dan saat ini hukum itu berubah atau dihilangkan? Ironis memang, sistem pemerintahan yang agak aneh dan membingungkan ini masih saja di perdebatkan, orang-orang masih saja terus-terusan mencari jalan keluar untuk membuat rangka kendaraan ini menjadi lebih baik. Padahal mereka pun menyadari bahwa telah ada sistem yang solid dan utuh serta terjaga kesakralannya. Mereka tahu ada kendaraan yang bagus dan indah, hanya tinggal menjalankannya saja, tak perlu mendorong-dorongnya.

Apabila kita melongok ke belakang soal asal mula demokrasi, kita dapat mengetahui sistem ini adalah anak dari liberalisme kapitalisme dan humanisme. Sebagai satu pandangan dunia dan ideologi, istilah ini tidak bisa dilepaskan dari 1) filsafat materialisme, yang menjadikan materi (kebendaan, empirisisme atau kenyataan inderawi) sebagai ukuran kebenaran, dan 2) anthroposentrisme (humanisme), yang menempatkan manusia dan rasionalisme sebagai sumber dan ukuran kebenaran, dan demikian pula hukum. Pada garis besarnya, demokrasi yang berasal dari humanisme ini berkembang menjadi dua cabang besar, yakni, 1) demokrasi liberal, yang bersendikan liberalisme dan berdasarkan individualisme, dan 2) demokrasi sosial dan demokrasi kerakyatan (people’s democracy) yang bersendikan sosialisme (http://jkuorg.blogspot.com/2007/05/adakah-demokrasi-dalam-islam.html).

Namun saat ini demokrasi telah menjadi suatu paradigma tentang sebuah keeputusan yang sangat bijaksana dan adil karena pengertiannya itu. Padahal didalamnya terdapat isme-isme berbahaya yang dapat membuat kita melupakan sisi spiritual kita dengan Tuhan yang telah menciptakan kita dan seluruh semesta ini. Demokrasi telah menciptakan disintegrasi dan konflik-konflik horizontal di berbagai negara. Pemilihan kepala daerah telah banyak menciptakan huru-hara. Saling melecehkan antar pendukung bahkan lebih dari itu. Apa bukan bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa demokrasi itu bukan solusi. Bahkan bisa dikatakan sebuah tragedi. Dimana demokrasi telah membuat Irak porak poranda, pembantaian FIS di Aljazair, pemboykotan HAMAS oleh Amerika dan Israel hingga sampai saat ini HAMAS belum merasakan kemenangan atas keikutsertaannya dalam panggung demokrasi yang diusungkan musuh-musuhnya, padahal HAMAS menang telak atas ritual demokrasi itu.

Kebebasan dalam demokrasi

Kebebasan berpendapat sering disebut keunggulan dan nilai luhur dalam demokrasi. Dalam kenyataannya tetap saja terdapat banyak pembatasan-pembatasan atau pun larangan pendapat apabila pendapat tersebut bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Atas nama sekulerisme yang merupakan salah satu asas dari demokrasi pelarangan jilbab kini merebak di negara-negara Eropa. Kelompok-kelompok Islam yang bergerak dalam demokrasi pun selalu dihambar pergerakannya. Dengan kenyataan seperti itu, kebebasan dalam demokrasi bisa di artikan kebebasan manusia dalam bertingkah laku. Free sex, narkoba dan penyimpangan-penyimpangan sosial lainnya justru tidak di tindak secara tegas dan cenderung dibiarkan. Tetapi apa yang dilakukan demokrasi kepada gerakan-gerakan Islam? Gerakan-gerakan yang justru akan menegakan nilai-nilai kebenaran malah di basmi, di persulit ruang geraknya, di tangkapi dan ujung-ujungnya di hilangkan.

Apakah kita masih berharap bahwa sistem ini dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik?

wallohualam bis showab..

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s